Kamis, 28/11/2019 21:27 WIB | Dibaca: 303 kali

Mengatasi Radikalisme dengan Jihad Berwirausaha


Fitra Istianah Turahman. Foto:ist

Oleh: Fitra Istianah Turahman

Dewasa ini, Indonesia sedang mengalami beberapa problematika salah satunya terkait isu radikalisme. Situasi tersebut sangat meresahkan karena gerakan radikalisme semakin marak berkembang dikalangan masyarakat dan mulai merambah menuju kelompok intelektual, seperti mahasiswa. Masalah itu dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas bangsa Indonesia apabila tidak ditanggulangi dari sekarang. Radikalisme itu sendiri merupakan sebuah ideologi yang menginginkan perubahan namun dengan menggunakan cara kekerasan. Sehingga dengan adanya tujuan perubahan tersebut perlu merekrut kader-kader yang dapat mendukung jalannya gerakan tersebut.

kekhawatiran adanya radikalisme terkait dengan mahasiswa dikarenakan mahasiswa yang dipandang berperan penting sebagai Agent Of Change dan memiliki tingkat intelektual yang tinggi menjadi sasaran para pelaku paham radikal karena di era globalisasi ini generasi muda seperti mahasiswa lebih menguasai teknologi yang sangat berpengaruh penting dalam dunia dibandingkan generasi sebelumnya. Secara garis besar radikalisme disebabkan oleh faktor ideologi dan faktor non-ideologi seperti ekonomi, politik, sosial dan budaya. Dalam hal ini faktor ideologi sangat sulit untuk diberantas dalam jangka pendek dan memerlukan perencanaan yang matang sebab berkaitan dengan keyakinan yang sudah kuat dipegang pada keagamaan. Faktor ini dapat diberantas melalui pendidikan karakter dan pendekatan keagamaan. Sementara salah satu faktor non-ideologi yaitu ekonomi lebih mudah untuk diatasi yaitu dengan membuat taraf hidup mereka lebih layak guna meningkatkan finansial mereka.

Melihat dari sisi ekonomi alasan mengapa mayoritas mahasiswa yang menjadi sasaran empuk dalam masuknya paham radikalisme dikarenakan mahasiswa dari sisi finansial masih kekurangan dibandingkan masyarakat yang taraf hidupnya lebih tinggi. Hal tersebut timbul atas dasar keinginan meningkatkan taraf hidup yang lebih layak dari sebelumnya didukung dengan dokrin para pelaku paham radikalisme terkait finansial sekaligus membuat mahasiswa tertarik dengan ungkapan pasukan jihad.

Dalam buku Ensiklopedia Muslimah Reformis oleh Musdah Mulia, yang berargumen bahwa akar persoalan munculnya gerakan radikalisme yang cukup dominan adalah kemiskinan (poverty), ketidakadilan (injustice), dan kesenjangan sosial (social inequality). Tiga hal tersebut menjadi persoalan dasar yang dapat menimbulkan kertidakberdayaan dan mendorong kelompok-kelompok yang merasa dirugikan melakukan perlawanan. Berdasarkan argumen tersebut ekonomi menjadi faktor yang cukup dominan terkait radikalisme.

Jika dilihat dari sudut pandang dunia perkuliahan, menurut fakta yang dilansir suaramerdeka.com (2018), Komjen pol Suhardi menyampaikan bahwa tidak sedikit mahasiswa di perguruan tinggi di Indonesia terpapar paham radikalisme. Modus yang dilancarkan untuk menyebarkan radikalisme di kalangan mahasiswa yang paling dominan adalah berkaitan dengan kebutuhan ekonomi misalnya membantu mencari tempat tinggal untuk para mahasiswa baru sebagai langkah dalam merekrut mahasiswa baru agar bergabung dalam komunitasnya. Selain itu, model penyebaran radikalisme dilakukan melalui doktrin kepada mahasiswa, seperti meminjamkan buku-buku bermuatan radikalisme, menyebarkan isu intoleransi di asrama mahasiswa, atau menggunakan tempat ibadah sebagai wadah dalam penyebaran isu-isu provokatif.

