Senin, 21/10/2019 19:33 WIB | Dibaca: 105 kali

Bahasa Humor Dalam Sampaikan Aspirasi Politik Bukan Hal Baru


Komika Sakdiyah Ma'ruf saat saat menjadi pembicara utama dalam seminar bulanan Melawan Dengan Gembira di PSKK UGM. Foto: ist

YOGYAKARTA - Penggunaan bahasa humor dalam poster maupun spanduk pada berbagai aksi demonstrasi mahasiswa kian marak dijumpai dalam beberapa waktu terakhir. Komika Sakdiyah Ma'ruf mengatakan bahwa humor dalam komunikasi politik bukanlah suatu hal yang baru. Awalnya humor banyak dipakai kaum marjinal sebagai alat berbicara.

“Rakyat kecil dan kelompok minoritas menggunakan olok-olok untuk refleksi diri sendiri sekaligus merefleksikan kondisi bangsa,”tuturnya, Senin (21/10/2019) saat menjadi pembicara utama dalam seminar bulanan Melawan Dengan Gembira: Humor Dalam Komunikasi Politik Kebangsaan di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM.

Saat ini bahasa humor, kata dia, kembali banyak bermunculan dalam aksi-aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa yang merupakan bagian dari generasi milenial. Para kaum milenial berusaha menyampaikan aspirasi politik mereka melalui  cara baru yakni dengan poster ataupun spanduk demo yang dikemas dalam gaya humor.

Sakdiyah menyebutkan setidaknya ada empat gaya yang sering digunakan dalam aksi demo mahasiswa. Salah satunya yang langsung berfokus pada isu yang tengah berkembang di masyarakat. Misalnya saja pada demo mahasiswa di Gedung DPR/MPR yang menolajkRKUHP dan UU KPK. Contoh poster dengan gaya ini adalah “DPR Udah Paling Bener Tidur; Malah Disuruh Kerja”.

Berikutnya, menggunakan referensi budaya pop.Salah satu contohnya penggunaan kata-kata “Drama Korea Tidak Seasik Drama DPR”.

Referensi kehidupan pribadi juga kerap menjadi bahan dalam penyampaian aspirasi demonstarsi mahasiswa. Seperti dalam poster bertuliskan Cukup Cintaku Yang kandas, KPK Jangan.

“Terakhir dengan penggunaan bahasa secara acak seperti poster bertuliskan “Aku Bingung Ameh Nulis Opo”,”jelasnya.

Sakdiyah menyebutkan bahwa saat ini sebenarnya terjadi krisis selera humor di masyarakat tanah air, terutama saat kampanye pemilu 2019 . Menurutnya, tradisi humor politik menemui puncak kejayaan di saat era pemerintahan presiden Gus Dur.

“Terobosan sangat diperlukan dan hanya bisa muncul dari keterbukaan dan kenegarawanan para politisi dan pemimpin bangsa,” katanya.

Karenanya dia berharap komedian-komedian tanah air bisa lebih berani menyampaikan aspirasi melalui guyonannya. Dia berharap dalam 5 tahun mendatang satir bisa memimpin sebagai kontrol.

“Kalau media jadi pilar ke-4 demokrasi, maka satir harapanya bisa menjadi pilar ke-5 demokrasi,” pungkasnya. (kt1)

Redaktur: Faisal

Berita Terkait

 





Baca Juga