Dahsyat, Benih MSP dengan PORIN Jumlah Anakan Padi Berlipat Diumur 40 Hari


Team MSP dan Porin meninjau perkembangan demplot di lahan petani Kabupaten Demak. Foto: ist

DEMAK – Petani padi di Kabupaten Demak yang mencoba menanam padi varietas unggul Mari Sejahterakan Petani (MSP) mengaku puas dengan perkembangan hasil tanamnya selama 40 hari.  Pasalnya, perkembangan MSP yang didukung dengan Pupuk Organik Indonesia (PORIN), lebih baik jika dibandingkan dengan sebelumnya ketika menanam benih padi jenis lain dan pupuk kimia,

Menurut Kordinator Komunitas MSP Demak, Lukman, sebagai petani yang terbiasa mengamati setiap pertumbuhan tanaman padi, ia yakin dengan benih MSP dan pupuk Porin yang biayanya lebih murah, ke depan hasil panen jauh lebih baik,

“Sampai saat ini juga cukup aman dari serangan hama,” ujarnya saat meninjau lokasi demplot MSP dan Porin di lahan sawahnya Muteh Wetan, Wedung, Demak, Kamis (20/01/2018).

Dikatakan Lukman, saat ini MSP Demak sedang mengawal penanaman padi MSP 13, 14, 07 serta 04 dengan pupuk PORIN, seluas 6 hektar (ha) di wilayah Muteh Wetan. Sejak penanaman, Lukman mengaku mengawasi sawah  tiap pagi dan sore,

“Demplot ini berumur 40 hari sudah memberikan tanda-tanda akan menghasilkan yang lebih banyak lagi. Dari yang ada dilihat anakan menjadi 40  hingg 52 tiap rumpun, yang nanamnya dulu tiap ceblok hanya 2 rumpun. Menurut pengalaman tanam MSP kemrin adalah 300 an bulir,” katanya yang meninjau sawah bersama Direktur Omah Tani, Agus Subagyo dan Pendamping Petani dari PORIN, Awan Herna.  

Lukman berasumsi jika per hektar terdapat 160 000 rumpun, sedangkan tiap rumpun tumbuh 40 malay dan tiap malay 300 bulir, maka tiap rumpun  akan menghasilka  40 x 300 = 12 000 bulir gabah.

“Teorinya tiap 1000 sam dengan 3 gram. Jadi tiap rumpun menghasilkan 36 gram. Ini sangat bagus,” ujarnya.

Sementara Agus Subagyo mengatakan, kedaulatan pangan nampaknya akan tercapai dengan MSP dan PORIN. Menurutnya melalui kinerja kedua hal itu, biaya produksi petani murah, bahkan bisa dikatakan petani sudah menguasai alat produksi utama dalam pertanian,

“Mudah-mudahan petani akan menjadi bahagia serta tertawa setiap bercocok tanam padi di negeri agraris ini. Ke depan tidak aka nada lagi impor beras, karena produksi petani dalam negeri sudah melimpah,” harap Agus Subagyo. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS


 





Baca Juga