Rich lalu Crazy: Belajar dari Proses Instan yang Merusak Tatanan

Oleh: M.Ardhiansyah*

Tatanan dunia sudah berubah dan akan selalu berubah seiring waktu. Digitalisasi misalnya, tentu tak terbayang seabad silam. Kemajuan peradaban memang nampak memudahkan hidup. Misalnya, ketika betapa mudahnya sekarang membeli sesuatu tanpa harus repot-repot datang langsung ke tempat penjual dengan menggunakan platform e commerce, dan kemudahan-kemudahan pekerjaan menggunakan robot.

Ada yang lebih amazing dari teknologi kekinian, yaitu bagaimana agar tanpa kerja keras dan cukup dengan ‘kerja cerdas’ bisa menghasilkan omzet miliaran rupiah per bulan, bahkan per hari. Itupun tanpa proses panjang dan modal besar. Cukup dengan alat sosial media untuk memasarkannya. Tak perlu buka kantor cabang dimana-mana dan punya karyawan ribuan. Ya, seperti para yang disebut “crazy rich”.

Tentu ketika mendengar istilah “Crazy Rich” perhatian kita yang up date akan langsung tertuju pada para afiliator trading yang sudah diamankan yang berwajib. Siapa mereka? Kalau nama-namanya tak penting lagi untuk dikulik. Mereka sudah sangat tenar, jauh sebelum berkasus hukum. Jargon yang mereka gaungkan, “murah banget” atau cek aset miliaran tak asing lagi di platform sosial media. Tapi yang tak banyak di bahas media adalah bahwa mereka dikenal sebagai milenial sukses. Pekerjaan dengan piranti digital menjadikan mereka kaya raya. Tidak perlu banyak kucurkan keringat banyak.

Pertanyaannya benarkah mereka menguasai teknologinya? apakah mereka ahli IT? Tentu tidak. Jelas basic mereka bukan itu. Mereka memiliki keistimewaan “memikat” masyarakat, piawai dalam meyakinkan orang. Kalau ada yang menyebut mereka licik, penipu dan seterusnya terserah saja.

Kenapa masyarakat banyak yang tergoda untuk berinvestasi tentunya tak luput dari keahlian mereka itu. Pada dasarnya setiap orang, apalagi di masa pandemi pingin kerja enak. Yang paling enak ya work from home, bila perlu sambil rebahan bisa menghasilkan cuan. Caranya ya cukup pakai smart phone. Sudah pasti benda yang 100% buatan luar negeri alias impor itu gampang digunakan oleh kalangan muda. Catat: menggunakan bukan membuat. Artinya teknologi yang luar biasa hari ini, kebanyakan masyarakat kita hanya masih dalam nilai manfaat memudahkan pekerjaan. Tak jauh berbeda dengan misalnya munculnya traktor setelah bertahun tahun petani menggunakan cangkul.

Sejatinya teknologi memang diciptakan untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Setidaknya membantu memperpanjang tangan dan kaki kita untuk menjangkau sesuatu yang hendak dituju. Kalau begitu, memang tidak salah dan itu sudah terwujud. Namun, bagaimana dengan fakta mereka yang bekerja enak dengan penghasilan tak terbatas, namun berujung bui? Apakah itu yang disebut hidup berkualitas?

Kalau pertanyaannya demikian, maka mudah saja menarik kesimpulannya bukan? Yup, itu kembali lagi ke moralitas manusianya. Teknologi tidak salah, yang salah adalah menggunakan teknologi untuk kejahatan.

Ini masih koma, belum titik. Sebab, soal moralitas juga ada sangkut pautnya antara pelaku kejahatan dan korban. Kalau pelaku tak perlu diragukan kadar moralnya. Tapi bagaimana korban? Apakah mereka juga memiliki moralitas rendah? Tentu belum tentu. Ataukah karena intelektualitasnya rendah? Tidak juga. Lalu kalau bermoral dan intelektual bisa jadi korban? Yang pasti di atas langit masih ada langit. Pelaku kejahatan sudah pasti lebih pintar atau lebih kuat dari korbannya.

Orang yang punya moralitas dan intelektualitas di atas rata-rata juga manusia biasa. Mereka punya keinginan-keinginan. Ketika ada orang yang menawarkan peluang mencapai keinginan dengan mudah, maka sangat mungkin akan tertarik orang tersebut. Terlebih, caranya sangat instan dan menyenangkan. Tentu berawal dari terkagum dengan capaian yang didapatkan pelaku, korban mau untuk melakukan apa yang dikatakan pelaku kejahatan tersebut.

Sebenarnya, menderita karena mudah kagum dengan hal-hal baru, seperti teknologi, sudah jauh di masa silam diingatkan oleh leluhur kita.

Kalau di Jawa ada aphorisma, “Ojo Gumunan, eling lan waspada” (jangan mudah terkagum, selalu sadar dan waspada).

Demikian juga soal bagaimana mencapai kualitas hidup diawali dengan merawat hati nurani. Leluhur masyarakat Bali sudah bertutur:

Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin yang artinya apabila kamu tidak memiliki sawah, maka lahan di dalam diri (jiwa) yang harus kamu tanami.

Cara instan meraih kekayaan bukanlah cara menaikkan kualitas diri manusia. Bahwa benar teknologi hari ini bisa membuat segala sesuatu prosesnya lebih cepat. Manfaatnya begitu besar untuk manusia. Jika kemudian gegara teknologi menjadi susah, seperti korban robot trading misalnya, maka sudah sepatutnya kita harus lebih banyak belajar teknologi. Kalau toh tidak mampu menciptakan, minimal bisa menggunakannya untuk mempermudah, bukan justru mempersulit hidup. Dan belajarlah kepada para afiliator yang sedang menanti untuk dimejahijaukan. Bahwa ternyata kaya raya adalah cuma keinginan, bukan kebutuhan.

Mengutip kata-kata bijak dari madura, “Jek brusaha deddi manossah se sukses, tape deddieh be’en manussa se andik nilai.” Artinya
Jika kamu berusaha untuk menjadi orang sukses, belum tentu kamu bisa jadi orang yang mempunyai nilai. (*)

*Penulis adalah lulusan perguruan tinggi di Jogja yang belum bekerja, saat ini tengah belajar menulis di komunitas Kata Mata Jogja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.