Jumat, 23/06/2017 23:11 WIB | Dibaca: 280 kali

Kenaikan Tarif Listrik dan Efek Domino Lebaran


ilustrasi. doc.jogjakartanews

Oleh: Ilham N.A

SEBENTAR lagi Islam di dunia, termasuk di Indonesia merayakan hari raya Idul Fitri 1438 H, setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. Meski demikian, namun masing-masing negara memiliki tradisinya sendiri. Di Indonesia, Idul fitri atau juga dikenal dengan hari lebaran juga memiliki ke khasan sendiri. Mudik atau pulang kampung menjadi salah satu tradisi yang banyak dilakukan. Mungkin di negara lain juga ada, namun barangkali dilihat dari pemberitaan media, tak seheboh yang terjadi di Indonesia dari tahun ke tahun.

Bahkan, mudik menjadi seolah hal yang paling penting untuk merayakan Idul Fitri bagi sebagian besar masyarakat. Dalam momen satu tahun sekali ini, mudik sudah mentradisi, sehingga tak sedikit yang ibaratnya merelakan hasil kerja satu tahun di kota dihabiskan demi berlebaran di kampung.

Setiap kali jelang lebaran, nyaris semua media massa memberitakan arus mudik beserta pernak-perniknya. Melonjaknya konsumsi sumber energi, Bahan Bakar Miyak (BBM), listrik dan tentu saja bahan makanan pokok, termasuk pakaian baru. Apakah itu tujuan kita berpuasa Ramadhan dan itukah makna Idul Fitri yang sebenarnya?  

Bahwa benar, Idul Fitri adalah bermakna hari kemenangan, hari dimana Allah menjanjikan pembebasan dosa, mengembalikan manusia pada fithrahnya, laksana bayi yang baru lahir tanpa dosa. Namun itu bukan tanpa syarat. Tentu, segala ampunan itu hanya berlaku bagi yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan dengan baik. Dan tentu kita tahu bahwa puasa Ramadhan adalah ibadah yang langsung dihisab oleh Allah SWT.

Bahwa barangkali tidak keliru bahwa Idul Fitri adalah momen yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad saw untuk bersilaturahmi dengan sanak saudara, saling memaafkan dengan saling mengucap; taqobalallohu mina wa minkum, minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir batin. Bahwa barangkali tidak salah ketika saat menjalankan shalat ied dianjurkan menggunakan pakaian terbaik dan wewangian. Tapi tentu saja anjuran itu bagi yang mampu dan sudah pasti tidak harus membeli baju baru. Bahwa benar, diwajibkan sebelum shalat ied, mereka yang berpuasa Ramadhan wajib berzakat fitrah berupa makanan pokok kepada fakir miskin. Namun, bukan berarti itu bermakna memperbolehkan mereka yang mampu menunjukkan kelebihan hartanya yang bisa berimplikasi pada riya (pamer).

Jika lebaran dengan tradisi mudik dan segala pernak-perniknya adalah budaya, maka bukan berarti itu budaya yang wajib dilaksanakan muslim di seantero jagat. Namun apakah itu salah? Tentu tidak bijak jika dikatakan salah. Sebab persoalannya adalah bukan pada salah benarnya, melainkan pada bagaimana menyikapi fenomena mudik yang memang berpotensi ada sisi negatifnya bagi masyarakat kita.

Bahasan soal mudik ini, sekali lagi, tidak penulis tujukan untuk mengkritisi Agama, menganjurkan agar tidak melakukan mudik, melainkan bagaimana mengikis imbas negatif yang bisa timbul karena mudik.

Namun, benarkah ada mudharat yang mungkin ditimbulkan karena mudik? Mari kita sedikit merenung. Dari soal sumber energi saja, misalnya. Bayangkan, ketika dalam masa mudik lebaran, biasanya H -7 sampai H +7, berapa banyak suber energi, terutama BBM dan  Listrik. Padahal kita tahu, sumber energi saat ini menjadi problem masyarakat kita. Fakta bahwa kenaikan sumber energi berefek domino terhadap kenaikan harga-harga kebutuhan pokok, tidak bisa terelakkan. Yang pasti memicu inflasi dan berakibat daya beli rendah. 

Soal energi, yang jelas terasakan saat ini adalah naiknya Tarif Tenaga Listrik (TTL). Dicabutnya subsidi listrik yang tentunya semakin memberatkan rakyat di tengah keterpurukan ekonomi, terlebih menjelang lebaran yang sudah pasti terjadi kenaikan harga-harga karena konsumsi meningkat.

Industri makanan dan pakaian hampir semuanya menggunakan energi listrik. Maka secara otomatis, akibat naiknya TTL, harga-harga produksi akan mengalami kenaikan. Dalam kondisi TTL tidak mengalami kenaikan saja harga-harga kebutuhan pokok jelang lebaran sudah naik, apalagi ketika TTL naik? Hal itu tidak menjadi masalah jika tingkat kesejahteraan masyarakat bawah juga meningkat.

Namun, lagi-lagi, dalam momen lebaran, dimana banyak masyarakat kita yang rela menguras tabungan, bahkan tak jarang mengurangi aset, entah menjual atau menggadaikan asset demi mudik dan merayakan lebaran. Nampaknya sementara tidak masalah. Setidaknya ketika mereka ‘bersenang-senang’ liburan, bercengkerama dengan famili mengenakan pakaian baru sambil makan-makan enak. Tapi lihatlah, bagaimana nanti paska lebaran?

Lalu bagaimana menyikapi tradisi mudik lebaran yang berefek domino ini? Tentu berangkat dari diri sendiri, artinya kesadaran masyarakat itu sendiri untuk bagaimana bisa mempertahankan budaya positif lebaran dengan tanpa membudayakan konsumerisme. Pendek kata tetap berlebaran tanpa pemborosan dan mengabiskan uang. Hal ini tentu juga perlu dorongan kebijakan pemerintah. Bagaimana pemerintah merubah paradigma keekonomian. Disaat masyarakat banyak membutuhkan, tidak berarti harga harus naik atau menjadi mahal dengan kenaikan yang tidak sewajarnya. Sebab, pemerintan inilah yang memiliki kebijakan untuk mengendalikan harga-harga kebutuhan pokok. Namun ketika peran pemerintah ini sudah diambil alih kepentingan kartel (pedagang), maka keniscayaan perinsip ekonomi yang kapitalistik, dimana ketika permintaan meningkat maka harga akan naik tinggi, akan terus berlangsung.  Maka ketika adilan sosial akan semakin menggurita di negeri ini. Wallahua’lam bishawab.

*Penulis adalah  Jama’ah Pengajian ‘Ngudi Becik’ Yogyakarta.

Berita Terkait

 





Baca Juga