KKN di Desa Sendiri: Merubah Perkara Insecure Menjadi Bersyukur

Oleh: Mohamad Safii*

Bagi mahasiswa angkatan 2017, tahun ini akan melakukan KKN (Kuliah Kerja Nyata). KKN menjadi salah satu kegiatan yang harus di jalankan bagi Mahasiswa karena masuk dalam muatan SKS. KKN juga menjadi kegiatan yang merealisasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Masih ingetkan apa aja?

Dalam realisasinya, KKN tidak hanya  bermakna Kuliah Kerja Nyata, tapi bisa di maknakan Kuliah Kerja Ngopi, Kuliah Kerja Nyantai, dan Kuliah Kerja Nyanyi atau bisa di maknakan sesukanmu yang penting sesuai, ya (bisa di pilih). Yang paling seru dari KKN adalah ajang mencari jodoh, gebetan, atau selingkuhan dan tentu tak jarang yang mengartikan Kisah Kasih Nyata.

Biasanya KKN di isi kegiatan yang di butuhkan warga setempat. Bisa kegiatan relegius, edukasi, tematik, dan kegiatan lainnya yang menghibur dan seru. Tentunya KKN tidak lupa dengan drama di posko. Drama ini bisa karena soal mencuci piring, jadwal memasak, miskom atau ada geng di dalam posko (biasanya cewek).

Waktu pelaksanaa KKN sesuai kebijakan Kampus masing-masing. Ada yang 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan . Dalam waktu yang cukup lama muncul teori konspirasi. Teori ini berpaham soal percintaan. Pacarmu setia? Suruh KKN. Serukan apa itu KKN.

Soal opini, KKN banyak menimbulkan pendapat masing-masing mahasiswa .Opini yang timbul berupa opini yang mendukung (positif) dan menentang (negatif). Mahasiswa yang beropini mendukung (positif) dan menolak (negatif) pelaksanaan KKN saling seimbang.

Biasanya Mahasiswa sebelum melakasanakan KKN, banyak yang merasa canggung, cemas, merasa belum kenal dengan lokasi yang nantinya akan menjadi tempat KKN serta mengeluhkan lokasi yang jauh, dan takut tidak diterima oleh masyarakat sekitar Desa tempat berlangsungnya KKN tersebut. Atau KKN nya mirip Desa Penari.

Tapi semua itu berubah setalah virus yang tak kasat mata hadir di kehidupan abad 21 ini. Namanya corana virus disease-19 atau covid-19. Maka dengan ini, bayangan angkatan 2017 soal KKN sebelumnya menjadi ambayar.

KKN di era Covid-19 ini di adakan secara individu di Desa sendiri. Dengan progam edukasi tentang covid-19, pencegahannya dan penanggulangan dampak Covid19 . Tentu dengan KKN di Desa sendiri cukup ngeri bagi angkatan 2017. Karena banyak hal baru yang belum ada di KKN sebelumnya.

Tapi bagi penulis, KKN di Desa sendiri menjadi ajang untuk melakukan perubahan dengan pendekatan yang sesaui pola masyarakat Desa kita masing-masing. Tentu kita sebagai putra Daerah lebih paham kondisi sosiologis dan psikologis dari Desa kita. Kalo kata pepatah jawa bali deso bangun deso, soko deso muleh deso.

Kalau yang di keluhkan soal progam yang dilaksakan sendiri atau menghadapi masyarakat sendiri, mungkin itu problem yang kurang tepat. Mengapa, karena kita bisa menggandeng kawan kita yang di rumah atau Karangtaruna untuk membuat progam, melaksanakan progam, dan hal lainnya selama kita KKN. Nggak harus kita sendirian kok.

Kalau di pikir KKN di Desa sendiri jauh lebih keren dari KKN-KKN sebelumnya. Sebab pada akhirnya kita dapat berguna bagi Desa tempat kita lahir dan dibesarkan. KKN inilah menjadi ajang kita untuk mencari kembang Desa anak RW sebelah.

Siapa tau dengan KKN di Desa kita ada semangat berkelanjutan untuk membangun Desa kita dari segi ekonomi, sosial, pendidikan, agama, teknologi, dan perubahan yang mengeluarkan dari kejumudan. Maka dengan ini, KKN di Desa sendiri jangan jadikan perkara insecure mari rubah menjadi bersyukur.

Bersyukur karena kita bisa kuliah dan langsung bisa mengejawantahkan ilmu yang kita peroleh di perguruan tinggi. Karena rasa syukur inilah yang akan membawa kita dalam keadaan hidup yang nyaman dan lillah. Perkara insecure itu pasti ada, tinggal kita membawa rasa insecure itu keamana. Rubah insecure ke bersyukur itulah jalan yang lebih nyata.

Sampai sini, bergaulah dengan semua orang serap pengalaman hidupnya, pelajari, dan ambil poin yang bisa kita terapkan dalam hidup kita. Karena perkara hidup tidak hanya soal sandang, papan, dan pangan. Dengan KKN di Desa sendiri kita bisa menemukan apa itu hidup dan bermasyarakat.(*)

 

*Penulis adalah Mahasiswa Asal Demak yang Kuliah di Unwahas Semarang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com