Setelah mengetahui hal tersebut perlu adanya upaya penanggulangan, salah satu strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengoptimalisasi soft skill dalam berwirausaha. Tujuan dari strategi ini supaya perhatian mahasiswa dapat teralihkan dari komunitas-komunitas radikalisme. Solusi ini dapat direalisasikan melalui berwirausaha baik melalui usaha mandiri maupun kerjasama. Upaya tersebut dilakukan guna memberikan semangat kemandirian mahasiswa dan bekal masa depan, baik ketika masih aktif di kampus maupun setelah lulus.

Dibanding ungkapan radikalisme menegakan islam dengan mendirikan negara khilafah sebagai jihad, wirausaha dapat menjadi salah satu bentuk realisasi dari jihad. Berwirausaha  menjadi salah satu faktor pendukung yang dapat dilakukan dalam menangkal akar radikalisme. Sebab dengan adanya berwirausaha dapat menghasilkan penghasilan yang menunjang faktor ekonomi terkait lemahnya finansial yang dimiliki. Berwirausaha ini juga diharapkan dapat  mengubah cara pandang mahasiswa sebagai generasi bangsa dalam memahami konteks jihad yang hanya terbatas pada peperangan.

Dengan demikian, upaya tersebut dapat bermanfaat bukan hanya untuk diri sendiri namun juga untuk yang lainnya. Karena dengan adanya berwirausaha mahasiswa dapat menjual produk dari usaha tersebut supaya memberikan nilai guna atau manfaat kepada konsumen dan juga mendapatkan keuntungan/laba dari hasil produk usahanya. Dalam kegiatan wirausaha mahasiswa yang dapat dikatakan pemula juga perlu adanya dukungan dari sejumlah pihak seperti universitas, pemerintaha dan masyarakat. Universitas dapat melakukan sosialisasi dari ospek dan pamflet agar mahasiswa minat dalam menggali dan mengembangkan IsoftskillI yang dimilikinya terutama dalam berwirausaha didukung oleh peran dosen yang dapat menjelaskan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan dalam berwirausaha. Dari pihak pemerintah dan masyarakat dapat memberikan sosialisasi seperti cara menjadi wirausaha yang sukses dan sarana untuk berwirausaha.

Wirausaha atau berdagang merupakan sunnah Rasulullah SAW bagi umat Islam. Hal ini dikarenakan Rasullullah SAW juga banyak mengahabiskan masa hidupnya berwirausaha sekitar 25 tahun. Maka hal ini bisa menjadi contoh yang baik untuk diterapkan oleh umatnya. Wirausaha yang sesuai dengan sunnahnya adalah berwirausaha yang lebih kepada bentuk ibadah kepada Allah karena apapun yang dilakukan manusia harus memiliki niat untuk beribadah kepada-Nya. Diiringi dengan niat yang baik, jalan rezeki dalam berwirausaha tentunya akan dipermudah oleh Allah SWT.  Seorang wirausaha akan mendapatkan tempat yang terhormat dalam ajaran islam, seperti yang sabda Rasulullah SAW: ”Mata pencarian apakah yang paling baik, ya rasulullah? Jawab Beliau: Ialah seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang bersih.”

Dengan demikian mahasiswa dapat lebih fokus dalam kegiatan usahanya yang dapat meningkatkan finansial dan dapat menjadi bekal untuk masa depan dalam bersaing di dunia usaha. Dan dengan hal tersebut fokus mahasiwa terhadap paham radikalisme dapat teralih. Sehingga akan berdampak pada pengkaderan paham radikalisme yang seiring waktu akan berkurang, apabila terus menerus berkurang maka dapat menghilangkan pelaku paham radikalisme. Sehingga berwirrausaha dapat menjadi salah satu solusi dalam mengatasi radikalisme selain penanggulangan dari faktor ideologi. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Berita Terkait

 





Baca Juga