Keseimbangan Halal dalam Diri

Laily Akhyarun Nisa Hidayatul Qoyyumi. Foto: doc/pri

Oleh:  Laily Akhyarun Nisa Hidayatul Qoyyumi*

Dalam berbagai berita serta artikel yang dimuat diberbagai media baik itu cetak, TV maupun online. Halal menjadi point utama dalam pengambilan keputusan seseorang membeli makanan dan minuman. Seseorang dapat menganggap makanan itu halal jika sudah sangat yakin dan sering memakan ataupun mengkonsumsi hal tersebut. Ada baiknya makanan yang masuk ke dalam tubuh kita dapat dicerna langsung maupun tidak jika yang dikonsumsi kita bisa mendaatkan efek positif maupun negative dari hal tersebut.  Terlepas dari kecurigaan maupun pandangan orang mengenai hal tersebut bila kita jabarkan saja ada hal-hal seseorang wajib dan harus tau apa saja makanan yang baik dikonsumsi ataupun tidak.

  1. Cara Mendapatkannya

Penghasilan seseorang ataupun pemimpin dalam keluarga muslim bisa menjadikan halal apabila pekerjaan yg didapatkannya halal serta penghasilan yang bernilai itu jika di potong ataupun dipangkas maka akan bernilai manfaat yang lebih. Hasil tersebut tidka bisa terlepas dari faktor-faktor yang menjadikan halal dalam berbagai segi untuk kemanfaatan diri sendiri maupun orang lain. Jika unsur gharar, riba dalam kita mencari rezeki, maka hasil yang kita dapat dapat meningkatkan lahir dan batin akan membuat hal itu menjadi pola pikir yang tidak baik.  Pajak adalah suatu pengalihan sumber-sumber yang wajib dilakukan dari sektor swasta kepada sektor pemerintah berdasarkan peraturan tanpa mendapat suatu imbalan kembali yang langsung dan seimbang (Ichsan, 2018). Pajak merupakan salah satu penerimaan potongan penghasilan yang merupakan kewajiban seluruh Warga Negara Indonesia. Namun, di Indonesia sendiri  pajak sudah ada ketentuan yang ditetapkan sendiri. Sedangkan hasil dari kerja keras kita jika hanya untuk membayar pajak tanpa adanya memberikan untuk hal yang lebih ikhlas bagi kita. Contoh penerimaan dari kaum muslim adalah kharaj (pajak tanah), zakat, ushr (bea impor), zakat fitrah, wakaf, infak dan shadaqah (Ichsan, 2018). Sehingga di Indonesia uang yang kita hasilkan dapat berimbas baik terhadap diri kita karena banyak sekali manfaatnya. Terutama penghasilan tersebut menjadi lebih bermanfaat untuk diri sendiri maupun keluarga.

  1. Mengkonsumsi Makanan yang Halal

Produk halal dipahami sebagai produk yang dihasilkan sesuai dengan persyaratan-persyaratan yang dapat diterima oleh masyarakat Muslim dan sesuai dengan syariat Islam(Ambali &Bakar, 2014). Mengkonsumsi makanan yang halal dapat membantu ita dalam menjalakan hidup sehat secara lahir dan batin. Terlebih lagi jika kita memasak makanan yang kita konsumsi dari hasil kita berbelanja untuk keperluan sehati-hari.  Konsep Halal dalam penerapan  kebijakan produk halal tidak hanya  mencakup persyaratan Syariah, tetapi juga mencakup aspek kebersihan, sanitasi dan keselamatan yang berkelanjutan, dan juga membuat makanan halal yang mudah  diterima oleh konsumen yang peduli tentang keamanan makanan dan gaya hidup sehat(Baharuddin, Kassim, Nordin, & Buyong, 2015).  Dengan memasak makanan sendiri di rumah, maka kita sudah menyumbangkan kerja keras kita dalam mensyukuri apa hasil yang telah didapat dari mencari rezeki. Menurut teori ekonomi, kepuasan seseorang dalam mengkonsumsi suatu barang dinamakan utility atau nilai guna. Kepuasan dalam terminologi konvensional dimaknai dengan terpenuhinya kebutuhankebutuhan fisik (Rozalinda, 2014:97). Dalam Al-Qur’an dan Hadist ada makanan yang boleh dikonsumsi ada yang tidak. Ada 3 (tiga) prinsip dasar konsumsi yang digariskan oleh Islam, yakni pertama konsumsi barang halal, dimana seorang muslim diperintah oleh Islam untuk makan makanan yang halal (sah menurut hukum dan diizinkan) dan tidak mengambil yang haram (tidak sah menurut hukum dan terlarang); kedua prinsip kebersihan dan menyehatkan Ketiga prinsip kesederhanaan dalam konsumsi berarti bahwa orang haruslah mengambil makanan dan minuman sekadarnya dan tidak berlebih-lebihan karena makan berlebihan itu berbahaya bagi kesehatan (Chaudry, 2012: 137-140). Dari prinsip-prinsip tersebut, jika kita melihat secara langsung dapat langsung menilai sejauh mana tubuh kita melangkah.

  1. Manfaat Untuk Tubuh Jika Seimbang

Dalam tindakan jika makananyang dikonsumsi akan bermanfaat bagi tubuh, jika pola hidup sehat dengan berpuasa. Manfaat berpuasa sendiri sangat banyak selain menekan hawa nafsu dari berbagai hal, dapat menekan kita untuk berhidup secukupnya dan tidak terlalu berlebihan dalam membeli sesuatu. Selain kita dapat memasak untuk diri sendiri, kita juga dapat mengimbangi diri kita dalam memakan seporsi makanan untuk mengukur berapa banyak kita mengkonsumsi. Selain keseimbangan dalam makanan dan penghasilan ada pula faktor lainnya agar bisa seimbang yakni sehat. Kesehatan adalah anugerah dari Allah swt, penciptaan manusia telah dilakukan secara seimbang, kecuali Allah yang maha kuasa menghendaki hal lain,Adakalnya keseimbangan tubuh dirusak sendiri oleh manusia, misalnya yang terjadi dengan saluran pencernaan akibat mengkonsumsi secara sembarangan atau kebisaan lain seperti merokok, bekerja tanpa istirahat (Ismail, 2019). Maka apa yang Tuhan telah berikan kepada kita lebih baik untuk diperbaiki dan diteruskan serta keseimbangan menjadi lebih baik. Terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial (Ismail, 2019). Maka kesehatan yang baik dapat membuat kita berkembang lebih baik pula.

  1. Pola pikir berfikir dengan baik

Dengan adanya makan yang masuk kedalam tubuh kita menjadikan kita untuk beraktifitas bisa lancar. Badan dan pikiran akan terasa imbang jika dilakukan dengan perut yang tenag dan tidak ada pikiran kosong karena kurangnya asupan untuk tubuh kita. Dengan makan yang cukup dan tidak berlebihan ditambah dengan pola hidup sehat dari berdoa dan berolahraga. Suatu aktifitas dalam sehari bisa menekan kita untuk berfikir dengan baik dari kegiatan yang dapat menyeimbangkan diri kita. Gaya konsumsi sangatlah penting, agar seseorang berhati-hati dalam menggunakan kekayaannya atau dalam membelanjakan sesuatu. Al-Qur’an dan hadist memberikan berbagai petunjuk yang jelas agar perilaku konsumsi manusia menjadi terarah dan dijaukan dari sifat hina karena perilaku konsumsinya (Ismail, 2019). Gaya konsumsi dan gaya hidup seseorang dapat mempengaruhi diri sendiri. Alangkah lebih baiknya jika ingin berfikir baik maka prinsip hidup sehat dan keseimbangan yang baik dapat merubah pola pikir menjadi baik.

Dilihat dalam berbagai permasalahan yang berkecamuk di media mengenai media sosial hidup sehat. Lebih baik kita melihat diri kita sendiri untuk membuat diri kita sehat secara lahir dan batin lalu sehat secara fisik dan batin. Selain manfaat tersebut, bagi tubuh melihat dari sisi lainnya. Halal di Indonesia sendiri menjadi topik utama dalam berbagai perdebatan dan permasalahan yang kurang sehat dalam perekonomian. Mulai dari berbondong-bondong orang untuk melebelkan Halal food agar banyak orang yang datang ke tempat mereka.

Secara tidak langsung pemberitaan mengenai halal food maupun halal industry menjadikan pertanyaan banyak orang untuk tetap stay positif dalam berbagai tindakan. Terlebih lagi gejala Covid-19 yang muncul dan menjadikan 2 tahun Indonesia dalam keadaan terbalik. Mau melangkah harus melihat dan kondisi yang serba dibatasi dengan keadaan ekonomi yang terus berlanjut dan tak kalah putus, terus berjalan kearah manapun.  Pada saat ini di tahun 2022 Indonesia sudah melangkah lebih baik dan sembuh secara baik dalam hal perekonomian.

Dari sini permasalahan mengenai yang baik dan bermandaat untuk tubuh kita bisa dilihat dalam berbagai hal. Kehalalan, Kebersihan dan Kesederhanaan menjadikan kunci yang baik untuk kita melakukan aktifitas. Aturan hidup sehat yang baik bisa dilihat dari sekeliling yang kita dapat lalu diterapkan Kediri kita agar manfaatnya tidak berlebihan dalam menyikapi. Rasulullah sebagai contoh kita dalam menjalankan kewajiban kita agar nantinya lebih baik kedepannya. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan  Ekonomi Islam, Sekolah Pascasarjana, Universitas Gadjah Mada

5 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.