Konvernas JAKER Bakal Desak Jokowi Cari Keberadaan Wiji Thukul

JAKARTA – Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat (JAKER) yang salah satu pendirinya sastrawan legendaris Wiji Thukul, bakal menggelar Konferensi Nasional (Konvernas) 2016. Salah satu agenda Konvernas adalah mendesak pemerintahan Joko Widodo –Jusuf Kalla untuk mencari dan menjelaskan keberadaan Wiji Thukul yang hilang di sekitar peristiwa 1998.

“Kami akan mendesak pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla untuk terlibat aktif dalam pencarian Wiji Thukul,” kata Ketua SC Konvernas JAKER 2016, AJ Susmana, dalam keterangan pers yang diterima redaksi, Kamis (25/08/2016).

Susmana menjelaskan, dibidang organisasi , JAKER akan mengemuka wacana untuk Merekomendasikan Wiji Thukul sebagai Ketua Umum dalam kongres mendatang, serta Mendirikan Institute Wiji Thukul untuk pendidikan sosial dan kebudayaan

Konvernas akan dihelat pada 27 – 28 Agustus di Danysa Guest House jln Tebet Dalam II H no 5 Tebet Barat, Jakarta Selatan. Pada hari pertama 27 Agustus, akan dilangsungkan diskusi merumuskan strategi dan taktik kebudayaan dalam membangun bangsa,

“Bagaimana memperkuat kebudayaan nasional dalam mewujudkan masyarakat adil dan makmur sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Agustus 1945. Misalnya melalui gerakan literasi dan pendidikan, termasuk workshop seni dan budaya,” ujarnya.

Pada hari kedua, Konferensi Nasional JAKER akan ditutup dengan Panggung Kebudayaan Rakyat di Kedai kopi damarbhumi, jalan Sawo kecik raya no 2A kel. Bukit Duri – Tebet- Jakarta Selatan. Dalam Konvernas, JAKER juga akan turut mendorong pendirian koperasi sebagai jalan kemandirian nasional.

Ketua JAKER, Tejo Priyono, menambahkan bahwa Perkembangan globalisasi, yang juga disertai dengan perkembangan teknologi informasi dan pasar bebas, membawa imbas terhadap para pekerja seni dan budaya saat ini.

“Kita hanya diberi pilihan: bertahan agar tetap survive atau dilibas geraknya,” katanya.

Tejo juga menandaskan bahwa kebudayaan harus dipandang sebagai kekuatan dan tidak boleh absen dalam membangun revolusi mental.

“Dengan nilai dan semangat gotong royong yang telah mengakar dalam budaya rakyat itulah, kita dapat menyusun kebudayaan nasional yang tangguh dan bermartabat sekaligus terus-menerus memperkuat kedaulatan nasional dan membangun perekonomian nasional yang sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat!” pungkasnya. (kt2)

Redaktur: Rudi F

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.