Harga Solar Naik di Jateng, Tembus 17 Ribu Per Liter, Ribuan Nelayan Tak Bisa Melaut

Harga Solar
Kapal Nelayan di Cilacap. Foto: Hamzah

SEMARANG – Ribuan kapal nelayan di provinsi Jawa Tengah (Jateng) tidak bisa melaut karena  harga solar naik.

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Jateng, Riswanto mengatakan, kapal nelayan di Pantai Utara (Pantura) Jateng jumlahnya hampir 3000, namun 60 persen atau Sekitar 1.800 kapal tidak bisa melaut,

Riswanto mengngkapkan, sejak empat bulan ini, harga solar terus naik. Saat ini mencapai Rp17.000 per liter.

“Padahal harga empat bulan lalu berkisar Rp 8.000 per liter,” ungkapnya kepada wartawan, Kamis (23/06/2022).

Riswanto mengatakan, tingginya harga solar itu jelas memberatkan nelayan. Para nelayan tak punya cukup uang untuk membeli solar guna menyalakan mesin perahunya. Ironisnya, harga ikan hasil tangkapan mereka tidak naik. Besar pengeluaran ketimbang penghasilan.

Dengan harga solar Rp17.000 per liter, kata dia, ongkos belanja solar selama melaut dua bulan, membengkak 30 persen. Biasanya Rp700 juta, naik menjadi Rp1 miliar. Belum ditambah biaya lainnya.

“Kalau dipaksa beli Rp17.000, perbekalan membengkak. Kalau harga ikan tidak mengikuti, kita merugi. Kita pilih ndak jalan (melaut), menunggu harga solar murah,” ujarnya.

Menurut Riswanto, kenaikan harga solar ini tidak hanya merugikan pemilik kapal saja, tetapi juga berdampak pada para Anak Buah Kapal (ABK). Mereka terpaksa menganggur karena kapal tempat mereka bekerja tidak melaut.

Ia merinci, satu kapal rata-rata ada 25 orang ABK, sehingga Kalau 1.800 kapal yang tidak melaut, maka ada sedikitnya 45.000 ABK yang menganggur.

Selain menambah pengangguran, juga berpotensi menimbulkan permasalahan lain, yaitu kapal cepat rusak karena bodi kapal-kapal yang menumpuk saling bersenggolan.

“Penumpukan kapal di pelabuhan juga bisa memicu pencurian onderdil kapal hingga kebakaran,” imbuhnya.

Riswanto berharap ada harga solar khusus untuk nelayan. Harga solar khusus nelayan ini diharapkan tidak lebih dari Rp9.000 per liter.

Menurutnya, perwakilan nelayan di Jateng sudah menyampaikan keluhan kepada pemerintah pusat melalui staf dari Kantor Staf Kepresidenan.

“Kami masih menunggu keputusannya bagaimana,” ucapnya. (kt4)

Redaktur: Hamzah

 

 

56 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.