KGPAA Paku Alam IX Tilik Warga: Ojo Sok Nganggo Tembung Kawulo Alit

GUNUNGKIDUL – Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Paduka Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aaryo (KGPAA) Paku Alam (PA) IX menemui anggota Kelompok Tani Ngudi Rejeki, dusun Karang Tengah, Semugih dan anggota Kelompok Tani Mulyo, Dusun Pring Ombo, Desa Pring Ombo, Kecamatan Rongkop, Gununkidul, Rabu (29/10/2014) pagi.

Ketua Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Ramin mengatakan, Kunjungan Wakil Gubernur (Wagub) sekaligus Raja Pura Paku Alam tersebut memang terkesan mendadak, sehingga warga dan pejabat Desa dan Kecamatan tidak sempat mempersiapkan penyambutan yang lebih layak, sebagaimana biasa dilakukan.

“Kami diberitahu mendadak, kemarin (Rabu, 28/10/2014) petang,” ujar Ramin.

Kunjungan tilik warga sudah biasa dilakukan PA IX , namun memang biasanyanya mendadak. Awak media yang biasa meliput di Pemda DIY bahkan kadang luput memberitakan.

Dalam kunjungannya kali ini Wagub didampingi Wakil Bupati Gunungkidul Drs.H.Imawan Wahyudi, Kepala Dinas Pertanian DIY Ir.Sasongko, serta Camat Rongkop Asis Budiarto. 

Piye kabare dulur, podho waras to. Aku melu seneng yen podho waras lan sehat, aku seneng banget, aku marem banget biso ketemu para sedulur, (Apa kabar saudara-saudara, sehat semua kan? Saya senang kalau semuanya sehat. Saya sangat bahagia bisa bertemu saudara-saudara)” tutur Sri Paduka mengawali dialog saat bertemu langsung dengan warganya.

Sri Paduka menuturkan, jika kedatangannya hanya untuk memastikan apakah warga yang telah menerima bantuan kambing meningkat kesejahteraannya.

Menanggapi apa yang disampaikan Sri Paduka, Ketua Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Ramin menjelaskan bahwa bantuan kambing dari Pemda DIY yang diberikan tahun 2013 sudah berkembang.

Dijelaskan Ramin, kambing yang awalnya berjumlah 48 ekor dengan perincian betina 42 ekor jantan 6 ekor saat ini telah menjadi 77 ekor dengan perincian betina 63 dan jantan 14 .

Sementara Ketua Kelompok Tani Mulyo, Yusmandar dalam laporannya menjelaskan kambing bantuan dari warga Tionghoa melalui Sri Paduka Paku Alam IX pada tahun 2012 yang berjumlah 12 saat ini juga telah berkembang.

“Sekarang sudah beranak menjadi 26 ekor bahkan dari 26 tersebut saat ini juga telah bunting tinggal menunggu anak kambingnya lahir,” katanya.

Mendapatkan laporan tersebut Sri Paduka mengaku ikut bangga dan berpesan pada warga anggota kelompok agar jangan tergesa-gesa menjual kambingnya sebelum beranak pinak, kalau memang tidak mempunyai kebutuhan mendesak. Sri Paduka juga menyarankan agar dilakukan pengembangan dengan kawin silang antara kambing lokal dengan kambing etawa (PE).

Dalam kesempatan dialog tersebut Sri Paduka juga mempertanyakan bagaimana ketersedian pangan warga apakah masih cukup sampai pada musim penghujan mendatang.

Menjawab pertanyaan Sri Paduka, Yusmandar mengungkapkan hingga akhir Oktober ini dalam kelompok masih memilki simpanan pangan berupa gabah kering sebanyak 4 ton 6 kwintal di gudang.

“Sedangkan pangan lainnya berupa polo kependem seperti suweg, gembili, uwi ganyong dan garut masing-masing KK punya, sehinggameskipun kata orang musim paceklik warga di rongkop tidak akan kelaparan, karena hasil bumi polo kependem tersebut tersimpan baik di kebun-kebun warga,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut Sri Paduka juga memberikan motivasi kepada warga agar lebih percaya diri menjadi maju dalam mengembangkan usaha, sehingga sukses.

Aku wanti-wanti ojo sok nganggo tembung kawulo alit, lha kapan le dadi gedhe nek sak lawase dadi kawulo alit. Mongko pangajabku sedulur kabeh, putrane diajari, ibune dikandani ojo sok nganggo tembung kawulo alit, nek ngono terus njur kapan le dadi gedhe. (Saya pesan kepada saudara-saudaruku jangan senang menggunakan perkataan (Orang kecil), terus kapan menjadi besar, kalu selalu kawula kecil, sementara harapanku saudaraku, putranya, ibunya diberitahu jangan sekali-kali menggunakan per kataan kawula alit, kalau selalu demikian kapan akan bisa menjadi besar),” pesan Sri Paduka.

Sri Paduka juga berharap agar warga saling bahu membahu bekerja keras membangun desanya dengan memanfaatkan potensi yang ada.

“Dikembangkan dan dikelola dengan baik agar dikemudian hari anak cucu kita masih tetap menikmati anugrah Tuhan yang Maha Esa ini. Jagalah lingkungan dengan baik,” tutupnya. (pr/humas pemda diy)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.