Gas Melon Masih Langka, Pemerintah Disebut Hanya Pentingkan Keuntungan


doc.

YOGYAKARTA - Masih langkanya gas melon di wilayah Yogyakarta membuat sejumlah kalangan angkat bicara. Tidak hanya kalangan rumah tangga dan pengusaha kecil, aktifis pun juga ikut mengomentari langka dan mahalnya gas melon. Salah seorang Aktifis dari Rezim Watch, Ubaidillah bahkan menilai pemerintah hanya mengejar keuntungan semata dan tidak memperdulikan kalangan wong cilik.

"Akhir-akhir ini saya sering mendengar keluhan dari ibu-ibu rumah tangga sebelah rumah saya. Ada juga kalangan pengusaha kecil yang baru memulai usahanya. Mereka mengaku kelimpungan dan sangat mengganggu aktifitas di dapur," Kata Ubai kepada Jogjakartanews.com, Sabtu (16/05/2015).

"Saya mengerti, maksud pemerintah supaya kalangan usaha beralih ke gas besar. Tapi tidak begitu caranya. Akhirnya kan semua kena imbas. Semuanya susah, agen-agen banyak yang nakal memanfaatkan situasi. Sialnya, pemerintah terkesan masih tak peduli," lanjutnya.

Menurutnya, dengan dibiarkannya kondisi ini terlalu lama, pemerintah dianggap hanya mengejar keuntungan semata dengan tak memberikan gas subsidi secara normal pada rakyatnya. "Gas melon ini kan gas bersubsidi, dengan gas melon yang masih dibiarkan langka, jelas beban subsidi pemerintah jadi berkurang. Dengan kata lain, keuntungan pemerintah bertambah karena tak harus dipotong subsidi," tegasnya.

Ia juga mengomentari terkait gas melon bukan untuk kalangan usaha. Baginya, tak semua kalangan usaha mampu menggunakan gas 12 kilogram untuk produksi. "Lihat aja usaha-usaha kecil, warung makan atau lesehan yang kecil-kecil misalkan, yang baru mulai apalagi. Coba hitung aja deh, turun ke lapangan berapa keuntungan mereka jika harus pakai gas gede, untungnya seberapa. Sementara harga-harga bahan pokok yang lain terus melambung, ini tidak adil. Mana presiden baru yang katanya mau memajukan usaha kecil? yang ada sebaliknya, bikin bangkrut," pungkasnya. (Ning)

Redaktur: Syarifuddin

 


 





Baca Juga