Keluarga Childfree Murka Atau Bahagia

Oleh: Teguh Wiyono, M.Pd.I

Teguh Wiyono, M.Pd.I
Teguh Wiyono, M.Pd.I

TOPIK keluaraga childfree saat ini tengah ramai dibicarakan setelah seorang YouTuber secara terbuka mengungkapkan pilihannya untuk tidak punya anak, padahal sudah menikah sejak tahun 2018, sehingga di masyarakat kita muncul pendapat ada yang pro dan kotra. Sebenaranya apa itu childfree.

Childfree sering disebut dengan sebuah keputusan atau pilihan hidup untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung, anak tiri, ataupun anak angkat. Penggunaan istilah Childfree untuk menyebut orang-orang yang memilih untuk tidak memiliki anak ini mulai muncul di akhir abad 20. Bagi kebanyakan masyarakat dan dalam sejarah manusia pada umumnya, keputusan untuk menjadi Childfree sangatlah sulit dan tidak diharapkan. Ketersediaan alat kontrasepsi yang tepercaya sejalan dengan persiapan matang untuk kehidupan pada hari tua membuat Childfree menjadi pilihan diberbagai negara maju meskipun keputusan ini mendapatkan penilaian negatif bagi sebagian masyarakat.

Beberapa alasan yang dilontarkan keluarga Childfree, diantaranya; Pertama. sudah banyak tanggung jawab sosial dan keluarga, seperti menjadi perawat atau pengasuh utama dari orang tua, saudara atau pasangan yang disabel. Kedua, masalah keuangan atau takutr miskin. Ketiga, beragam ketakutan (misalnya, pengalaman disekap atau kekecewaan). Keempat, kerusakan atau masalah dalam suatu hubungan atau menjadi tidak romantis terhadap pasangan. Kelima, ketakutan akan perubahan fisik akibat kehamilan, pengalaman melahirkan, masa pemulihan, dan masalah-masalah lain.

Kebanyakan Berpendidikan Tinggi

Berdasarkan pakar ekonomi David Foot dari University of Toronto, tingkat pendidikan seorang wanita adalah faktor paling penting dalam menentukan apakah dia memutuskan mau punya anak atau tidak.  Semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin sedikit keinginan untuk memiliki anak. Secara keseluruhan, para peneliti telah mengobservasi bahwa para pasangan yang Childfree lebih berpendidikan, dan mungkin karena hal ini, mereka cenderung ingin dipekerjakan dalam bidang manajemen dan profesional, pada kedua belah pihak atau pasangan untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi dan untuk tinggal di are urban. Mereka juga cenderung kurang religius, dan tidak mengikuti aturan peran gender umum yang konvensional.

Kita sebagai masyarakat Indonesia yang termasuk dalam negara sangat percaya bahwa kehadiran anak adalah sebuah keharusan dalam pernikahan sebagai hadiah, ahli waris dan penerus keturunan. Anak juga diyakini sebagai ikatan antara istri dan suami yang memungkinkan untuk meningkatkan kepuasan dan komitmen perwakilan.

Selain itu, masyarakat Indoensia adalah masyoritas beragama muslim, tentunya bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri. Dalam agama Islam memang diperbolehkan untuk menunda kehamilan atau sering disebut Tandzim an-Nasli, Hukum menunda kehamilan bukan sesuatu yang terlarang, asal tujuannya bukan takut miskin. Sebab, jika menunda kehamilan karena takut miskin ini termasuk tidak percaya kepada Allah SWT. Akan tapi jika menunda kehamilan karena ingin mengatur agar anak mendapatkan perhatian, kasih sayang dan pendidikan secara penuh itu diperbolehkan. Namun jika dalam perkawinan memiliki tujuan tidak mau hamil atau tidak memiliki anak itu tidak diperbolehkan atau sering disebut Tahdid an-Nasli.

Menantang Kodrat

Ketika dikaitkan dengan Childfree itu apa? Membatasi kelahiran atau menunda kelahiran. Jika Childfree tujuan utama adalah membatasi kelahiran atau tidak mau memiliki anak tentunya menatang kodrat manusia khususnya seorang perempuan, karena memiliki anak merupakan anugerah dan sebagai fitrah manusia.

Fenomena Childfree mengapa dikatakan menatang kodrat, karena bertentangan dengan nilai-nilai ajaran Islam, sebab Rasulullah SAW; Pertama, memerintahkan para pengikutnya untuk menikahi perempuan subur agar memiliki anak, Memiliki Anak adalah Fitrah Manusia. Banyak pasangan mandul yang berusaha memiliki anak hingga rela mengorbankan apa saja untuk berobat agar memiliki anak. Anak-anak adalah permata hati dan kebahagiaan bagi mereka yang masih berada dalam fitrah.  Kedua,  Memiliki dan Mendidik Anak Termasuk Sunah. “Rasulullah SAW memerintahkan untuk menikah dan melarang keras untuk membujang dan berkata:‘Nikahilah wanita yang sangat penyayang dan yang mudah beranak banyak karena aku akan berbangga dengan kalian dihadapan para nabi pada hari kiamat.

Ketiga, Anak Mendatangkan Rezeki, anak memiliki rezeki yang disebutkan oleh Allah SWT bahwa anak terlebih dahulu diberi rezeki baru orang tuanya dan tentunya dengan berikhtiar sebelumnya. Keempat, Anak adalah Amal Jariyyah, memiliki anak yang saleh dan shalihah akan menjadi amal jariyah yang paling berharga, karena anak akan mendoakan ketika orang tuanya sudah meninggal kelak. Kelima, banyak anak tentunya banyak generasi penerus, baik penerus keluarga, bangsa dan agama.

Kita sebagai orang yang beriman dan sebagai orang yang sudah menikah atau belum menikah jangan sampai memiliki pemahaman yang keliru terhadapat kehadiran seorang anak dalam pernikahan. Memang mempunyai seorang anak bukan menjadi syarat dalam pernikahan.  Namun, begitu pernikahan terjadi, kemudian mempunyai anak ini menjadi sebagian salah satu dari tujuan.

Lalu, ketika seseorang mempunyai pilihan untuk tidak mempunyai anak, dari sisi ide dan keinginan tidak masalah dan itu diperbolehkan.  Tetapi kembali lagi kepada bagaimana cara dan niat serta tujuan memilih untuk tidak memiliki seorang anak.  Namun, jika tujuan memiliki anak lataran mengurangi beban dan ingin bebas serta bahagia ini tidak diperbolehkan lantaran pada hakekatnya anak itu bukan beban melainkan suatu amanah.

Dengan adanya fenomena Chidfree mari kita lindungi dan ingatkan kepada keluarga kita agar selalu berjalan di jalan Allah SWT. Selain itu, kita juga perlu merenung sejenak bahwa kebahagiaan adalah pemberian dari Allah SWT dan ketika kesusahan Allah pun yang memudahkanya. Jadilah diri kita sebagai orang yang bersyukur agar kenikmatan bertambah, jangan menjadi orang yang tidak bersyukur atau murka karena azab-KU sangat pedih. Allah SWT lebih mengetahui bagaimana cara manusia hidup berbahagia dengan kebahagiaan hakiki, bukan kebahagiaan semu. (*)

 

*Penulis adalah Dosen Universitas Amikom Purwokerto Pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Fakultas Bisnis dan Ilmu Sosial

 

 

62 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com