Rabu, 19/11/2014 22:47 WIB | Dibaca: 2138 kali

Fatamorgana Pemimpin yang (Katanya) Merakyat


ilustrasi/jogjakartanews.com

Oleh: Khoiru Anam*

BERTAMBAH pula penderitaan rakyat Indonesia ketika Presiden Joko Widodo (Jokowi) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengumumkan kenaikan harga BBM sebesar Rp 2000. Dinginnya AC di Istana negara saat pengumuman tentunya tidak sebanding dengan panasnya hati rakyat yang dilukai perasaannya oleh pemimpin mereka sendiri yang katanya merakyat.

Janji-janji suci yang diucapkan selama satu bulan lebih pelaksanaan kampanye seketika hancur oleh senyum neoliberalisme Istana Negara. Pemimpin yang menawarkan kesederhanaan dalam kampanye dengan menuliskan harga baju dan celana hari ini telah membuat rakyatnya tak bisa membeli baju dan celana.

Rakyat Indonesia yang sebagian besar masih bodoh dijejali dengan angka-angka yang spektakuler tentang rasionalisasi kenaikan BBM, bahkan pemerintah menggunakan orang-orang pintar untuk memperkuat dalil mereka agar kelihatan tidak salah di mata rakyat dalam kebijakannya

Menurut Nabi Muhammad SAW, ciri pemimpin yang baik ketika mempunyai empat sifat, Sidiq (Jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), Fathonah (Cerdas). Tempat yang tertinggi; "ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (dari pada-Nya)" (Q.S. Al-A'raf ayat: 3).

Pertanyaanya apakah Jokowi-JK sudah bisa memenuhi ekspektasi tersebut? Ketika bicara sifat sidiq, tentunya kita tahu saat pemerintahan SBY, Jokowi (dari partainya PDIP) adalah pengusung utama penolakan harga BBM. Bahkan, mereka tak segan-segan untuk turun langsung ke jalan, tetapi ketika berkuasa, kenaikan harga BBM adalah kebijakan pertama mereka, tidak ada suara minor dari partai tersebut, diam seribu kebisuan dalam menekan suara hati yang memberontak atas kebijakan pemimpin mereka.

Sejuta harapan telah disampaikan oleh rakyat selama pelaksanaan kampanye. Harapan rakyat agar pemimpin yang baru akan lebih memperhatikan kesejahteraan menyeruak secara terang-terangan. Jargon-jargon membela wong cilik bertebaran dimana-mana. Bahkan nama “Trisakti Soekarno” menjadi media marketing untuk membangun semangat nasionalisme, rasa cinta tanah air. Rakyat sudah dibius oleh kesederhanaan Jokowi dan kekonsistenan partai dalam menolak kenaikan BBM, tetapi rakyat (terutama para pendukung mereka) dikhianati dengan hadiah kenaikan BBM yang makin mencekik leher rakyat kecil.

Salah satu keberhasilan Jokowi menduduki jabatan orang nomor satu di republik ini adalah dengan blusukan, metode blusukan dianggap lebih efektif untuk mengetahui permasalahan rakyat karena turun langsung ke lapangan. Bahkan tidak segan-segan Jokowi masuk gorong-gorong atau lokasi banjir untuk memantau situasi, efeknya sungguh luar biasa, jokowi dikenal menjadi figur yang merakyat, apalagi media massa secara konsisten terus memberitakannya.

Akan tetapi saya tidak tahu apakah sebelum Jokowi menaikkan harga BBM didahului dengan blusukan terlebih dahulu untuk meminta pendapat rakyat, atau hanya mendengar dari orang-orang pintar tentang rumus-rumus penghitungan minyak yang rumit sehingga mau tidak mau BBM harus dinaikkan? apalagi kenaikan harga minyak dilakukan setelah Jokowi mengikuti pertemuan G-20 di Australia, sehingga aroma cengkeraman Neoliberalisme sangat kencang menyelimuti kenaikan BBM.

Blusukan Jokowi yang katanya untuk mendengar keluhan rakyat ternyata telah dicederai sendiri oleh Jokowi dengan kenaikan harga BBM. Mungkin empuknya kasur dan nyamannya AC istana negara telah membuat Jokowi lupa kalau dia berasal dari rakyat dan diamanahi untuk mensejahterakan rakyat. (*)

*Penulis adalah Direktur Umum Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI).

 


 





Baca Juga