Kamis, 12/06/2014 19:43 WIB | Dibaca: 2195 kali

Atasi Masalah Lansia, Program KB Perlu Dikendurkan


Ilustrasi. foto: Istimewa

YOGYAKARTA - Pemerintah Indonesia dinilai belum terlihat fokus memikirkan masalah lanjut usia (Lansia). Padahal, di Negara maju seperti Jepang, dan beberapa negara Eropa, maslah Lansia menjadi masalah besar . Lansia menjadi beban Negara. Sementara di Indonesia, pemerintah justeru masih menggencarkan program Keluarga Berencana (KB) yang bertujuan menekan angka fertilitas (kelahiran).

"Menurut saya, angka fertilitas di Indonesia sebenarnya tidak perlu ditekan terlalu rendah. Angka fertilitas di bawah 2 itu akan berdampak kurang bagus karena jumlah penduduk Indonesia nanti terlampau rendah. Bagi saya, justru kita kita perlu mengendorkan program KB," tutur pakar kependudukan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, Prof. Dr. Muhadjir Darwin, saat menjadi pembicara dalam Seminar ‘Bonus Demografi' yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Kamis (12/6) siang.


Dijelaskan Muhadjir, kelompok usia pasca produktif atau lansia yang berumur lebih dari 65 tahun menjadi isu kependudukan yang penting karena bisa menjadi potensi atau beban dalam siklus kehidupan manusia secara keseluruhan.


"Jika saat usia produktif seseorang mampu menabung, maka saat dia menjadi lansia atau tidak lagi produktif dalam sisi ekonomi, dia tidak menjadi beban bagi Negara," imbuhnya.


Sementara itu, Prof. Dr. Muhadjir Darwin, Pakar Kesehatan Reproduksi UGM dalam kesempatan yang sama mengatakan, kondisi yang terjadi di negara-negara maju seperti Jepang, Eropa itu bisa menjadi pelajaran. Angka fertilitas (TFR) yang menurun serta proporsi penduduk lansia yang terus meningkat pada akhirnya membawa pengaruh yang kurang baik bagi pertumbuhan ekonomi negara.

"Terbukti, membatasi jumlah penduduk ternyata lebih mudah dibandingkan menaikkan angka fertilitas," tuturnya. (yud)

Redaktur: Rudi F

 


 





Baca Juga