Rabu, 11/10/2017 13:14 WIB | Dibaca: 99 kali

Urgensi Wawasan Kelautan dalam Pandangan Islam


ilustrasi. Foto:ist

Oleh: Ari Pradana*

MENELISIK sejarah perkembangan Islam di nusantara, tidak akan lepas dari membahas soal kemaritiman. Sebab, secara geografis, Jazirah Arab dikelilingi oleh lautan. Islam bisa menyebar sampai ke berbagai pelosok nusantara melalui jalur perniagaan laut. Perdagangan adalah media untuk melakukan perubahan sosial, sehingga Agama Islam dengan cepat menyebar melalui pendekatan perniagaan.

Hal itu menunjukkan bahwa umat Islam dan ulama terdahulu memiliki kesadaran, bahkan mampu menguasai kemaritiman. Arti penting laut bagi umat Islam sebagaimana termaktub dalam ajaran Rasulullah SAW berdasarkan wahyu Allah SWT. Bagaimana mensejahterakan umat manusia di Tanah Arab yang tandus dijawab oleh Allah SWT dengan 40 ayat tentang kelautan dan di dalamnya bermuatan wawasan kemaritiman. Salah satu firman Allah SWT tentang pentingnya laut bagi kehidupan termaktub dalam Al-Quran Surah Al-Baqarah ayat 164,

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit da bumi. Sungguh (terdapat) tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berakal (memikirkan)”.

Ayat tersebut sekaligus memberikan pemahaman tentang sifat – sifat Allah yang Maha Pengasih Lagi Penyayang, yang diantaranya melalui pemahaman sumber daya maritim yang penuh dengan manfaat dalam kehidupan manusia. Tanda kebesaran Allah ada dalam lautan, begitu juga kebesaran bangsa dan Negara ada tatkala memahami dan menguasai lautan.

Sejarah telah menunjukkan bahwa Inggris lebih mengutamakan penguasaan lautan, terutama jalur perniagaan seperti Giblartar, Malta, Aden, Socotra, Singapore, dan Hongkong. Belanda mengutamakan pembinaan armada perang di laut, yang berupaya menguasai jalan melalui Afrika Selatan, Ceylon, Jakarta, dan Ambon. Begitu juga dengan Amerika Serikat setelah menerapkan teori penguasaan laut berubah menjadi imperialis mencoba menguasai Karibia, Alaska, Panama, Hawaii, Pulau Guam, Jepang dan Filipina. Tak berbeda halnya dengan China dengan Jalur Sutranya yang membagi benua menjadi jalur utara dan selatan begitu dia meluas dari pusat perdagangan Cina Utara dan Cina Selatan, rute utara melewati Bulgar-Kipchak ke Eropa Timur dan Semenanjung Crimea, dan dari sana menuju ke Laut Hitam, Laut Marmara, dan Balkan ke Venezia; rute selatan melewati Turkestan-Khorasan menuju Mesopotamia dan Anatolia, dan kemudian ke Antiokia di Selatan Anatolia menuju ke Laut Tengah atau melalui Levant ke Mesir dan Afrika Utara.

Itulah hasil dari doktrin teori penguasaan lautan agar dapat menguasai dunia. Namun jika menguasai laut dengan nafsu keserakahan, maka hal itu bisa menjadi malapetaka. Dengan nafsunya, Negara yang berhasil menguasai laut akan menjelma negara imperialis yang akan menindas Negara- Negara lain di dunia.

Wilayah laut Indonesia adalah 64,97% dari total wilayah Indonesia. Luas Lautan = 3.544.743,9 km² (UNCLOS 1982) terdiri dari: Luas Laut Teritorial = 284.210,90 km²; Luas Zona Ekonomi Ekslusif = 2.981.211,00 km² dan Luas Laut 12 Mil = 279.322,00 km².

Artinya, sudah seharusnya bangsa Indonesia menguasai lautan. Namun, penguasaan itu bukan untuk menjadi imperialis, tetapi untuk melawan imperialis dan ancaman para penjarah dan mengamankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dan yang paling pokok adalah untuk mengolah kekayaan kita yang terdapat di lautan demi kesejahteraan masyarakat dan NKRI.

Terkait hal itu, gagasan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X bahwa Pemerintah Daerah DIY akan merubah pintu gerbang Yogyakarta saat ini akan diubah menghadap ke selatan atau dari laut adalah gagasan brilian. Membangun sektor kemaritiman sebagai kekuatan baru Yogyakarta menjadi penting mengingat potensi laut selatan sangat luar biasa dan belum dioptimalkan selama ini. []

*Penulis adalah peneliti pada Community of Islamic Economic Studies Yogyakarta, Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)

 


 





Baca Juga