Jumat, 14/08/2015 20:32 WIB | Dibaca: 1175 kali

Hey Pemerintah, Kapan Harga Ayam Turun?


ilustrasi. foto: doc/ist

YOGYAKARTA - Harga ayam yang masih stabil di kisaran harga tertingginya saat ini telah membuat masyarakat lelah. Semua kalangan baik rumah tangga hingga pengusaha warung makan mengeluhkan kondisi tersebut yang menurut mereka sangat tidak logis. Pasalnya, harga saat ini terlampau tinggi sementara disatu sisi harga-harga yang lain seperti sayur mayur dan bumbu dapur juga tidak kunjung turun.

"Semua harga terlampau tinggi, jangankan beli daging, makan ayam aja susah, pada akhirnya tahu tempe jadi pilihan, tapi itupun kami harus membeli bumbu dan sayur-sayuran sebagai pendamping dengan harga yang mahal," keluh salah seorang Ibu rumah tangga, Sumina (45) di Kelurahan Demangan, Gondokusuman Yogyakarta, Jum'at (14/08/2015).

Ia pun mempertanyakan komitmen pemerintah untuk menyejahterakan rakyatnya. "Jangankan berbicara kesejahteraan, ini Ayam konsumsi kita yang seharusnya terjangkau, dimana pemerintah, kapan harga turun?" tanyanya.

Sebagaimana diketahui, harga ayam potong di seluruh pasar di Yogyakarta berada di kisaran harga Rp 35 ribu hingga Rp 37 ribu per kilogram. Harga tersebut termasuk harga jual tertinggi ayam potong selama ini.

"Ini harga tertinggi mas, dulu-dulu tidak sampai segini, paling-paling kalau dulu Rp 32 hingga Rp 33 ribu perkilogramnya," tutur salah seorang pedagang Ayam di Pasar Giwangan Yogyakarta, Tono (47).

"Saya gak tau kenapa, perasaan stok stabil tapi harga seperti ini, terlampau mahal. Beda kayak harga daging yang katanya stok daging memang menipis sementara permintaan tetap tinggi," paparnya.

Ilyas (30), salah seorang pedagang lesehan di Yogyakarta mengatakan naiknya harga ayam membuat pelanggannya mengeluh. "Kami jadi serba salah, di satu sisi kami tidak tega karena pelanggan saya rata-rata ramahasiswa, tapi disatu sisi kami tidak boleh rugi," jelas Ilyas.

Ia berharap, harga ayam dan juga harga kebutuhan laginnya segera turun sehingga ia kembali bisa menyesuaikan harga dengan kantong mahasiswa. "Kami selalu menerapkan standar harga yang kompromise, jadi harapannya pemerintah segera hadir menunjukkan perannya untuk mengendalikan harga," harapnya. (Ning)

Redaktur: Herman Wahyudi


 





Baca Juga