Buruh Dieksploitasi, KRB Nilai Pemerintah di 'Ketiak Pemodal Kapitalis’


Aksi Koalisi Rakyat Bersatu (KRB) peringati May Day. Foto

YOGYAKARTA - Ratusan massa dari berbagai elemen gerakan mahasiswa, buruh dan rakyat yang terhimpun dalam Koalisi Rakyat Bersatu (KRB) menggelar aksi memperingati hari buruh sedunia atau May Day di jalan Malioboro Yogyakarta, Kamis (01/05/14) siang. Dalam aksi yang melibatkan belasan organisasi tersebut, massa menuntut kesejahteraan buruh.

Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) KM UGM, Adhitya Herwin yang turut dalam aksi mengatakan saat ini buruh di Indonesia masih banyak yang dieksploitasi pemodal kapitalis sementara pemerintah tak bisa berbuat banyak.

Menurutnya, pemodal kapitalis telah mengatur tata dunia melalui organisasi atau agen-agen internasional antara lain World Trade Organization (WTO), General Agreement on Trade and Tariff (GATT), Bank Dunia (World Bank), International Monetary Fund (IMF) dan berbagai lembaga lainnya.

Dijelaskan Adhit, kaum kapitalis punya kebebasan yang ditopang oleh penguasaan fakor-faktor produksi, sehingga memiliki kemampuan untuk memanipulasi dan membeli kebebasan yang dimiliki komponen masyarakat lainnya.

"Termasuk kebebasan yang dimiliki oleh para pejabat Negara atau pemerintah. Di Indonesia kita menyaksikan sebuah pergeseran yang menandai makin kuatnya ekspansi kapitalis global. Hingga mencengkram seluruh basis perekonomian nasional, dari perekonomian skala besar sampai perekonomian rakyat kecil," tandasnya.

Ekspansi besar-besaran perusahaan kapitalis disertai juga dengan tuntutan mekanisme kerja baru yang memperkenalkan sistem hubungan kerja yang fleksibel dalam bentuk outsourcing atau kerja kontrak yang mengeksploitasi buruh.

"Semua mekanisme kerja dimaksudkan untuk meraih keuntungan yang lebih besar dengan mengurangi tanggung jawab pemilik modal atau pengusaha terhadap masa depan pekerjaannya," ungkapnya.

Masih menurut Adhit, perjuangan buruh untuk mendapatkan kesejahteraan sudah semakin menguat saat ini. Dijadikannya libur nasional pada 1 Mei merupakan buah dari perjuangan para buruh.

"Tapi ini kemenangan yang kecil, kita harus terus berjuang agar pemerintah bisa melepas ketergantungan dengan pemodal kapitalis dan lebih memperhatikan kesejahteraan buruh " katanya.

Selain menuntut penghapusan system kerja kontrak, massa aksi juga menuntut biaya kesehatan gratis untuk buruh, upah layak untuk buruh, pendidikan gratis bagi anak buruh, serta perlindungan hukum untuk buruh.

Dalam aksi massa yang berpusat di Titik Nol Km tersebut, terlihat puluhan petugas dari Polrestabes Yogyakarta yang mengamankan jalannya aksi. Setelah sekitar satu jam menggelar mimbar bebas, massa membubarkan diri dengan tertib.(kim)

Redaktur: Azwar Anas

 

 


 





Baca Juga