JAKARTA – Pernyataan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) memicu respons dari sejumlah kalangan. Selain mendapat kritik dari kelompok mahasiswa, pernyataannya juga menuai tanggapan dari beberapa tokoh di Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS).
Dalam pernyataannya, Hashim menegaskan program Makan Bergizi Gratis merupakan bagian dari komitmen pemerintah yang harus dijalankan. Ia juga menyatakan kesiapannya mendatangi kampus untuk berdialog dengan pihak-pihak yang mengkritisi program tersebut.
Pernyataan itu kemudian memicu reaksi dari sejumlah kelompok mahasiswa di beberapa daerah. Mereka mempertanyakan besaran anggaran program MBG yang disebut mencapai sekitar Rp335 triliun dan meminta pemerintah memastikan pengelolaan anggaran dilakukan secara transparan, akuntabel, dan tepat sasaran.
Respons juga datang dari internal FORMAS. Salah satu tokoh Koalisi FORMAS, KH Maksum Hidayatullah, menilai pernyataan Hashim seharusnya disampaikan dengan pendekatan komunikasi yang lebih bijaksana.
“Saya yakin Pak Hashim mungkin keceplosan. Namun komunikasi kepada publik perlu dijaga agar tidak menimbulkan kesalahpahaman,” kata Maksum.
Fungsionaris FORMAS, Ferry Sibarani, juga meminta seluruh pihak mengedepankan evaluasi diri dan menjaga stabilitas politik di tengah perbedaan pandangan mengenai program MBG.
“Harapan kami, semua pihak bisa mengedepankan komunikasi yang baik sehingga tidak memunculkan polemik yang berkepanjangan,” ujarnya.
Sementara itu, mantan pengurus FORMAS yang kini menjabat Wakil Direktur CAJ PWI Pusat, Yono Hartono, mengaku telah mengundurkan diri dari kepengurusan organisasi tersebut karena memiliki perbedaan pandangan mengenai kepemimpinan Hashim.
Menurut Yono, organisasi masyarakat sebaiknya tetap membuka ruang dialog terhadap kritik dan masukan dari publik, terutama terhadap program-program strategis pemerintah.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, serta kelompok rentan lainnya.
Meski demikian, implementasi program tersebut masih menjadi perhatian berbagai kalangan. Selain besaran anggaran, sejumlah pihak juga menyoroti mekanisme pelaksanaan, pengawasan, dan efektivitas program agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat secara optimal.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari Hashim Djojohadikusumo maupun pengurus pusat FORMAS terkait kritik yang disampaikan sejumlah tokoh tersebut.














