Pahamkan Sejarah Lambang Garuda Pancasila, Rumah Garuda Ciptakan Kalender Kebangsaan


Nanang R Hidayat (memegang buku) bersama tim Rumah Garuda. Foto: Ja'faruddin. AS

BANTUL – Generasi muda saat ini sebagian besar kurang memahami sejarah bangsa Indonesia, sehingga banyak yang menjadi kontroversial, termasuk sejarah lahirnya Garuda Pancasila sebagi lambang negara.

Sebagai upaya memahamkan sejarah Garuda Pancasila sebagai lambang negara, Museum dan Lembaga Studi Lambang Negara ‘Rumah Garuda’ menciptakan Kalender Kebangsaan.

Menurut Pendiri dan Pemilik Rumah Garuda, Nanang Rakhmad Hidayat, MSn, perbedaan Kalender Kebangsaan dengan kalender pada umumnya, dalam Kalender Kembangsaan dimulainya tidak dari 1 Januari,

“Kita mengacu pada kalender masehi, tapi mulainya 1 Juni di mana 1 Juni  kita tahu sebagai hari lahirnya Pancasila sebagai dasar negara kita,” katanya di Museum ‘Rumah Garuda’  Jl. Puri Sewon Asri, Blok L, Panggungharjo, Sewon, Bantul, Jumat (09/02/2018) siang.

Selain informasi hari besar nasional, kata Nanang, dalam Kalender Kebangsaan juga diberi keterangan di setiap tanggal peristiwa-peristiwa  penting yang terjadi di Indonesia,

“Itu juga akan mengingatkan kita banyak sekali hari besar bersejarah yang diciptakan Bangsa Indonesia tetapi dilupakan begitu saja, misalnya hari Pekik “Merdeka” dijadikan salam jumpa secara nasional (1945), dan  Pada tanggal 14 Februari di dalam sejarah nasional Indonesia, ditetapkan sebagai peringatan peristiwa Pemberontakan PETA (Pembela Tanah Air) kepada Jepang di Kota Blitar pada tahun 1945 untuk merebut kemerdekaan Indonesia. Selama ini kan 14 Februari lebih dikenal sebagai hari valentine oleh anak-anak muda,” beber alumni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini.

Selain itu, dijelaskan Nanang, desain kover Kalender Kebangsaan terdapat ilustrasi kronologis peristiwa bersejarah terkait lahirnya Garuda Pancasila sebagai lambang negara Indonesia. Menurut Nanang, ada dua periode perumusan lambang negara, 

“Paska kemerdekaan Tahun 1945 dibentuk tim Panitera (Panitia Indonesia Raya), ketuanya Ki Hajar Dewantara, Sekretarisnya Moh. Yamin. Kemungkinan dibantu Basuki Rekso Bowo, kala itu sebagai murid Taman Siswa . Beliau yang membuatkan sket-sket dari candi-candi yang diriset, dimana ada figure  karakter Garuda. Di Museum Rumah Garuda ada sket-sketnya. Namun tim ini berhenti karena saat itu ada gejolak politik,” beber pemerhati lambang negara.

Periode Kedua, kata Nanang, dibentuk setelah melewati gejolak. Dalam sidang kedua Kabinet Republik Indonesia  Serikat (RIS) pada 10 Januari 1950, dibentuk ‘Panitia Lencana Negara’. Panitia tersebut diajukan kepada pemerintah RIS melalui Sultan Hamid II selaku Menteri Negara Zonder Porto Folio,

“Panitia diketuai oleh Prof. Dr. Moh. Yamin (Anggota DPR Parlemen RIS). Aanggotanya Ki Hajar Dewantara (Staf Ahli Kementrian Pengajaran dan Kebudayaan), M.A. Pellupessy (Menteri Penerangan), Moh. Natsir (Pimpinan Partai Politik Masyumi, dan Prof. Dr. R.M.Ng Poerbotjaraka (ahli bahasa dan kebudayaan. Sket dari tim diserahkan Sultan Hamid, lalu dilaporkan kepada Presiden Soekarno. Dirk Ruhl, Jr (Ahli semiotika berkebangsaan Jerman). Lalu oleh pelukis istana, Dullah, digambar kembali untuk digandakan,” kata Nanang menjelaskan.

Khusus terkait sejarah perancang Garuda Pancasila sebagai lambang negara, Nanang menandaskan tidak diciptakan oleh seorang tokoh saja, melainkan mengakomodir tokoh-tokoh lainnya dalam Panitia Lencana Negara,

“Jadi beliau-beliau ini yang disebut perancang lambang negara. Contohnya lambang bintang yang usul Muh. Nastsir. Padi dan Kapas yang usul Ki Hajar Dewantara, Beringin yang usul R.M.Ng Poerbotjaraka, Kepa Banteng oleh Yamin, Rantai itu sultan Hamid II, kemudian pemasang Bhinneka Tunggal Ika itu Presiden Soekarno,” tegasnya.

Namun demikian, Nanang tidak menyebutkan jika tujuan pembuatan kalender kebangsaan dibuat untuk meluruskan sejarah,

“Kami belum berani menyebutkan itu, karena ada yang lebih ahli. Tapi setidaknya dengan metodologi sejarah, tim kami menuliskan, merunutkan seperti itu. Ini risetnya sejak 2003,” pungkas Nanang yang penlis buku 'Mencari Telur Garuda'. (rd)

Redaktur: Ja’faruddin. AS


 





Baca Juga