Leadership to Followership: Gibran dan Tantangan Generasi Muda Milenial


Samaun Hi. Laha. Foto: ist

Oleh: Samaun Hi. Laha*

Persandingan anak muda yang ingin mengadu nasib dengan memanfaatkan relasi orang tuanya dalam demokrasi kita adalah sesuatu yang sering terjadi bahkan menjadi make up pada wajah politik lokal di Indonesia semacam tiket VIP (very important person) untuk menang. Hal ini berlaku bagi siapapun yang keluarganya berada dalam lingkaran kekuasaan. Lalu para pengikut lawas dan kurang up to date mengatakan itu adalah dinasti politik, pendapat mereka bertabur curiga menghiasi laman-laman media social serta webinar dalam berbagai bentuk. Menurut King Faisal Soleman (2020) dinasti politik hanyalah ilusi demokrasi sebagai bentuk dari tirani kata-kata. King memberikan optimisme baru bahwa warga negara siapapun, baik anak pejabat ataupun tidak berhak menjadi pemimpin asalkan mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan KPU. Kebutulan Gibran Rakabuming Raka adalah anak dari presiden Jokowi yang memiliki kesempatan dalam kompetisi meramaikan pesta demokrasi untuk mengabdi pada daerahnya. Kemudian muncul resistensi dari kalangan elit partai, pengiat media dan aktivis. Argumen mereka umumnya mengatakan bahwa dia belum berpengalaman, tidak kompeten dan memanfaatkan ketokohan ayahnya.

Generasi mudah memang mendapat streotipe dari pandangan-pandangan mapan seperti itu tetapi apakah harus mundur? dalam satu kata kita mengatakan “tidak” sebab yang belum bepengalaman akan mendapat pengalaman terbaik disaat terjun langsung dalam gelangang politik praktis untuk membuktikan bahwa kita bisa dengan segala macam rintangan. Kita juga akan bertanya apakah Gibran akan menang di Pilkada Solo dan bagaimana dia melawan kotak kosong? Segala kemungkinan bisa saja terjadi, sebagaimana watak kekuasaan bahwa dia akan berpihak kepada mereka yang lihai dalam membaca kemauan publik. Misalkan nanti Gibran menang dia bukanlah tirani atau raja yang diktator yang setiap keputusan-keputusanya adalah titah Dewa kepada manusia tetapi akan dikontrol ketat oleh lembaga-lembaga mitra pemerintah baik Dewan Perwakilan rakyat daerah (DPRD) malupun Lembaga lain seperti Badan Pemerikasa Keuangan (BPK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan LSM (Lembaga Suadaya Masyarakat) serta elemen-elemen demokrasi lainya. Namun apa yang seharusnya dilakukan oleh milenial agar tetap eksis dalam Pilkada serentak Desember nanti? mari kita urai dalam beberapa gegasan penting ini:

Leadership Milenial

Hal yang terpenting dalam kepemimpinan (leadership) adalah dapat menjalankan fungsinya karena kehadiran seorang pemimpin merupakan representasi dari kepentingan public sehingga dia menyadari bahwa setiap tindakan-tindakan harus mengikuti aturan yang disepakati bersama sesuai ketentuan yang berlaku. Menurut Fleishmen at.al, dalam Zaccaro, S. J., Rittman, A. L., & Marks, M. A. (2001) bahwa kehadiran pemimpin guna menyeleasikan masalah sosial dengan memiliki tangungjawab diantaranya, (1) Mendiagnolis masalah yang menyebabkan tujuan kelompok terhambat, (2) menghasilkan dan merencanakan solusi yang tepat dan (3) mengimplementasikan solusi dalam domain sosial yang biasnya kompleks. Jika ditanya,
Siapa yang paling dominan dalam menguasai teknologi mutakhir di era revolusi industri 4.0? jawaban yang tepat adalah generasi milenial. Generasi milenial adalah mereka yang berusia 16-35 tahun. Milenial man and women adalah prospek masa depan suatu bangsa karena mereka dapat mengakses pendidikan yang berkualitas dan adaptif terhadap hal-hal baru serta tidak kaku. Penguasaan teknolgi digital yang mumpuni, maka pemimpin milenial lebih cerdas mendata masalah-masalah sosial yang akan dijadikan prioritas dalam pengambilan keputusan. Sehingga setiap keputusan yang diambil dapat menjawab kebutuhan masyarakat dengan tetap memperhatikan kepentingan mayoritas. Semua kompleksitas kepentingan tentunya akan dapat diakomodir sehingga pemerataan pembangunan dapat terlaksana.

Gerakan Followership

Dikatomi pasca Pilpres 2019 lalu antara pendukung kini masih membekas dimana pendukung Prabowo dikatakan Kampret dan pendukung Jokowi disebut Cebong. Padahal di kalangan elit mereka sama-sama berada dalam lingkaran istana dimana Jokowi menjadi presiden dan Prabowo diangkat menjadi menteri pertahanan. Pengikut (followeship) yaitu pendukung leader yang secara suka rela memberi haknya kepada orang yang didukung. Neidenthal at.al dalam Shondrick, S. J., & Lord, R. G. (2010) menyatakan bahwa peran pengikut dapat mempresepsikan pemimpin pada setiap konteks. Presepsi semacam itu menurut penulis akan harus dikelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan konflik. Basis gerakan milenial biasanya terpusat pada komunitas-komunitas yang terbentuk dari berbagai jaringan relasi misalnya komunitas bisnis, peduli lingkungan dan literasi. Jika calon kepala daerah seperti Gibran bisa dapat mengakses simpul-simpul itu, maka ruang aksi semakin sengit dan menguras energi lawan tanding walaupun lawan itu bernama kotak kosong.

Ling And Matc

Salah satu asas dari merdeka belajar yang digagas oleh kemendikbud ialah ling and matc tetapi dalam tulisan ini penulis memiliki pandangan yang berbeda. Berangkat dari bonus demografi yang secara tidak langsung mengisyatkan usia muda akan mendominasi usia lanjut dengan presentasi 60-70% di 2030. Persiapan itu dari sekarang sudah diakomodir agar peluang itu tidak menjadi musibah terjadinya integrasi. Tugas pemerintahan yang diambil oleh generasi milenial saya percaya akan terintegrasi dengan kepentingan nasional jika memilik semangat pengabdian tinggi. Sehingga konsep ling and matc bisa diterapkan. Baik Gibran maupun generasi milenial di daerah lainnya. Mereka harus diberi kesempatan yang sama untuk melaksanakan tugas kepemimpinan sebagai bukti bahwa anak muda mampu menghubungkan visi-misi pembangunan berbasis kebutuhan. Kepada calon pemimpin lokal agar memperhatikan bahwa kepemimpinan itu tidak terlepas dari dukungan pemilih mayoritas. Simpati akan terus datang dengan membangun paradigma bahwa legitimasi pemilih adalah penuntun untuk tujuan hadirnya pemerintah. Besar harapan agar generasi milenial memiliki nyali dan mampu mengambil peran disegala bidang kehidupan. Peluang itu sudah di buka oleh Gibran, soal dia kalah atau menang nanti kita saksikan, yang terpenting adalah coba dahulu.(*)

*Penulis adalah mahasiswa Doktoral Leadership dan Innovation Policy di Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

 

 

 

 


 





Baca Juga