Iklan Mesin Pembersih di Malaysia Rendahkan PRT Indonesia, Pemerintah Diminta Tegas


Iklan mesin pembersih di Malaysia yang menghina Indonesia. Foto: doc/Istimewa

JAKARTA - Reklame sebuah mesin "robot" pembersih di Malaysia bertuliskan "Fire your Indonesian maid" (bakar pembantu Indonesia anda) membuat berang politisi PDIP, Rieke Diah Pitaloka. Dia mempertanyakan apa yang tersirat dari pembuat iklan tersebut dan apakah penggunaan kalimat semacam itu dianggap lumrah di Malaysia?

“Saya menilai kalimat tersebut mengandung muatan kebencian, perendahan, dan penghinaan terhadap Indonesia. Berbau "anti Indonesia", dengan kata lain mengandung unsur rasial yang tidak bisa dibenarkan dalam etika tata pergaulan internasional, berpotensi mengusik nilai-nilai kesepakatan HAM internasional,” kata Politisi PDI Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka dalam keterangan pers yang diterima jogjakartanews.com, Rabu (04/01/2014).

Menurut Rieke, ini kedua kali iklan semodel dilansir di Malaysia. Menyamakan PRT asal Indonesia tak ubahnya sebagai barang yang bisa diperlakukan semaunya. Atas hal tersebut, Rieke meminta pemerintah Malaysia agar lebih menghargai Pembantu Rumah Tangga (PRT) asal Indonesia.

Pemerintah Malaysia, kata Rieke, pasti mahfum tentang adab pergaulan antar bangsa, model iklan seperti itu bukan solusi, tak bisa dimaklumi sekedar strategi bisnis belaka.

“Saya mendesak pemerintah Malaysia menghentikan iklan tersebut dan pemilik produk meminta maaf terhadap Indonesia sebagai sebuah bangsa," kata Rieke yang Komisi Tenaga Kerja DPR RI.

"Rakyat kami memang banyak yang menjadi PRT di Malaysia, tapi mereka bekerja pada warga Malaysia, bukan mengemis. Tak ada paksaan untuk mempekerjakan rakyat kami. Jika ada persoalan dengan beberapa PRT kami, tentu harus ada penyelesaian, secara adil, dua belah pihak saling lakukan otokritik. Perlakukan hukum yang sama terhadap rakyat kami yang ada di Malaysia dan tak ada diskriminasi hak-haknya sebagai pekerja,” tukas Rieke.

Kepada Pemerintah RI, Rieke juga mendesak agar segera membuat respon diplomatik dan teguran keras. Hal-hal seperti ini, kata Rieke,  tak boleh terulang lagi dalam hubungan Indonesia-Malaysia. Menurutnya, bagi Pemerintah tak cukup protes dan kecam Malaysia.

Bagi Rieke, peristiwa ini juga jadi cambuk pemerintah untuk segera merevolusi mental roadmap ketenagakerjaan, dengan memperkuat industri nasional dengan salah satu tujuan membuka lapangan kerja di dalam negeri.

“Saya yakin Trilayak Rakyat Pekerja (kerja layak, upah layak, hidup layak) tak akan sekedar jadi janji kampanye bagi Presiden Jokowi. Pengiriman TKI tak boleh jadi solusi, ciptakan lapangan kerja dalam negeri tetap harus jadi prioritas. Saatnya janji jadi bukti. Saya bukan hanya mendukung, tapi siap bersama perjuangkan cita-cita itu dari parlemen," tegasnya. (pr/kontributor)

Redaktur: Rudi F

 


 





Baca Juga