Rabu, 01/04/2015 19:11 WIB | Dibaca: 1300 kali

Bisnis Jasa Skripsi yang Tak Lagi Sembunyi-Sembunyi


doc.

YOGYAKARTA - Bisnis jasa pembuatan skripsi yang awalnya dianggap tabu kian hari semakin menjadi-jadi. Bisnis yang menyuburkan produksi sarjana abal-abal, sarjana instan yang asal jadi ini tampak sudah tidak malu lagi untuk mempublikasikan jasanya di tempat-tempat umum. Di setiap pinggir jalan di jogja, tidak susah rasanya menemukan kertas print out bertuliskan jasa bantu skripsi dengan harga plus nomor kontak yang bisa dihubungi. Sayangnya, hingga saat ini, tidak pernah ada tindakan nyata dari otoritas pendidikan untuk memberantas bisnis ini. Sehingga bukannya berkurang, kian hari semakin menjamur.

Pengamat pendidikan, Sumarlina Ningsih mengatakan, selain karena tidak ada tindakan nyata dari pemerintah, maraknya bisnis jasa skripsi dipengaruhi oleh banyaknya mahasiswa yang tidak mahir dalam menulis karya ilmiah. Sehingga mahasiswa memilih jalan pintas supaya kuliahnya cepat lulus," katanya dihubungi via telepon, Rabu (01/04/2015). Selain itu, menurutnya, pihak kampus juga memiliki peran vital dalam mendidik mental mahasiswanya supaya tidak terjerumus kepada cara-cara instan.

"Kampus juga memiliki peran. Makanya setidaknya sejak semeter 4 mahasiswa sudah mulai dibiasakan untuk mengerjakan tugas menulis karya ilmiah. Memang ini sering dilakukan ya, cuma kontrolnya yang tidak ada. Dosen juga terkadang malas untuk mengoreksi sehingga jarang memberikan apresiasi terhadap mahasiswa yang sebenarnya memiliki potensi disitu (menulis ilmiah). Akibatnya, mahasiswa pada akhirnya merasa sudah capek-capek menulis serius, akhirnya cuma ditumpuk ya mending copas aja beres, toh dosen tidak koreksi juga, mahasiswa pada akhirnya berfikiran seperti itu," ucapnya.

"Sehingga saat tiba waktunya mereka menulis tugas akhir, mereka panik, mereka tidak tahu bagaimana caranya menulis ilmiah dengan benar sesuai standar kaedah penulisan ilmiah, sementara disatu sisi sudah terdesak untuk lulus, akhirnya jalan pintas itu diambil," lanjutnya.

Perempuan yang juga salah satu pemilik Yayasan TK Dharma Wanita, Sumenep itu juga mengatakan sebaiknya pemerintah dengan menteri pendidikan yang baru mengambil tindakan nyata. Sebab jasa skripsi instan lebih tercela dari plagiarisme, sementara plagiarisme itu sendiri dalam dunia pendidikan sangat diharamkan. "Ini juga lucu ya, plagiarisme begitu disorot habis, satu kalimat bahkan bisa membuat gelar seorang doktor dicabut, sementara jasa skripsi yang justru lebih menodai dunia pendidikan terkesan dibiarkan," katanya lagi. (Yud)

Redaktur: Rizal


 





Baca Juga