Senin, 11/05/2020 20:37 WIB | Dibaca: 511 kali

Kebersihan Pangan Berpengaruh Terhadap Kesehatan


Livia Teja Laksmana. Foto:ist

Oleh : Livia Teja Laksmana*

Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota di Indonesia dengan tingkat kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, jumlah penduduk di Kota Yogyakarta meningkat setiap tahunnya dan mencapai angka 431.939 jiwa pada tahun 2019. Pertambahan jumlah penduduk yang terus terjadi ini dapat berpengaruh terhadap tingkat kebutuhan pangan di Kota Yogyakarta. Di sisi lain, Kota Yogyakarta yang merupakan kota pariwisata secara tidak langsung juga menuntut dukungan kuliner untuk melengkapi indahnya Kota Yogyakarta. Hal ini menyebabkan berbagai jenis makanan dapat dijual di Kota Yogyakarta.

Makanan merupakan kebutuhan utama manusia untuk menunjang kesehatan dan kelangsungan hidup manusia. Oleh sebab itu keamanan pangan harus diperhatikan dengan baik. Akan tetapi, seringkali manusia tidak memperhatikan segi kebersihan pangan dan pengaruhnya bagi kesehatan. Seperti yang dapat kita lihat setiap harinya, di tepi jalanan Kota Yogyakarta berbagai macam makanan dijajakan dengan kondisi terbuka. Padahal jalanan tersebut merupakan tempat lalu lalang kendaraan bermotor yang mengeluarkan asap yang berbahaya bagi tubuh. Asap kendaraan dikatakan berbahaya bagi tubuh karena mengandung berbagai macam zat kimia salah satunya ialah logam berat timbal (Pb) (Triwitarsih, 2010). Logam Pb ini memiliki sifat beracun terhadap manusia dan dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan, minuman, udara, air, serta debu tercemar Pb. Apabila Pb terus menerus dikonsumsi, sifat karsinogen yang dimiliki oleh timbal dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan termasuk penyakit kanker pada manusia.

Di sisi lain, kebersihan proses pembuatan makanan juga perlu menjadi perhatian. Baik dari segi kebersihan peralatan, pihak yang membuat makanan, tempat penyimpanan ataupun penyajiannya. Peralatan yang digunakan dalam pembuatan suatu makanan harus terhindar dari kotoran maupun debu. Apabila peralatan yang digunakan mengandung kotoran dan debu maka kotoran maupun debu tersebut dapat masuk ke dalam makanan serta terkonsumsi oleh orang yang memakan makanan tersebut. Selain itu, pihak yang membuat makanan harus menjaga kebersihan tubuhnya sebab pada tubuh manusia, terutama tangan yang digunakan untuk memegang segala sesuatu tersimpan jutaan mikrobia. Apabila kondisi pembuat makanan tidak bersih dan mikrobia kontaminan terkonsumsi maka dapat menimbulkan penyakit seperti sakit perut, gangguan pencernaan atau diare, dan lain sebagainya. Penyimpanan dan penyajian makanan harus dipertimbangkan, akan lebih baik apabila makanan disimpan dalam kondisi tertutup agar terhindar dari segala jenis kontaminan yang merugikan.

Saat ini di tengah pandemi Covid-19 yang sedang terjadi, bidang pangan tetap menjadi hal utama yang dibutuhkan oleh manusia. Tidak sedikit masyarakat Kota Yogyakarta yang tinggal di rumah mencoba mencari tambahan penghasilan dengan menjual berbagai jenis makanan. Ini merupakan suatu hal positif karena dapat membantu menggerakan roda ekonomi di tengah penurunan penghasil yang dialami oleh banyak orang. Namun prinsip kehati-hatian dalam membeli, mengolah, maupun mengonsumsi makanan tetap harus diterapkan. Bagi para pembuat makanan, mencuci tangan sebelum mengolah makanan, menghindari berbicara saat proses pembuatan makanan, menggunakan pakaian dan peralatan yang bersih, serta cara pengemasan yang baik menjadi hal penting yang harus diperhatikan. Para pembeli harus pintar memilah makanan yang bersih, serta tetap waspada dengan membersihkan kemasan, menghangatkan makanan yang dipesan, maupun mencuci tangan terlebih dahulu sebelum mengonsumsi makanan.

Makanan memiliki peran yang sangat besar dalam pemenuhan nutrisi serta menjaga kesehatan tubuh manusia. Oleh karena itu, menjaga kebersihan menjadi hal yang sangat penting. Harapannya dengan menjaga kebersihan makanan, kontaminan seperti bakteri, virus, zat kimia berbahaya, ataupun debu yang masuk ke dalam tubuh dapat diminimalkan dan resiko bagi kesehatan tubuh dapat dihindari.(*)

*Penulis adalah Mahasiswi Fakultas Bioteknologi, Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta


 





Baca Juga