Rabu, 21/11/2018 18:49 WIB | Dibaca: 346 kali

Ribuan Warga Berebut Gunungan Grebeg Maulid Kraton Jogja


Gunungan dari Kraton Jogja diarak pasukan bregodo dalam tradisi Grebeg Maulid. Foto: Ist

YOGYAKARTA - Ribuan warga berebut gunungan dari Kraton Ngayugyakarta Hadiningrat (Kraton Jogja) dalam gelar tradisi Garebeg Mulud Tahun Jawa Be 1952 di Alun-alun Utara Yogyakarta, Rabu (21/11/2018). Tujuh gunungan (tidak seperti yang diberitakan sebelumnya 5 Gunungan), dalam waktu singkat sudah habis diperebutkan usai didoakan.

Tujuh Gunungan yang berisi beragam hasil bumi tersebut sebelumnya diarak ke tiga tempat, yakni Masjid Gedhe Kauman, Puro Pakualaman dan Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) atau Gedung Kepatihan. Tahun ini terdapat total tujuh gunungan, yang terdiri dari tiga Gunungan Lanang, dan masing-masing satu Gunungan Wadon, Gunungan Gepak, Gunungan Darat dan Gunungan Pawuhan.

Selain di Masjid Gede masyarakat yang sudah menunggu sejak pagi juga menunggu iringan gunungan di Puro Pakualaman. Di sepanjang jalan dari Kraton Ngayogyakarta menuju Puro Pakualaman juga dipenuhi orang tua dan anak-anak.

Sekira pukul 07:00 pagi, sepuluh bregada prajurit kraton sudah bersiap-siap dari Pracimosono di area Pagelaran untuk mengawal jalannya gunungan.

Tepat pukul 10:00, lima gunungan dibawa ke Masjid Gede, sedangkan dua lainnya diserahkan ke Kepatihan dan Puro Pakualaman. Setelah selesai didoakan di Masjid Gedhe, empat gunungan dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk sedekah dari Raja Kraton Ngayugyakarta Hadiningrat, Sri Sultan HB X. Selain itu, satu Gunungan Gepak diserahkan kepada para pengurus masjid di Pengulon. 

Banyak warga rela berdesak-desakan dan berebut isi gunungan karena mempercayai jika mendapatkan isi gunungan, akan mendapat berkah,

“Lumayan, dapat tomat. Mudah-mudahan berkah,” kata Hartono (40) warga Banguntapan Bantul, satu diantara ribuan warga yang turut berebut gunungan.

Satya Bilal, Tepas Tanda Yekti Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengatakan, Grebeg Maulid adalah upacara adat yang digelar sesuai penanggalan jawa, merujuk pada kalender Sultan Agungan,

“Tarikh Jawa yang disusun pada jaman keemasan kerajaan Mataram ini dihitung berdasarkan peredaran bulan dengan angka tahun yang meneruskan bilangan Tahun Saka,” tuturnya.

Dikatakan Satya, upacara tradisi tersebut merupakan kelanjutan dari rangkaian kegiatan Hajad Dalem Garebeg Mulud tahun ini. Pada Selasa (20/11) malam, Kraton Ngayogyakarta menggelar Kundur Gangsa. Menurutnya, inti dari Upacara Kundur Gangsa adalah mengembalikan dua gamelan pusaka, Kanjeng Kyai Gunturmadu dan Kanjeng Kyai Nagawilaga dari Pagongan Masjid Gedhe ke dalam keraton. 

Prosesi diawali dengan hadir (miyos) nya Sri Sultan di Pelataran Masjid Gedhe pukul 20.00 WIB untuk menyebar udhik-udhik,

“Udhik-udhik yang berisi beras, bunga dan uang logam ini pertama-tama disebar di Pagongan Selatan tempat diletakkannya gamelan Guntur Madu. Setelah itu, Sri Sultan kembali menyebar udhik-udhik di pagongan utara, tempat diletakkannya gamelan Nagawilaga, sebelum masuk ke dalam masjid. Selesai menyebar udhik-udhik, Sri Sultan duduk di serambi Masjid Gedhe untuk mendengarkan pembacaan riwayat nabi oleh Kyai Penghulu,” kata Sayta menjelaskan.

Hadir dalam pembacaan riwayat nabi tersebut kedua putra KGPAA Pakualam X, Mantu Dalem, Pangeran Sentana, Bupati dan Abdi Dalem dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Usai pembacaan riwayat nabi, sekitar pukul 21:30 Sri Sultan meninggalkan masjid melalui regol atau pintu gerbang masjid di sebelah timur menuju keraton. (kt1)

Redaktur: Faisal


 





Baca Juga