Minggu, 01/12/2019 01:13 WIB | Dibaca: 153 kali

Mengenal Mahasantri


Wahdah Oktafia Hasanah. Foto:ist

Oleh:Wahdah Oktafia Hasanah

Di era sekarang menjadi Mahasiswa adalah impian banyak orang. Kuliah di perguruan tinggi favorit, pandai berbicara di depan umum, aktif berorganisasi, dan berIP tinggi. Hal tersebut merupakan impian yang umum. Pergaulan yang bebas, kurangnya pengetahuan agama dan lemahnya iman dapat menggugurkan impian para Mahasiswa. lalu bagaiman menyikapinya? Banyak Mahasiswa memilih jalan berkuliah dengan mondok sehingga mereka sering dijuluki sebagai Maha santri. Dengan memondok Mahasiswa dapat membentengi dirinya dari pergaulan bebas dan mendapatka pengetahuan agama yang dapat menambah keimanannya.

Mahasantri atau Mahasiswa Santri merupakan Mahasiswa yang mendalami ilmu agama di Pondok Pesantren. Selain kuliah , Mahasantri seperti santri pada biasanya, melaksanakan sholat berjama’ah, membaca, mengkaji dan menghafal Al-Qur’an dan Kitab, namun bedanya santri dan Mahasantri adalah Santri biasa sangatlah ketat tidak boleh membawa alat komuikasi seperti handphone dan laptop, namun Mahasantri boleh membawanya.

Banyak orang mengira menjadi Mahasantri itu berat dan pasti tidak akan bisa membagi waktunya untuk belajar. kiraan tersebut tidaklah benar, mengapa? Menjadi Mahasiswa memiliki waktu yang sangat luang untuk belajar di luar kampus, sehingga mereka malah banyak menghabiskan waktunya untuk besenang-senang, seperti jalan-jalan, nongkrong sana-sini, melakukan hal yang tidak bermanfaat.

Lalu Abdul Aziz Ramli biasa disapa Ajis ,seorang Mahasantri semester 6 jurusan Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Darussalam Gontor. Ajis merupakan Selebgram dan Youtuber. Betapa hebatnya dia membagi waktunya untuk membuat video, kuliah dan mondok. Karena kuliahnya dari pagi samapai siang, jadi waktu siang kosong, banyak temannya yang menggunakan waktu luang tersebut untuk digunakan berorganisasi, karena Ajis tidak terlalu tertarik dengan organisasi maka Ajis berinisiatif membuat video. Awalnya memang susah Ajis harus mencari teman, mencari referensi untuk membikin konsep video, pengambilan video dan editing video. Terkadang mengedit video sampai jam 3 pagi dan paginya Ajis harus kuliah, betapa pintarnya dia memanfaatkan waktu tanpa menggangu kegaiatan pondok. Ajis memiliki prinsip, prinsipnya adalah dia harus tanggungjawab terhadap kuliahnya dan  jangan sampai mengulang di semester depan dan Alhamdulillah sampai sekarang Ia kuliahnya lancar.

Dengan menjadi Mahasantri kita dapat membagi waktu dan mendisiplinkan waktu. Dan dengan menjadi Mahasantri kita mendapatkan ilmu akhirat di Pondok Pesantren, apalagi jika kita memiliki mata kuliah yang beraitan dengan Agama Islam, maka kita memiliki referensi dari yang kita pelajari di pondok. Dengan tinggal di pondok kita memiliki banyak teman dan rsa kekeluargaan dan jiwa korsa yang tinggi.

Namun, tidak semua Mahasiswa yang tidak menjadi Mahasantri itu buruk, semua itu kembali kedalam diri kita masing-masing, akankah kita akan mematuhi segala perintah dan larangan Allah? Dan menjaga kepercyaan orang tua yang telah memberikan kepercayaan dan harapan kepada kita? Semua tergantung pada diri kita masing-masing. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam UIN Walisongo Semarang.

 

Berita Terkait

 





Baca Juga