Cinta dan Perang di Langit Bekas Soviet

Oleh: M. Ardhiansyah

Invasi Russia ke Ukraina menjadi pusat perhatian dunia. Memang hal itu lumrah, mengingat Russia adalah negara terkuat ke 2 setelah Amerika Serikat (AS). Bisa dikatakan juga Russia adalah musuh bebuyutan AS.

Ukraina hanya negara menengah (jika tidak patut disebut kecil). Namun NATO yang dikomandani AS condong memihak ke Ukraina. Bahkan terang terangan AS dan sekutunya bakal melakukan embargo Ekonomi ke Russia. Ini tentu sudah jamak diketahui publik.

Namun hal yang mungkin terlupakan adalah bahwa jauh sebelum perang Russia VS Ukraina meletus, banyak kalangan intelektual dunia membuat semacam teori bahwa perang konvensional dengan pengerahan militer bersenjata sudah tidak relevan dengam era digital sekarang.

Pasca berakhirnya Perang Dunia II (1939-1945) memang perang konvensional bisa dikatakan tidak populer lagi, terutama semenjak Perang Dingin (Cold War) usai ditandai dengan jatuhnya Uni Soviet. Muncul beberapa model perang baru sebagai reaksi atas dinamika politik sebelumnya, antara lain proxy war (perang boneka, atau perang perwalian) misalnya, atau hybrid war (perang kombinasi), asymmetric warfare (perang asimetris), currency wars (perang mata uang), dan lain sebagainya.

Memang sebelum Invasi Russia ke Ukraina banyak juga perang bersenjata. Misalnya perang antara Palestina dan Israel. Atau perang bersaudara di Afghanistan yang kini telah dikuasi Taliban.

Tentu perang-perang di negara itu tidak berimbas kepada negara-negara lain di dunia karena bukan perangnya para adidaya dunia.

Hubungan tegang antara AS dan Russia sejak bertahun tahun lamanya memang tidak berakhir dengan perang bersenjata. Kedua negara adi daya itu paling perang mata uang atau perang dagang.

Namun, ketika ekspansi NATO ke eropa kian menjadi-jadi, Russia mulai geram. Merasa tuntutannya dilecehkan, terlebih ketika Ukraina ingin mendaftar menjadi bagian NATO, Russia kian meradang. Sebenarnya perseteruan antara Russia dan Ukraina yang sama sama bekas unisoviet itu sudah lama, namun kemudian berdamai. Ketika kini kembali berseteru tentu apapun alasannya adalah karena sudah tak ada lagi kata-kata yang didengarkan keduabelah pihak.

Itu persis seperti quote dari Margaret Atwood,

“War is what happens when language fails.”

Russia dan Ukraina hanya contoh besar. Contoh sedang (karena kurang disorot dunia) misalnya perang abadi Israel vs Palestina dan perang-perang di belahan negara lain. Contoh lebih kecilnya bisa jadi di setiap negara yang ketika penguasanya tak lagi mendengarkan kata-kata yang mewakili hati nurani rakyatnya. Ya, barangkali tidak ada perang bersenjata, tapi ada perang Medsos, perang saling menjatuhkan. Perang saling menipu. Perang pencitraan yang mengorbankan rakyat kecil.

Perang apapun yang pasti menjadi korban adalah rakyat kecil. Sulit nampaknya mewujudkan harapan agar tak ada lagi perang di dunia ini. Terlebih banyak orang beriman yang percaya akan adanya perang akhir jaman.

Entahlah, barangkali memang antara perang dan damai sebenarnya seiring sejalan seperti kata George Orwell,

“War is peace. Freedom is slavery. Ignorance is strength.”

Apapun sikap kita dengan perang Russia vs Ukraina atau perang-perang di negara lain, yang pasti tak ada satupun manusia normal di dunia yang tidak mencintai perdamaian. Idealita itu tak mungkin bisa dirubah atau dipungkiri. (*)

*Penulis adalah lulusan perguruan tinggi di Jogja yang belum bekerja, saat ini tengah belajar menulis di komunitas Kata Mata Jogja.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.