Selasa, 27/10/2020 21:59 WIB | Dibaca: 246 kali

Jaga Jogja Damai, Para Tokoh Resmikan Posko Janur Kuning


Sejumlah Tokoh DIY dan perwakilan berbagai komunitas masyarakat meresmikan Posko janur kuning untuk menjaga jogja tetap damai. Foto:ist

YOGYAKARTA - Posko janur kuning sebagai titik kumpul koordinasi simpul jaringan warga #JagaJogjaDamai, diresmikan oleh para tokoh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Selasa (27/10/2020) siang di Malioboro. 

Meski hujan turun sejak pagi, namun peresmian berlangsung meriah. Ratusan orang dari berbagai perwakilan komunitas hadir. Acara diawali dengan penampilan flashmob kolaborasi Laskar Kebaya Metal dan Srikandi Malioboro. Dilanjut pengalungan janur kuning sebagai simbol jaga Jogja damai oleh anggota DPRD DIY KPH. Purbodiningrat kepada sejumlah perwakilan komunitas antara lain Paguyuban PKL Malioboro, perwakilan Forum Badan Eksekutif Mahasiswa DIY (FBD) dan wakil warga Papua. Kelompok keroncong tugu dan keyboardis Yohanes turut menghangatkan suasana. 

Wakil keluarga Kraton GKR. Condrokirono yang turut hadir mengungkapkan keprihatinanannya atas anarkisme massa pada 8 Oktober silam dan berharap kejadian itu tidak terulang kembali. Menurutnya unjuk rasa dengan kekerasan bukan merupakan kharakter masyarakat DIY. Pada kesempatan itu ia mengapresiasi inisiatif gerakan sosial warga mengamankan Jogja,

“Sikap gotong royong dan kebersamaan perlu terus dirawat dan dipelihara,” imbuhnya. 

Perwakilan pengurus FBD Pancar Setyabudi Ilham Mukaromah ikut berorasi dan menyatakan sikap kalangan mahasiswa menolak kekerasan. Unjuk rasa mahasiswa yang berujung ricuh beberapa waktu lalu menurutnya telah ditunggangi pihak yang tidak bertanggungjawab.

Sebagai simbol cinta damai, Pancar yang masih tercatat sebagai mahasiswa UII membagi-bagi bunga mawar kepada peserta yang hadir. 

Sementara itu perwakilan warga Papua asal Biak John Tellis menyatakan siap turut bersinergi dengan komponen lain berpartisipasi menjaga kedamaian Jogja. Masih adanya stereotype tertentu terhadap warga pendatang menurutnya harus terus dicairkan dengan mengedepankan komunikasi dua arah. 

Slamet Santosa mewakili berbagai kelompok paguyuban PKL Malioboro mengungkapkan rasa terimakasihnya kepada warga Jogja yang terus memberikan dukungan terwujudnya kedamaian Jogja. Para pedagang mengaku banyak yang trauma dengan kejadian anarkisme. Hingga saat inipun masih banyak yang was-was jika kejadian semacam itu terulang Kembali,

“Keberadaan posko jaga Jogja diharapkan dapat turut memunculkan rasa aman khususnya di kawasan Malioboro,” ungkapnya.

Acara peresmian posko dipungkasi dengan dahar kembul nasi tumpeng dan pembagian masker kepada masyarakat. Selama acara peserta menerapkan protokol kesehatan. (pr/kt1)

Redaktur: Faisal

Berita Terkait

 





Baca Juga