Minggu, 01/12/2019 20:54 WIB | Dibaca: 238 kali

Santri di Era Revolusi Industri Four Point Zero


Yulia Mayasari. Foto: ist

Oleh: Yulia Mayasari*

Istilah revolusi industri merujuk pada perubahan yang terjadi pada manusia dalam melakukan proses produksinya. Revolusi ini pertama kali muncul pada tahun 1750-an dan  dikenal dengan istilah revolusi industri 1.0. Pada revolusi industri 1.0 terjadi perubahan secara besar-besaran pada bidang pertanian, manufaktur, transfortasi, dan teknologi serta dampak pada kehidupan masyarakat. Kemunculan tenaga mesin uap sebagai pengganti tenaga manusia merupakan tanda perubahan pada revolusi industri 1.0. Peralatan kerja yang awalnya masih tergantung pada manusia dan hewan, mulai saat itu telah tergantikan oleh tenaga mesin.

Kemunculan revolusi industri 2.0 dikenal dengan istilah revolusi teknologi, dimana pada revolusi ini ditandai dengan terciptanya tenaga listrik sebagai sumber utama dan Combustion Chamber (Ruang Pembakaran). Kemudian penemuan ini diikuti oleh munculnya pesawat telepon, mobil serta pesawat terbang secara signifikan. Revolusi Industri 2.0 ini berkembang pesat pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Pada revolusi industri 3.0 dunia sedang bergerak memasuki era digitalisasi. Kemunculan teknologi digital menandai awal mulanya revolusi industri 3.0. Perkembangan teknologi digital ini mempermudah semua pekerjaan manusia, seperti pada dunia bisnis. Pada tahap revolusi ini semua barang dapat terproduksi hanya dalam hitungan jam dan dapat menghasilkan berbagai macam produk dalam skala yang besar.

Ditemukanya internet pada generasi 3.0 menjadi gerbang terbukanya revolusi industri Four Point Zero (4.0). Berdasarkan ensiklopedi umum, definisi Revolusi Industri 4.0 adalah tren di dunia industri yang menggabungkan teknologi otomatis dengan teknolgi siber. Istilah industri 4.0 berasal dari sebuah proyek dalam strategi  teknologi canggih Pemerintahan Jerman yang mengutamakan komputerisasi pabrik.

Berada pada revolusi industri 4.0 seperti saat ini, arus globalisasi  sudah tidak dapat dibendung untuk masuk ke Indonesia. Kecanggihan teknologi dan internet, membuat setiap orang dapat mengakses suatu informasi dengan mudah serta dapat dilakukan dimana dan kapan saja. Tak terkecuali bagi seorang santri.

Santri merupakan seseorang yang notabenya belajar di pondok pesantren guna menimba ilmu agama. Namun, di zaman yang telah mamasuki revolusi industri 4.0 seperti saat ini, seorang santri haruslah mampu beradaptasi untuk menghadapi perkembangan zaman yang sedang terjadi. Seorang santri dituntut untuk memiliki intelektualitas luas, yang bisa menggabungkan antara kehidupan dunia dan akhirat.

Kiprah seorang santri sangat dibutuhkan untuk membawa perubahan. Sebuah perubahan yang mampu memberikan contoh baik serta dapat menghadapi revolusi industri 4.0 secara bijaksana. Pasalnya, dari zaman dahulu hingga  sekarang, sosok seorang santri merupakan harapan dan sebagai  pembawa perubahan dalam masyarakat. Masyarakat tidak memandang seperti apa latar belakang kehidupan santri tersebut. Mereka beranggapan bahwa santri itu adalah manusia yang serba bisa. Selain itu, santri tetaplah di pandang sebagai sosok yang dapat menjadi contoh dan mengerti agama dengan baik.

Perubahan dan perkembangan revolusi industri 4.0 sangat dinamis. Sehingga seorang santri yang sejatinya adalah seorang terpelajar, dituntut agar dapat membaca situasi yang sedang terjadi untuk meraih peluang di masa kemajuan zaman. Santri tidak boleh tertinggal dalam arus perkembangan zaman. Walaupun notabenenya tinggal di pesantrean yang identik dengan ilmu agama, namun di zaman milenial saat ini seorang santri harus mengua Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK).

Memasuki era revolusi industri 4.0 ini menandakan tantangan yang harus di taklukan semakin besar. Oleh karena itu, seorang santri harus mempunyai strategi khusus selain menguasi bidang agama dan IPTEK, yaitu yang pertama adalah berfikir kritis. Seorang santri harus berfikir kritis guna mengkoneksikan antara informasi-informasi yang muncul di zaman ini dengan mengaitkan pada nilai akidah dan pancasila.

Berani memunculkan gagasan dan memberikan solusi terhadap temuan masalah yang terjadi.  Kemudian, dapat memanfaatkan kemudahan yang ada untuk mencari peluang. Dimana di zaman milenial ini, semua telah tersedia secara lengkap, untuk itu seorang santri harus mampu memanfaatkannya untuk mengembangkan kreatifitas. Nantinya kreativitas tersebut dapat menciptakan sebuah produktifitas di masa yang akan datang. Selain itu, yang terakhir adalah mau berkolaborasi dan membangun relasi. Apabila seorang santri mau berkolaborasi artinya mau untuk bekerja sama dan bersinergi menyatukan potensi yang sama, maka akan tercipta sebuah relasi guna mengikuti perkembangn zaman. Dengan demikian, seorang santri akan tetap dapat menjadi contoh pembawa perubahan di era revolusi industri 4.0. Waulohu’alam bishowab. (*)

*Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Walisongo Semarang

Berita Terkait

 





Baca Juga