Jumat, 29/06/2018 19:00 WIB | Dibaca: 288 kali

Soal Ujian Nasional Hots dan Penurunan Nilai Siswa


Teguh Wiyono

Oleh: Teguh Wiyono, M.Pd.I

Menteri pendidikan dan kebudayaan Muhajir Effendy pada tahun pelajaran 2017/2018 menetapkan peraturan tentang Ujian Nasional dengan menerapkan metode HOTS (High Order Thingking Skill) atau kemampuan penalaran tingkat tinggi. Pembelajaran HOTS mulai mengemuka sejalan dengan adanya penyempurnaan perubahan standar proses dan penilaian pada kurikulum 2013. Standar proses diarahkan pada pencapaian kompetensi abad ke 21 yang terdiri dari kemampuan untuk berfikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif. Kompetensi ini bisa tercapai apabila proses pembelajaran dan penilaian mengarah pada terwujudnya keterampilan berikir tingkat tinggi. Sementara keterampiilan tingkat tinggi, merujuk pada dimensi proses berfikir pada level menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi ide. Pada konteks ini soal HOTS merupakan tuntutan kurikulum agar siswa memperoleh keterampilan berfikir sesuai dengan tuntutan zaman.

Namun yang terjadi di lapangan dengan begitu kompleks dan sempurnanya soal yang membutuhkan nalar yang sangat tinggi di tahun ajaran tahun 2017/2018 ini, nilai ujian nasional mengalami penurunan secara drastis baik sekolah ditingkat SMA/SMK/MA dan SMP/MTS. Mengapa bisa terjadi ?, padahal harapan pemerintah menerapkan sistem HOTS bertujuan memberikan bekal kepada para siswa agar dapat hidup sesuai dengan tuntutan jaman. Jika nilai mengalami penurunan lantas tuntutan jaman yang seperti apa untuk bekal masa depan siswa?

Belum Siapnya Siswa Dan Guru

Faktor penyebab siswa mengalami penuruan nilai ujian nasional diantaranya; Pertama, belum siapnya para siswa untuk mengerjakan soal yang terdapat nalar tingkat tinggi. Siswa mengalami keberatan karena jenis soal yang dikerjakan bagi para siswa merupakan sesuatu yang baru, mereka belum latihan secara mendalam karena sosialisai berkaitan soal dalam bentuk HOTS tidak dari awal tahun pembelajaran, ketambah lagi para siswa mengalami kebingungan ketika ada perubahan dari UNKP (menggunakan lembar jawab tertulis) ke UNBK (menggunakan komputer). Bagi siswa ketika mengerjakan soal mengalami trobel jaringan, atau keterlambatan soal (Loading) para siswa terkadang mengalami kepanikan, karena merasa sebagian temannya ada yang sudah mengerjakan, hal tersebut menjadikan para siswa konsentrasinya hilang. Masalah kedala jaringan seharusnya pemerintah sudah mengantisipasi lebih awal karena, masalah jaringan sangat mengganggu konsentrasi para siswa. Siswa tahu mengerjakan ujian nasional menggunakan komputer dan karakter soal lebih sulit saja sudah menurunkan motivasi mereka untuk mengerjakanya. Oleh sebab itu ujian nasional yang akan datang soal HOTS dan kendala jaringan harus bisa dipahami oleh satekholder di setiap sekolah sehingga tidak menjadi kendala.  

Kedua, adanya peraturan penentu kelulusan adalah sekolah. Hal ini menjadikan para siswa merasa tidak terbebani, tidak merasa bertanggungjawab dan motivasi yang rendah untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Penulis pernah menjadi pengawas ujian nasional ketika itu bertanya kepada sang murid “mas/mba tidak pegang buku” dengan santainya menjawab “pak nanti juga lulus karena yang menentukan kan sekolah saya pak bukan dari pusat”. Dari penyataan tersebut seakan-akan Ujian Nasional bukan sesuatu yang sangat sakral atau berwibawa, bukan sesuatu yang harus diperjuangkan selama mengikuti pembelajaran 3 tahun di dalam kelas.

