ICM dan Makaryo akan Kawal Kasus Kekerasan Diduga SARA Sampai ke Meja Hijau


doc.istimewa

SLEMAN - Aksi kekerasan dan penyerangan tempat ibadah kembali pecah di wilayah kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam waktu kurang dari sepekan. Seperti dikutip dari Tribunjogja.com, hari ini Minggu (1/6/2014) menulis bahwa, puluhan orang merusak sebuah bangunan di dusun Pangukan, Desa Tridadi, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, DIY, yang dipakai oleh sejumlah umat Kristen untuk menjalankan kebaktian.

Sebelumnya, pada Kamis (29/5/2014) malam di kediaman Direktur Penerbitan Galangpress, Julius Felicianus, diserang oleh sekelompok orang tidak dikenal dan hingga saat ini peristiwa yang juga menimbulkan korban luka dari pihak wartawan itu belum tuntas kasusnya karena masih didalami oleh pihak kepolisian Polda DIY beserta jajarannya.

Terkait dengan maraknya aksi kekerasan yang terjadi di DIY, anggota Masyarakat Anti Kekerasan Yogyakarta (Makaryo) perwakilan dari Indonesian Court Monitoring (ICM), mengecam keras merajalelanya aksi kekerasan di DIY utamanya di kabupaten Sleman. "Apapun motifnya, kekerasan tidak dapat dibenarkan dan inkonstitusional," kata Tri Wahyu, KH dalam pesan singkatnya kepada jogjakartanews.com, Minggu (1/6/2014) malam.

ICM pun lanjut Wahyu, mendesak Polda DIY untuk segera menangkap dan mengadili pelaku dan aktor intelektual prokekerasan. "ICM menegaskan macetnya 20-an kasus kekerasan di DIY, menjadi angin segar bagi aktor prokekerasan untuk terus beraksi," tegas Wahyu.

Untuk itu, ICM mendesak Polda DIY agar proses hukum sampai ke pengadilan. "ICM bersama teman-teman Makaryo akan kawal sampai tuntas sampai ke pengadilan," tambahnya.

"ICM juga mengkritisi gubernur DIY dan bupati Sleman beserta jajarannya agar lebih proaktif dalam melindungi warga negara Indonesia saat menjalankan ibadah keagamaan khususnya yang ada di Sleman dan DIY sesuai amanat konstitusi," pungkasnya. (bhr)

Redaktur: Azwar Anas

 


 





Baca Juga