Penghormatan kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei Sebagai Momentum Refleksi Kepemimpinan, Kemandirian Bangsa, dan Integritas Moral bagi Indonesia

Oleh: Dadang Sukandar*

Imam Ali Khamenei. Foto: Ist

BANGSA yang besar adalah bangsa yang tidak pernah berhenti belajar dari perjalanan sejarah umat manusia. Peradaban dunia dibangun oleh bangsa-bangsa yang memiliki keberanian untuk mengambil hikmah dari pengalaman negara lain tanpa kehilangan jati dirinya sendiri.

Dalam semangat tersebut, kami berpandangan bahwa penghormatan kepada tokoh-tokoh besar dunia merupakan bagian dari tradisi peradaban yang mencerminkan penghargaan terhadap sejarah, perjuangan, dan warisan pemikiran yang telah memberikan pengaruh bagi bangsanya maupun masyarakat internasional.

Oleh karena itu, kami memandang bahwa para pejabat Republik Indonesia patut diberikan kesempatan dan akses untuk melakukan kunjungan penghormatan pada prosesi pemakaman kepada Ayatullah Sayyid Ali Khamenei sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Republik Islam Iran dan Dunia yang saat ini Prosesi Pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Tersebut tengah berlangsung. Penghormatan tersebut hendaknya dipahami bukan sebagai bentuk keberpihakan politik ataupun ideologi, melainkan sebagai penghargaan terhadap perjalanan sejarah dan kesempatan untuk mempelajari pengalaman sebuah bangsa dalam membangun dirinya atas nama Kemanusiaan , Keadilan dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sejarah menunjukkan bahwa setiap negara memiliki jalan perjuangannya sendiri.Republik Islam Iran membangun berbagai institusi negaranya melalui pengalaman sejarah yang unik pasca Revolusi Islam Iran 1979 dengan menekankan pentingnya kemandirian nasional, pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan kemampuan dalam negeri, serta ketahanan menghadapi berbagai tantangan, dan agenda perlawanan terhadap Amerika dan Zionis Global. Kepemimpinan sejak 1979 yang saat itu Dipimpin oleh Ayatullah Imam Khomeini yang kemudian dilanjutkan oleh Ayatullah Sayyid Ali Khamenei menjadi bagian dari kesinambungan sejarah tersebut.

Bagi Indonesia, pengalaman bangsa lain tidak untuk disalin secara utuh. Sebaliknya, pengalaman itu dapat menjadi bahan refleksi yang memperkaya cara pandang dan cara bertindak dalam membangun bangsa berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan semangat Bhinneka Tunggal Ika.

Esensi yang dapat dipelajari tidak hanya sistem pemerintahannya, melainkan nilai-nilai universal yang dapat ditemukan dalam berbagai peradaban, yaitu keberanian mengambil keputusan demi kepentingan bangsa, keteguhan menjaga kedaulatan, semangat membangun kemandirian ekonomi, ilmu pengetahuan, dan Perlawanan terhadap Amerika dan Zionis Global, serta penghormatan terhadap martabat manusia, juga pentingnya integritas moral dalam penyelenggaraan negara.

Seorang pemimpin sejati tidak hanya meninggalkan bangunan fisik atau kebijakan administratif. Ia meninggalkan karakter, budaya kerja, semangat pengabdian, dan visi jangka panjang yang membentuk generasi berikutnya. Karena itu, sejarah para pemimpin besar dunia layak dipelajari sebagai sumber inspirasi, sekaligus sebagai bahan evaluasi kritis dalam memperkuat kualitas kepemimpinan nasional.

Indonesia memiliki fondasi filosofis yang luhur melalui Pancasila. Nilai Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan bahwa kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan secara moral. Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab menegaskan bahwa pembangunan harus berpihak kepada martabat manusia. Nilai Persatuan Indonesia mengingatkan bahwa kepentingan bangsa berada di atas kepentingan golongan. Sementara nilai Kerakyatan dan Keadilan Sosial menjadi dasar bagi penyelenggaraan pemerintahan yang berpihak kepada kesejahteraan rakyat.

Dalam perspektif tersebut, pembelajaran terhadap pengalaman Iran maupun bangsa-bangsa lain hendaknya mendorong lahirnya pemimpin dan rakyat Indonesia yang memiliki karakter kuat, menjunjung tinggi integritas, sederhana dalam kehidupan, berani mengambil keputusan demi kepentingan rakyat, serta memiliki komitmen yang teguh terhadap pemberantasan korupsi.

Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum, melainkan pengkhianatan terhadap amanah rakyat dan penghambat utama terwujudnya keadilan sosial. Karena itu, pembangunan karakter aparatur negara harus berjalan seiring dengan pembangunan ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Kami berharap dari Republik Islam Iran khususnya Pemimpin yang Baru Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei, Pejabat dan Rakyat Indonesia dapat menyatu dengan Seluruh Masyarakat yang tertindas terhadap Hegemoni Barat dan Zionis Global untuk sama sama belajar dari pengalaman berbagai bangsa khusunya bangsa Iran Pasca Revolusi Islam Iran dan dapat memperkuat tekad Indonesia dalam membangun negara yang mandiri, berdaulat, maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tetap berakar pada nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan, keadilan, dan pengabdian kepada rakyat.

Kami doakan Pemimpin Yang Baru Ayatullah Sayyid Mojtaba Khamenei dan Rakyatnya dapat menjadi tauladan dan Pelindung Negara yang rakyatnya masih ditindas oleh para Penguasa yang Zalim.

Semoga setiap langkah bangsa Indonesia dalam membangun masa depan selalu dilandasi oleh kebijaksanaan sejarah, keteguhan moral, integritas, serta semangat pengabdian demi terwujudnya masyarakat yang adil, makmur, dan bermartabat.

*Penulis adalah Humas Garda Kemerdekaan

58 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com