Lawan Kanker Serviks Dengan Tinggalkan Prostitusi

Oleh: Ratu Givana, Ahli Kanker Indonesia “Tramedika Internasional”

Meniti realitas Ibu Kota negara Indonesia, DKI Jakarta. Sebuah kota Metropolitan yang memiliki khasanah dan rupa yang beragam seakan memberi kesan kota ini memiliki segalanya. Kota yang terdiri dari masyarakat, mulai yang termiskin dan terkaya serta paling “alim” hingga paling “bejat”, sangat lengkap ada di Ibu Kota. Peraturan demi peraturan pun dibuat di kota ini, guna terus berbenah membangun Ibu Kota Jakarta agar menjadi lebih baik. Namun, betapa terkejutnya dengan Regulasi yang ditawarkan oleh Pemerintah DKI Jakarta beberapa pekan lalu. Terlepas dari pengalihan opini dan isu nasional, sungguh sangat tidak tepat jika Prostitusi dilokalisasikan.

Secara kesehatan, Sex bebas melahirkan beragam penyakit. Sebuah alasan yang tidak dapat diterima dengan akal sehat bahwa lokalisasi dapat mengurangi sek bebas yang “berceceran”. Sebaliknya, lokalisasi hanyalah sebuah ide untuk merapikan kerja Prostitusi yang hari ini dianggap belum rapi mulai dari setoran sampai “jatah premannya”.
Padahal dampak dari sex bebas itu sangatlah nyata, salah satunya kanker serviks yang saat ini masih sering dianggap remeh oleh banyak kalangan masyarakat umum. Hal ini karena kurang tersosialisanya tentang kesehatan dan bahayanya kanker serviks yang berefek pada reproduksi dan matinya generasi manusia.

Isu yang beberapa waktu mengejutkan tersebut, bukan hanya membuat para alim ulama’ geram, namun juga mengiris hati para dokter dan ahli kanker Indonesia. Dampaknya seakan-akan membuat kerja para dokter tidak membuahkan hasil maksimal dengan tidak berkurangnya jumlah penderita kanker serviks, namun sebaliknya malah bertambah. Yang paling disayangkan, ketika beragam pro kontra muncul, tidak ada inisiatif dari para pejabat pemerintah untuk membuat aturan yang tepat tentang Prostitusi. Semua seakan “cuci tangan” dengan isue kejadian tersebut.

Jika prostitusi menjadi legal serta menjadi ruang komersil bagi sebagian masyarakat. Peran dokter dan ahli kanker tentu semakin bertambah berat. Hal ini karena semua proses perbaikan tidak didukung dengan regulasi yang ada.

Mengenal Kanker Serviks.

Mencoba untuk mengenal kanker serviks lebih mendalam. Secara mendasar Kanker serviks adalah keganasan yang terjadi pada leher rahim. Kanker serviks disebut juga kanker leher rahim atau kanker mulut rahim yang dimulai pada lapisan serviks. Kanker serviks terbentuk sangat perlahan, dan dapat terjadi bertahun-tahun dan terdeteksi awalnya dari kelainan pada sel sel serviks, yang disebut displasia melalui tes Pap smear. Kanker serviks ada 2 jenis. Jenis paling umum (80-90%) adalah karsinoma sel skuamosa, dan sisanya adalah tipe adenokarsinoma (dimulai pada sel-sel kelenjar yang membuat lendir). Jenis lainnya (seperti melanoma, sarkoma, dan limfoma) yang paling sering terjadi di bagian lain dari tubuh.

Hingga saat ini, jumlah prevalensi wanita pengidap kanker serviks di Indonesia terus bertambah. Setiap hari, ditemukan 40-45 bahkan lebih pada kasus baru dengan jumlah kematian mencapai 20-25 orang. Sementara jumlah wanita yang berisiko mengidap kanker serviks mencapai 48 juta orang, sedangkan jumlah masyarakat Jakarta saja tidak mencapai setengahnya. Ini artinya Kanker serviks dengan jumlah penderita banyak juga dialami oleh kalangan masyarakat diluar jakarta. Hampir rata-rata Kanker serviks baru dapat terdeteksi saat Pasien melakukan konsultasi dan pemeriksaan. Jumlah ini hampir keseluruhannya  tergolong stadium lanjut sehingga sulit diobati. Padahal jika dari awal dapat dideteksi, penangannya akan lebih mudah dan cepat. Hal ini tejadi atas tidak disadarinya bahwa prilaku harian menjurus pada kehidupan bebas tanpa batas.

