Pengamat: Politik Uang Semakin Vulgar

YOGYAKARTA – Pelaksanaan pencoblosan untuk memilih wakil rakyat pada pemilihan calon anggota legislatif untuk periode 2014 – 2019 mendatang sudah usai meskipun proses penghitungan suara baik yang dilakukan oleh internal partai atau tim sukses caleg maupun oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih berlangsing.

Tentu dengan berbagai pernak-pernik mulai dari pelaksanaan kampanye hingga pada saat pelaksanaan kampanye pun menjadi catatan tersendiri dari banyak kalangan.

Dr. Hempri Suyatna Dosen Fisipol Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memberikan catatan terhadap pelaksanaan pemilu legislatif tahun 2014 ini. “Pemilu 2014 ini tidak lebih baik dari pemilu sebelumnya,” kata dia kepada Jogjakartanews.com, Selasa (15/4/2014) pagi.

Hempri pun mengatakan, dalam beberapa hal pemilu kali ini lebih buruk. “Politik uang yang semakin vulgar dengan sistim bitingan, tebasan, pemberian barang-barang, sembako dan alat ibadah gencar dilakukan,” tambahnya.

Lebih lanjut dia menerangkan kader-kader lama yang berjuang seringkali tersingkir dengan caleg-caleg baru yang mengandalkan uang. “Sayangnya, Panwaslu kelihatannya kurang bergigi di dalam mengatasi masalah-masalah politik hang terse but,” imbuhnya.

“Politik uang telah merusak nilai-nilai demokrasi dan menggerus nilai-nilai sosial masyarakat,” kata dosen Fisipol UGM yang juga sebagai anggota Forum Pemantau Independen Pakta Integritas (Forpi) Sleman itu.

Dia juga menambahkan bahwa munculnya fenomena politik kekerabatan yang dikembangkan oleh elit politik, banyak kerabat dari elit yang maju Dan berhasil jadi. “Harus ada koreksi atas sistem politik dengan suara terbanyak karena cenderung lebih banyak madhorotnya daripada kemanfaatan bagi masyarakat,” katanya. (bhr)

Redaktur: Azwar Anas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *