Jumat, 01/12/2017 21:59 WIB | Dibaca: 79 kali

Ini yang Berbeda dari Grebeg Maulid Tahun Ini


Gunungan Kakung yang dikirim ke Puro Pakualaman dikawal prajurit kraton. Foto: ist

YOGYAKARTA – Tradisi Grebeg memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini menjadi grebeg spesial. Pasalnya, grebeg mauled kali ini bertepatan dengan Tahun Dal yang terjadi setiap delapan tahun sekali.

Sebagaimana galibnya tradisi grebeg maulid, terdapat gunungan yang berisi hasil bumi yang akan dibagikan kepada masyarakat sebagai simbolisasi amal raja untuk rakyatnya. Gunungan yang berasal dari Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat ada elapan buah yang dikirim di tiga tempat. Sebanyak lima gunungan di halaman Masjid Gede Kauman Yogyakarta. Satu buah gunungan dibawa menuju Puro Pakualaman. Satu gunungan lagi dibawa menuju kompleks Kantor Gubernur DIY di Kepatihan.

Gunungan yang dikirim ke Puro Pakualaman tiba sekitar Pukul 11.00 WIB dengan dikawal bregada (prajurit) kraton. Gunungan yang disebut Gunungan Kakung diserahkan oleh KRT Wijoyo Pamungkas yang merupakan utusan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X. Gunungan tersebut diterima oleh KRT Projoanggono, mewakili Raja Puro Pakualaman, Sri Paduka KGPAA Paku Alam X .

Setelah diterima oleh pihak Pakualaman, gunungan tersebut di arak keluar kembali untuk di perebutkan oleh ratusan masyarakat yang datang.

Masyarakat yang mendatangi Puro Pakualaman untuk berebut gunungan percaya bahwa jika mendapatkan isi gunungan akan mendapatkan keberkahan.

Dalam rangkaian grebeg Maulid ini, sebelumnya juga dilangsungkan tradisi jejak bata di pintu selatan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta oleh Sri Sultan HB X, Kamis (30/11/2017). Tradisi itu sebagaimana yang dilakukaan Sultan-Sultan sebelumnya.

Tradisi ini berlangsung setiap delapan tahun sekali pada  kalender jawa disebut Grebek Dal yang jatuh pada Jumat Kliwon. Tradisi ini menggambarkan  zaman dulu sewaktu diserang oleh Belanda, ketika itu Sultan Hamengku Buwono Pertama berdiam diri, itulah simbol dari tradisi  yang sampai saat ini dilestatrikan.

Tradisi tersebut dilakukan setelah sebelumnya Sri Sultan menyebar uang logam yang disebut tradisi udik-udik. Tradisi penyebaran udik-udik ini dimulai dari pagongan selatan, gamelan sekaten kanjeng kiai guntur madu, disana Raja menyebar udik-udik yang biasa disimbolkan dengan sedekah Raja kepada masyarakat. Kemudian setelah dari pagongan selatan yang ditempati oleh kanjeng kiai madu menuju ke pagonga utara untuk menyebar udik-udik juga, setelah itu baru  masuk ke masjid akan dibacakan riwayat Nabi Muhammad SAW.

Sultan Hamengku Buwono X menyebar uang dengan dikawal ratusan prajurit keraton. Dan ratusan warga berdesakan untuk mendapatkan uang recehan Rp 500 sampai Rp. 1000. Warga yang ikut berebut untuk mendapatkan uang yang disebar oleh Sultan percaya akan mendapatkan berkah.(kt1)

Redaktur: Rudi F

 

 


 





Baca Juga