Secara umum Kanker serviks cenderung diderita oleh wanita paruh baya. Kebanyakan kasus ditemukan pada wanita yang dibawah 50 tahun. Ini jarang terjadi pada wanita muda (usia 20 tahunan).

Penyebab Kanker Serviks

Secara kedokteran, Kanker serviks tumbuh disebabkan oleh  Infeksi HPV (human papilloma virus). HPV adalah kumpulan lebih dari 100 virus yang berhubungan, yang dapat menginfeksi sel-sel pada permukaan kulit, ditularkan melalui kontak kulit seperti vagina, anal, atau oral seks. Bila tidak segera diobati, infeksi Virus HPV ini dalam jangka panjang dapat menyebabkan terbentuknya sel-sel pra kanker serviks.

Melakukan hubungan seks tidak aman terutama pada usia muda atau memiliki banyak pasangan seks, memungkinkan terjadinya infeksi virus HPV. Tiga dari empat kasus baru infeksi virus HPV menyerang wanita muda (usia 15-24 tahun). Infeksi Virus HPV dapat terjadi dalam 2-3 tahun pertama mereka aktif secara seksual. Pada usia remaja (12-20 tahun) organ reproduksi wanita sedang aktif berkembang. Rangsangan penis/sperma dapat memicu perubahan sifat sel menjadi tidak normal, apalagi bila terjadi luka saat berhubungan seksual dan kemudian infeksi Virus HPV. Sel abnormal inilah yang berpotensi tinggi menyebabkan kanker serviks.

Selain dari itu seks bebas, wanita perokok juga memiliki kemungkinan dua kali lebih besar terkena kanker serviks dibandingkan non-perokok. Rokok mengandung banyak zat beracun yang dapat menyebabkan kanker paru. Zat-zat berbahaya ini dibawa ke dalam aliran darah ke seluruh tubuh ke organ lain juga. Produk sampingan (by-products) rokok seringkali ditemukan pada mukosa serviks dari para wanita perokok. Untuk penderita Infeksi HIV (human immunodeficiency virus),  penyebab AIDS juga dapat meningkatkan resiko kanker serviks. Memiliki HIV membuat sistem kekebalan tubuh wanita lemah, sehingga kurang dapat memerangi infeksi virus HPV.

Tinggalkan Prostusi sejak dini

Sebagai insan manusia, dalam sebuah kesadaran nyata dapat dilihat bahwa tidak ada agama yang sempurna manapun yang memperbolehkan ummatnya melakukan tindakan yang akhirnya dapat merusak diri sendiri. Sek bebas merupakan sebuah tindakan asusila yang sangat nyata, namun karena dibalut dengan komersil maka terkesan boleh dan tepat. Dengan mayoritas kanker serviks mengidap pada wanita muda, dapat diketahui bahwa prostitusi cenderung diisi oleh kaum muda-mudi. Hal ini sangat mengkawatirkan, dikarenakan kasus yang terdata hingga saat ini mayoritas juga kaum muda. Akan sangat kecil kemungkinan, jika kanker serviks dialami oleh wanita normal meskipun ada, namun sangatlah kecil.

Melirik ke daerah Jawa Timur, betapa hebat ketika melihat Bu Risma seorang walikota surabaya, dimana kota tersebut pernah berdiri lokalisasi yang dianggap terbesar di Asia Tenggara, mampu ditutupnya tanpa melukai hati banyak orang. Ini sebuah kesadaran yang nyata bahwa Bu Risma memahami bahayanya dampak sek bebas termasuk bahayanya kanker serviks. Melihat kenyataan perjalanan bangsa Indonesia, entah mengapa semakin lama merdeka bangsa ini, semakin tak terkendalikan tindakan pelanggaran yang dilakukan. Sebagian para pejabat terkesan berjamaah menjalankan tindakan semena-mena. Isu prostitusi kalangan artis pun menjadi marak dan kabarnya pernah di booking oleh pejabat daerah ataupun pusat. Sebagai pemimpin, hal itu sungguh keterlaluan. Pemimpin saja demikian, bagaimana pula dengan masyarakatnya. Tentu pemimpin merupakan simbol bangsa secara general.

Kini semua harus berawal dari diri masing masing sebagai pemilik raga bagi yang dewasa, dan untuk orang tua mulai menjaga dan memberi perhatian khusus kepada anak-anak tentang pentingnya sehat dan menjaga diri. Jika tidak diawali, rasanya tidak akan ada perubahan ditengah miskinnya pengetahuan dan sosialisi pemerintah sebagai penanggungjawab atas cerdas tidaknya masyarakat Indonesia. Mulai dari diri sendiri, orang terdekat dan yang ingin selamat untuk jauhkan Prostitusi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.