Senin, 20/07/2020 18:12 WIB | Dibaca: 566 kali

Makna Idul Adha di Tengah Pandemi Corona


Oleh: Mukharom, SH.i, M.Hum. Foto:ist

Oleh: Mukharom, SH.i, M.Hum*

Hari Raya Idul Adha 1441 H, suasananya berbeda seperti tahun sebelumnya, yang membedakan adalah kondisi yang tidak normal, dikarenakan adanya pandemi virus corona yang melanda seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi tidaknormalan ini yang menyebabkan berbagai kebijakan diterapkan, dengan tujuan untuk mengurangi resiko menyebarnya virus covid 19. Diantara kebijakan yang diterapkan adalah social distanching atau phisical distanching. Dalam konteks menghadapi agenda tahunan di bulan Dzul Hijjah adalah ibadah haji, di tahun 2020 Indonesia tidak memberangkatkan jamaah haji ke tanah suci dengan berbagai macam pertimbangan, dalam hal ini karena adanya virus corona. Namun demikian tidak mengurangi esensi makana Idul Adha itu sendiri.

Wikipedia bahasa Indonesia mengartikan tentang Idul Adha, adalah sebuah Hari Raya Islam. Pada hari ini diperingati peristiwa qurban, yaitu ketika nabi Ibrahim yang bersedia untuk mengorbankan putranya untuk Allah Swt, kemudian sembelihan itu digantikan olehNya dengan domba. Sejarah umat Islam yang dilalui oleh Nabi Ibrahim merupakan peristiwa yang sangat istimewa bagi umat Islam, kita dapat merasakannya dengan menjalankan ibadah haji. Hari Raya Idul Adha juga disebut sebagai Hari Raya Haji. Sedangkan bagi mereka yang belum berkesempatan menunaikan rukun Islam yang ke 5 yaitu haji, maka ada cara yang lain dengan tujuan yang sama, kita diberi kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan cara berqurban yaitu menyembelih hewan qurban sebagai simbol ketaqwaan dan kecintaan hamba kepada sang pencipta Allah Swt.

Taqwa secara etimologi  berasal dari bahasa arab, yaitu dari fi’il ittaqa-yattaqi, yang artinya berhati-hati, waspada, takut. Sedangkan secara terminologi adalah takut kepada Allah dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan arti dasar taqwa yaitu menjaukan diri dari dari segala sesuatu yang tidak disukaiNya. Di dalam Al Qur’an kata taqwa ditemukan sebanyak 259 kali dengan derivasi dan makna yang beragam. Esensi taqwa adalah tidak hanya membahas soal ibadah ritual saja akan tetapi bisa dalam aplikasi muamalah, bergaul dengan akhlaq yang terpuji sebagai bentuk peningkatan kapasitas diri dalam bermasyarakat seperti dicontohkan Rasulullah yaitu membantu sesama dalam kebajikan, empati dan mengajarkan untuk melakukan kebaikan-kebaikan antar sesama manusia dengan mengharap ridlo Allah Swt. Taqwa juga berorientasi pada mencegah manusia untuk menghindari dari hal-hal yang dilarang oleh Allah karena takut akan dosa dan azab Allah. Oleh karena itu bagi orang yang dapat menjalankannya akan mulia di sisi Allah, sesuai dengan firmanNya “Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kalian” (QS. Al Hujurat: 13).

Adapun karakter orang bertaqwa telah digambarkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah Ayat 2-4. Karakter orang bertaqwa diantara  adalah  menafkahkan sebagian rizqinya. Dalam bulan Dul Hijjah ini dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dalam bentuk menyembelih hewan qurban, kemudian membagikan daging qurban, dengan melatih kesalehan sosial, diharapkan fakir miskin dapat merasakan kepedulian yang disalurkan oleh kaum berada atau mampu secara harta benda dengan membeli hewan qurban, disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga yang tidak mampu.

Sinergisitas antara membangun keslehan spiritual dan kesalehan sosial harus secara bersama-sama, jika dipisah maka akan timpang, karena implentasi kesalehan spiritual adalah dalam bentuk sosial, sedangkan kesalehan sosial bagian dari ajaran agama secara spiritual, hal ini sesuai dengan Al Qur’an Surat Al Baqarah Ayat 3 yang artinya “(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka” dalam konteks ayat ini sudah jalas antara kesalehan spiritual/individual dan kesalehan sosial tidak dipisahkan, Allah memerintahkan untuk mendirikan shalat (kesalehan spiritual) kemudian memerintahkan untuk menafkahkan sebagian hartanya (kesalehan sosial). Kedua karakter tersebut merupakan bagian dari ciri-ciri orang bertaqwa.

Keteladana taqwa sudah tergambar pada kekasih Allah Nabi Ibrahim, di mana setiap tahunnya berqurban 1000 ekor domba, 300 ekor lembu dan 100 ekor unta. Bahkan tidak itu saja, anak tercinta Ismail yang berusia 7 tahun pun diserahkan untuk diqurbankan, hal ini sebagai bentuk kecintaan kepada Allah Swt dan peristiwa ini diabadikan dalam Al Qur’an Surat Assaffat Ayat 102 yang artinya “Ibrahim berkata: ” Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu “maka fikirkanlah apa pendapatmu? Ismail menjawab: Wahai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar”

Peristiwa dan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail memiliki sejarah dan arti yang sangat besar, setidaknya kita dapat mengambil makna peristiwa tersebut untuk dijadikan sebuah pelajaran dalam mengarungi kehidupan yaitu Pertama, Taqwa (kesalehan spiritual). Kedua, Hubungan antar manusia (kesalehan sosial) dan Ketiga, Peningkatan kualitas diri. Ketiga makana Idul Adha sudah tergambar di atas, tinggal implementasinya. Semoga hari Raya Idul Adha tahun ini kita dapat berqurban sesuai dengan kemampuan, jika dapat membeli hewan qurban sapi berqurbanlah sapi, jika tidak mampu ambil bawahnya yaitu berqurbanlah kambing, jika tidak mampu lagi berqurbanlah ayam dan lain sebagainya. Kemudian dagingnya dibagikan, sehingga dapat berbagi antar sesama. Berharap tidak hanya seremonialnya saja dalam memperingati Hari Raya Idul Adha, akan tetapi dapat benar-benar berniat ikhlas karena Allah Swt dalam berqurban, agar dicatat sebagai amal ibadah dan bentuk ketaqwaan kita kepada Allah Swt.

Momentum Idul Adha tahun ini merupakan momentum yang sangat tepat untuk menguji keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah Swt ditengan kondisi wabah virus corona melanda Indonesia, dengan berbagai kondisi ekonomi yang belum menentu karena dampak corona, kepedulian terhadap sesama harus ditunjukan dengan saling berbagi. Dengan berqurban kita telah menunjukan ketaatan kita kepada Allah Swt, dan dengan membagikan daging qurban juga menunjukan kepedulian terhadap sesama manusia. Kita berdo’a semoga kita dapat berqurban di tahun pandemi covid 19. Aamiin. (*)

*Dosen Fakultas Hukum Universitas Semarang (USM) dan Mahsiswa Program Doktor Ilmu Hukum (PDIH) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang

 

      


 





Baca Juga