Di sini seorang guru, dan wali murid harus bekerjasama dengan baik. Jika sekolah sudah membuat peraturan dan menekan siswa agar bertanggung jawab dalam mengerjakan soal ujian nasional tetapi dari pihak wali murid atau orang tua tidak juga memberikan perhatian kepada anak tentunya tidak akan berjalan dengan lancar. Kemudian dari pihak sekolah seyogyanya jangan terlalu mudah dalam memberikan nilai, meskipun peraturan para siswa lulus semua dan yang menentukan sekolah. Dengan sekolah mudah memberikan nilai tentunya menurunkan martabat sekolah dan gurunya.  Jika guru dan lembaga pendidikan sudah hilang martabatnya tentunya tidak akan bisa menghasilkan para generasi yang berkulitas. 

Ketiga, ada kesenjangan yang sangat tajam antara kurikulum dengan kemampuan guru dalam mengimplementasikanya. Kesenjangan bisa terjadi karena kemampuan guru yang terlalu tinggi tetapi SDM siswa lemah, dan sebaliknya terkadang ada kemampuan siswa yang cukup tinggi tetapi kemampuan guru tidak begitu berkulitas, hal ini bisa mengakibatkan ketercapain pembelajaran tidak masimal. Selain itu, Kurikulum sudah mengalami perubahan yang sangat cepat dan substansif, tapi cara pandang dan cara mengajar guru tidak berubah. Kesenjangan inilah yang menyebakan siswa menjadi gagap ketika mengerjakan soal ujian berstandar nasional. Penedidikan di era sekarang bukan lagi kesenjangan sarana dan prasarana fisik atau fasilitas pembelajaran, melainkan insfrastukutur utama pembelajaran, yakni komptensi guru.  

Keempat, kurangnaya pemantauan terhadap proses pembelajaran. Supervisi yang dilakukan disetiap sekolah terkadang masih dititik tekankan kepada administrasi guru bukan terhadap proses pembelajaran dan ketercapaian siswa dalam memahami materi yang sudah diajarkan oleh gurunya. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan sebuah soal berhubungan dengan proses pembelajaran yang dikembangkan oleh guru. Selain itu, perlu dilakukan penelususran terhadap perencanaan pembelajaran yang dikembangkan oleh guru. Apakah guru merencanakan pembelejaran HOTS ataukah tidak. Ada tidaknya pembelajaran HOTS dapat dilihat pada tiga hal yakni rumusan indikator pencapaian kompetensi (IPK), langkah-langkah pembelajaran dan penilaian pembelajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari perangkat pembelajaran guru berupa rencana program pembelajaran (RPP), dan penyusunan soal sejak tahapan analisis komptensi dasar.

Kelima, kurangaya pelatihan guru. Pelatihan yang dilakukan oleh guru terkadang yang mereka dapat hanya bersifat teoritik bukan aplikatif dari proses pembelajaran, yang terjadi ketika seorang guru selesai mengikuti kegiatan pelatihan mereka tidak bisa menerapkan dalam pembelajaran di dalam kelas. Selain itu, guru juga mengalami hambatan tidak memiliki waktu luang ketika hanya untuk mengikuti seminar karena tuga utama mereka adalah mengajar. Pendidikan di era sekarang wali murid terkadang mudah komplain ketika ada seorang guru yang jarang mengajar karena tugas luar mereka dengan mudahnya mengatakan “anak saya tidak pernah diajar”

Jika memang pemerintah menerapkan peraturan untuk meningkatkan mutu pendidikan kita demi kemajuan anak bangsa, mari kita saling bersinergi dan saling bertanggung jawab, sekaligus saling mengevaluasi agar tahun ajaran yang akan datang nilai ujian mengalami peningkatan dan memberikan bekal untuk masa depan siswa bukan sekedar kritis dan bernalar tinggi tetapi memiliki kepribadian yang unggul untuk memajukan nusa dan bangsa.  [*]

*Penulis adalah Dosen di Universitas Terbuka Purwokerto Pada Fakultas Pendidikan

 


 





Baca Juga