Sabtu, 07/03/2015 15:53 WIB | Dibaca: 11758 kali

Pendidikan Sebagai Modal Dasar Kemajuan Bangsa


Aat Eska F. Foto: Doc/pribadi

Oleh: Aat Eska F*

Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar untuk pembangunan bangsa. Maju tidaknya suatu bangsa tergantung pada kualitas pendidikan yang ada pada bangsa tersebut. Jika pendidikan berkualitas baik, maka sangat besar kemungkinan bahwa negara tersebut akan mengalami kemajuan. Begitu pula sebaliknya, jika pendidikan berkualitas buruk, bisa dipastikan bahwa negara tersebut tidak akan mampu bersaing dengan negara lainnya. Untuk bisa memajukan bangsa ini diperlukan para generasi penerus bangsa yang mumpuni dan siap untuk bersaing di era globalisasi ini, tentunya hal itu bisa tercapai dengan dukungan mutu pendidikan yang baik. Maka sudah barang tentu pendidikan menjadi modal dasar pembangunan bangsa Indonesia ini.

Salah satu Instrumen pendidikan di tingkat satuan sekolah adalah kurikulum. Kurikulum merupakan rencana pelajaran yang akan di canangkan di setiap sekolah. Kurikulum secara umum didefinisikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan oleh siswa dalam waktu tertentu untuk mencapai gelar/ijazah tertentu.

Di Indonesia kurikulum sering berubah-ubah. Seringkali penggantian menteri pendidikan diikuti dengan perubahan kurikulum. Sampai sekarang, Indonesia mencatat perubahan kurikulum paling tidak sebanyak sembilan kali. Sejak Menteri pengajaran Pertama pada Kabinet Presidensiil, Ki Hajar Dewantara hingga Kabinet Kerja, Anies Baswedan, tercatat ada 31 nama menteri pendidikan. Para menteri pendidikan tersebut seolah-olah saling berlomba dalam menorehkan tinta emas dalam sejarah mengubah kurikulum di Indonesia ini.

Perubahan kurikulum diharapkan dapat meningkatkan kualitas mutu pendidikan yang dirasa masih kurang, namun demikian tidak semua perubahan kurikulum mendapatkan hasil yang maksimal, yang terbaru adalah moratorium kurikulum 2013 oleh Aniss Baswedan Menteri Budaya dan Pendidikan Dasar Menengah. Ditundanya pelaksanaan kurikulum 2013 dan kembali ke kurikulum lama KTSP semakin memperkeruh keaadan pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013 yang telah memakan waktu dan banyak menyerap energi negara seakan menguap begitu saja dengan bergantinya pucuk kementrian pendidikan. hal ini yang membuat sistem pendidikan di Indonesia mengalami kebimbangan, tidak ada standar paten untuk dijadikan rujukan yang pasti dalam menjalankan proses belajar mengajar sisawa.

Realitas diatas hendaknya menjadi pelajaran berharhga bagi pemerintah dan para pemuda calon generasi penerus bangsa. Egosentris golongan dan kapitalisasi pendidikan harus dihilangkan demi terwujudnya suatu sistem pendidikan yang komprehensif, matang dan bisa dijangkau oleh semua elemen rakyat Indonesia. Sebuah output yang membanggakan tidak akan mungkin tercapai jika tidak didukung oleh sebuah sistem pendidikan yang teruji efektif untuk diterapkan disetiap satuan pendidikan. maka dari itu, Kesadaran akan pentingnya perbaikan mutu pendidikan perlu ditanamkan kepada setiap stake holder, pemegang kebijakan, pelaksana pendidikan bahkan para siswa-siswa sekalipun

Guru Ikhlas Murid Tawadhu

Tidak hanya kurikulum saja yang menjadi faktor penting perbaikan kualitas pendidikan di Indonesia, namun perbaikan kualitas pendidik juga menjadi salah satu faktor kunci. Pendidik yang baik adalah faktor paling mendasar dari sistem pendidikan yang bagus. Seperti pepatah arab mengatakan “At-thariqotu ahammu minal maddah, wal mudarrisu ahammu minat thoriqoh, wa ruhul mudarrisu ahammu minal mudarris” yang artinya secara aplikatif metode lebih penting dari materi, pendidik lebih penting dari metode dan menghadirkan ruh pendidik jauh lebih penting dari pendidik itu sendiri. Pendidik bisa saja menjadi pengajar yang baik dengan mengantar siswa mencapai prestasi akademik, namun seorang pendidik memiliki tanggung jawab untuk membentuk siswa agar memiliki kepribadian bernilai tinggi. Pendidik yang baik memiliki kompetensi yang baik, kreatifitas, dan keikhlasan. Seorang pendidik harus memiliki cukup kompetensi yang berhubungan dengan keilmuannya bila hal tersebut digabungkan dengan kreatifitas yang dimilikinya, seorang pendidik akan mampu menemukan metode pembelajaran tepat guna bagi kelasnya sehingga mendorong siswa untuk lebih giat belajar.

Keikhlasan menjadi bekal yang paling sulit dilakukan, apalagi dengan pengaruh kapitalisme pendidikan yang terjadi hari ini. Banyak guru yang merasa bahwa apa yang mereka sampaikan tidak setimpal dengan apa yang mereka dapatkan sehingga ketidak-ikhlasan ini mengganggu performa guru dalam mengajar. Seorang pendidik yang baik akan terus memotivasi anak didiknya untuk memahami pelajaran dan mengajarkan nilai-nilai moralitas yang baik. Begitupun juga dengan murid, ilmu tidak akan diperoleh secara sempurna kecuali dengan diiringi sifat tawadhu murid terhadap gurunya, karena keridhoaan guru terhadap murid akan membantu proses penyerapan ilmu, tawadhu murid terhadap guru merupakan cermin ketinggian sifat mulia murid. Sikap tunduk murid kepada guru justru merupakan kemuliaan dan kehormatan baginya.

Peningkatan Kualitas Pendidikan Adalah Tugas dari Semua Orang yang Terdidik

Memikirkan pendidikan adalah menyiapkan masa depan bangsa. Pada bahu seorang pendidik kita titipkan benih-benih calon penentu nasib masa depan republik ini. Pendidik mempunyai peran yang sangat fundamental dalam proses pembentukan karakter anak. Anak-anak yang nantinya akan tumbuh menjadi pemimpin-peminpin generasi emas Indonesia di tahun 2045. Seperti yang sering diungkapkan oleh menteri pendidikan Anis Baswedan: “Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah "dosa" setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.” Untuk itu Setiap dari kita mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menjadikan bangsa ini besar melalui Pendidikan. Karena maju atau tidaknya suatu negara ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang ada didalamnya. Dalam konteks ini tentunya pendidik harus menjadi orang pertama yang harus berada di garda depan dalam memperjuangkan baik atau tidaknya kualitas pendidikan di Indonesia.

 

*Penulis adalah Ketua Umum HMI cabang Semarang dan mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Inggris pasca sarjana UNNES

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


 





Baca Juga