Lika Liku Perjuangan Organisasi Ekstra Kampus Dalam Pengembangan Kualitas Mahasiswa


Alwi Husein Al Habib. Foto:doc

Oleh: Alwi Husein Al Habib*

Organisasi kemahasiswaan (ormawa) ekstra kampus merupakan wadah pembentukan dan pengembangan kualitas mahasiswa. Ormawa ekstra kampus mempunyai fungsi dan peran sebagaimana konsep pendidikan nonformal, yaitu sebagai pelengkap, penambah dan pengganti pendidikan formal yang dirasa kurang memenuhi jam terbang mahasiswa. Dewasa ini, eksistensi ormawa ekstra kampus kurang diperhitungkan, bahkan dinilai meresahkan oleh pihak yang “terganggu” akan adanya ormawa bahkan dari kalangan mahasiswa sendiri. Padahal dengan adanya ormawa ekstra kampus ini mahasiswa bisa belajar dan memahami hakikat mahasiswa yang tidak mereka dapatkan di bangku perkuliahan.

Kampus bukan hanya menjadi pusat Ilmu Pengetahuan, riset, dan teknologi, kampus juga disamping sebagai pendesain budaya dan peradaban suatu bangsa, seharusnya menjadi pilar agama, budaya, dan wahana membangun Integrasi Bangsa. Idealisme ini sering dilupakan oleh para birokrat kampus. Bahkan tanggung jawab ini sering diambil alih oleh organisasi ekstra kampus yang dibeberapa universitas eksistensinya kurang begitu dimunculkan.

Bentuk kaderisasi organisasi ekstra kampus merupakan bentuk kaderisasi yang tersusun sistematis dan terukur. Yaitu sistem kaderisasi yang telah tersusun berdasarkan kepada visi, misi dan tujuan organisasi. Dimulai dari masa pengenalan, pembentukan, pengembangan sampai kepada pengabdian. Bentuk kegiatan yang dilakukan bermacam-macam. Baik itu yang menunjang perkuliahan maupun pengembangan skill, minat dan bakat mahasiswa. Kajian keilmuan dan keagamaan, focus group discussion, seminar, lokarkarya dan pengadvokasian masyarakat adalah bentuk kegiatan yang umumnya dilakukan oleh organisasi ekstra kampus.

Tujuan kaderisasi adalah untuk menjadikan mahasiswa sadar akan fitrahnya sebagai zoon politicon (makhluk sosial). Selain itu dengan berorganisasi akan membentuk pribadi manusia yang ber-akademis (memiliki kedalaman intelektual), pencipta keadaan yang ideal (social control), pengabdi masyarakat sejati (bermanfaat bagi masyarakat), dan memiliki tanggung untuk membentuk keadaan yang kondusif (mewujudkan masyarakat adil makmur).

Namun ada beberapa faktor penghambat organisasi ekstra kampus menjadi kurang diminati. Diantaranya adalah karena tuntutan zaman. Mengingat semakin banyak mahasiswa prgamatis bermunculan. Biasanya mahasiswa lebih tertarik terhadap organisasi yang dapat memberikannya manfaat secara instan. Maka pertanyaan pertama mahasiswa terhadap organisasi ekstra berbeda antara kini dan dulu. Pertanyaannya kini adalah “apa yang akan Saya dapatkan di organisasi ini?” bukan “apa yang bisa Saya lakukan untuk organisasi ini?”.

Faktor lainnya adalah tuntutan dari orang tua yang menginginkan anaknya untuk cepat selesai kuliah, segera bekerja lalu menikah. Tanpa memperhitungkan penunjang anak selama kuliah dan hakikatnya sebagai mahasiswa. Yang terpenting anaknya cepat selesai dengan nilai yang memuaskan. Selain itu, perkaderan dengan jangka waktu yang lama juga menjadi alasan kurang diminatinya organisasi ekstra kampus. Bahkan di beberapa organisasi ada yang menerapkan sistem kader seumur hidup (setelah di baiat).

Selain faktor eksternal, ada pula faktor internal yang menjadikan organisasi ekstra kampus kurang diminati. Diantaranya pengurus organisasi yang kurang kepekaan dan kesadarannya dalam mengelola organisasi. Karena kualitas pengurus adalah kunci kemajuan organisasi. Kreatifitas pengurus dalam mengemas organisasi sedemikian rupa akan menarik mahasiswa untuk berorganisasi.

Terkadang kader organisasi ekstra kampus itu sendiri tidak mencerminkan layaknya seorang kader yang berproses di organisasi. Banyak kader yang lulus di semester tambahan dengan alasan fokus berorganisasi. Citra organisasi juga semakin terkikis oleh sikap dan prilaku kader yang tidak sesuai dengan visi, misi dan tujuan organisasi. Sehingga menimbulkan stigma negatif terhadap organisasi ekstra kampus.

Entah apa yang membuat akademik di kampus di padatkan. Mungkin untuk memiliki akselerasi dalam mewujudkan cita-cita bangsa yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa (cita-cita akademis). Konsekuensi logis dari padatnya akademik atau perkuliahan di kampus adalah mahasiswa memiliki kecenderungan untuk tidak bergabung dengan organisasi ekstra kampus.

Organisasi ekstra kampus menjadi titik temu antara upaya pembinaan karakter dengan peningkatan kualitas hasil dari proses pendidikan. Sehingga wujud nyata dari praktik-praktik akademik yang dilakukan oleh para mahasiswa dapatdiklasifikasikan ke dalam beberapa Varian mahasiswa, yaitu: Mahasiswa Aktivis (Kura-Kura/ Kuliahrapat), Mahasiswa Study Oriented (Kupu-Kupu/KuliahPulang), dan mahasiswa Medioker (Kunang-Kunang/KuliahNongkrong).

Upaya yang harus dilakukan organisasi ekstra kampus untuk meningkatkan eksistensi dan mewujudkan cita-cita mulianya yaitu dengan memberikan motivasi kepada para anggota dan pengurus, mendobrak pemikiran mahasiswa, mengadakan kegiatan yang menarik, meningkatkan komunikasi dan koordinasi dan memberikan pemahaman terhadap para mahasiswa bahwa berpartisipasi aktif dalam organisasi kemahasiswaan merupakan ruang uji demokrasi, politik dan laboratorium untuk berlatih menjadi seorang pemimpin yang baik.Wallahu a’lam bi al shawab.(*)

*Penulis adalah Kabid PTKP HMI Komisariat Iqbal Korkom Walisongo Semarang dan Director of Center for Democracy and Religious Studies Kota Semarang


 





Baca Juga