Rabu, 08/05/2019 19:13 WIB | Dibaca: 162 kali

Jadi Sasaran Program Saemaul, Desa di Gunungkidul Terus Berkembang


Prasasti gedung serbaguna Saemaul di Desa Bleberan. Foto: ist

GUNUNGKIDUL – Program Saemaul, yang merupakan kerjasama antara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan Provinsi Gyeongsangbuk, Korea Selatan, di Gunungkidul akan berakhir pada Juli 2019 mendatang.

Realisasi program yang dilaksanakan di wilayah Kecamatan Playen, Gunungkidul tersebut diantaranya pemanfaatan Sumber Air Jambe yang merupakan program alih fungsi teknologi sumber air bersih yang semula menggunakan tenaga diesel menjadi tenaga listrik. Kemudian, green house Tanjung sebagai lokasi pembibitan tanaman pertanian dan pusat budidaya jamur di Desa Bleberan.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X berharap program yang sudah berlangsung selama lima tahun tersebut berdampak positif bagi peningkatan ekonomi warga,

“Saya melihat, program kerja sama ini berjalan baik, yang dilatih juga antusias. Jadi harapan saya program ini bisa dilanjutkan. Program ini harusnya memang membawa manfaat, tidak hanya sekedar di aspek fondasi yang dibangun, tapi juga saya ingin dari fondasi yang sudah ada ini masyarakat dilatih untuk mempraktikannya dan bisa punya ekonomi yang lebih baik. Jadi wilayah di sini juga ikut tumbuh,” ungkap Sri Sultan, usai meninjau lokasi program Saemaul di Desa Bleberan, Rabu (08/05/2019)

Dalam meninjau lokasi, Sri Sultan didampingi Bupati Gunungkidul, Badingah, S.Sos  dan Direktur Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia, Hong Seunghoon

Mengingat program kerjasama akan segera berakhir, Sri Sultan meminta penjelasan yang lebih terperinci terkait sejauh mana target pencapaian keberhasilan pelaksanaan program, mengingat kerjasama akan segera berakhir, 

“Di perjanjian itu kan ditulis untuk ditingkatkan keunggulannya, tapi ditingkatkan itu sejauh mana. Apa hanya sekedar meningkatkan kapasitas atau bagaimana. Karena itu, saya minta diterjemahkan lebih jelas lagi,” tuturnya dikutip dari keerangan Pers Humas Pemda DIY.

Direktur Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia, Hong Seunghoon menjelaskan, setelah penandatanganan kerja sama sister province antara Provinsi Gyeorgsangbuk dengan DIY pada Februari 2005 lalu, dimulailah Program Saemaul. Program pun diawali dengan penandatangan Surat Pernyataan Kehendak Kerja Sama Saemaul Undong antara kedua provinsi pada Mei 2008.

“Kerja sama ini ditindaklanjuti dengan pendirian Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia pada 2013. Dan pada 2016, yayasan menandatangani kesepakatan teknis dengan Pemerintah Daerah DIY,” imbuhnya.

Menurut Hong, untuk Desa Bleberan, pelaksanaan program kerja sama diawali dengan pemberian pelatihan dan diskusi untuk menggali kebutuhan masyarakat. Hingga akhirnya, tahun 2016 dan 2017 yayasan melaksanakan Program Alih Pungsi Teknologi Pelayanan Air Bersih yang sangat diimpikan warga desa, yang airnya bisa mengalir kapanpun selama 24 jam,

“Selain itu, dilakukan gotong royong membangun jalan dan renovasi balai desa. Kami juga membangun dua rumah kaca yang kemudian dikelola oleh Kelompok Wanita Tani PKK," paparnya.

Hong menambahkan, pada 2018, program yang dijalankan ialah pembangunan gedung serbaguna dan dimulainya program usaha budidaya jamur sebanyak 15 kelompok. Pada 2019 ini dilanjutkan lagi progtam budidaya jamur dengan membentuk 15 kelompok lainnya,

“Selanjutnya, yayasan akan membuat Desa Bleberan bisa terkenal sebagai daerah budidaya jamur dengan harapan warga bisa mengembangkan budidaya jamur secara mandiri,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Gunungkidul, Badingah, S.Sos mengatakan, kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Gyeongsangbuk bertujuan untuk pembangunan desa percontohan di DIY. Desa Bleberan, kata dia, adalah salah satu dari tiga desa yang telah dipilih oleh Yayasan Globalisasi Saemaul Indonesia . Dengan adanya kerja sama ini diharapkan desa-desa di Gunungkidul bisa semakin maju, mandiri, dan sejahtera bersama.

Namun demikian, ia mengakui masih ada catatan yang harus diperbaiki dalam pelaksanaan program selama ini,

“Dalam pengerjaan program-program kerja sama ini, masih ada catatan bagi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Salah satunya ialah kurangnya pendampingan, yang masih harus diperhatikan bersama dan ke depan diperbaiki bersama,” tutupnya. (kt1)

Redaktur: Faisal

Berita Terkait

 





Baca Juga