Terkait Impor Beras, Omah Tani Desak Presiden Evaluasi Kinerja Menteri Perdagangan


Agus Subagyo (tak bertopi) saat memberikan bantuan benih dan pupuk organik kepada petani. Foto: Rudi F

YOGYAKARTA - Import beras sebagai langkah pemerintah mengatasi melambungnya harga beras, mendapat reaksi keras dari kalangan petani. Kebijakan impor beras dinilai berdampak buruk terhadap petani.

Direktur Omah Tani Yogyakarta, Agus Subagyo, keputusan mengimport beras dari Vietnam sebanyak 500 ribu ton merupakan cermin kinerja buruk Kementerian Perdagangan (Kemendag). Menurut Agus, kebutuhan beras sesungguhnya sudah diatasi secara nasional sejak pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan baik.

“Di Yogyakarta sendiri sebenarnya sudah mencukupi, bahkan bisa dikatakan surplus. Ini sebentar lagi bahkan memasuki masa panen lagi. Esensi mengapa import adalah kekeliruan berpikir dari Kemendag agar tidak mensejahterakan petani dalam negeri. Jelas bahwa keputusan import berlawanan dengan keadaan beras dalam negeri yang sebenarnya sudah tercukupi oleh petani dalam negeri,” kata Agus, Selasa (16/01/2018) siang.

Agus yang selama ini aktif membina petani di DIY meyakini bahwa import beras hanya mengakomodir kepentingan untuk industri yang berbahan baku beras. Dalam hal ini, kata dia, Mentri Perdagangan (Mendag) tidak peka terhadap masalah perekonomian petani.

“Presiden harus mengevaluasi keputusan Mendag ini. Adalah suatu pelecehan terhadap petani, jika saat persediaan beras cukup, malah import. Mendag harus dievaluasi kinerjanya. Mendag jangan sampai mau diperalat oleh pegusaha berbahan baku beras. Lha kapan petani nasional memperoleh manfaat atas kinerja para industriawan dalam negeri ?” tandas mantan Anggota DPRD 2004-2009 dari PDIP ini.

Ditegaskan Agus, alasan paling mendasar agar kebijakan impor beras yang dicetuskan Mendag, Enggartiasto Lukita dievaluasi adalah karena cara berpikir dan bertindak dalam mengatasi masalah harga beras justru menggunakan pendekatan yang kapitalistik dan ingin menang sendiri. Hal itu, kata Agus,  tidak mencerminkan nilai nawa cita yang diprogramkan Presiden Jokowi.

“Yang punya kebijakan impor beras ini adalah Menteri. Dasarnya hanya berorientasi pada kepentingan sempit industri berbahan baku beras. Justru import ini membuat industri berbahan baku beras tidak kompetitif. Ini kesalahan fatal di decision maker,” tegas Agus Subagyo yang juga Ketua Keluarga Besar Marhaenis DIY. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS


 





Baca Juga