Selasa, 09/03/2021 20:12 WIB | Dibaca: 360 kali

Quotes Kiai: Warna Baru Dakwah di Media Sosial


Muhammad Afifuddin

Oleh: Muhammad Afifuddin*

Salah satu tantangan terbesar dakwah di era milenial adalah menjadikan mediasosial sebagai wadah atau warna baru dalam berdakwah. Seperti pesan implisit yang nabi Ibrahim ‘Alaihissalam nasehatkan kepada kita:

“Bagi orang yang dianugerahi akal, hendaknya ia arif dalam menghadapi perkembangan jaman, mempunyai cita-cita luhur di masa depan dan arif dalam masalah Tuhannya”.

Di era milenial ini hampir seluruh manusia dari berbagai kalangan, baik anak kecil, dewasa, dan orang tua, semua menggunakan media sosial (medsos). Berdasarkan situs web Hootsuite (We are Social): Indonesian Digital Report 2020 mencatat sebagian besar dari penduduk Indonesia adalah pengguna internet, dari total 272,1 juta penduduk Indonesia, 160 jutanya adalah pengguna aktif medsos dengan prosentase (64%) dan rata-rata mereka menghabiskan waktu 3 jam, 26 menit setiap hari dalam mengonsumi medsos (internet) melalui gawai. Hal tersebut akan berdampak positif dan sebaliknya, ketika warganet belum cerdas dalam menyikapinya.

Sikap responsif terhadap situasi dan kondisi, yang secara implisit telah terkandung dalam nasehat nabi Ibrahim tersebut, perlu kita terjemahkan dalam konteks saat ini, supaya nantinya ide atau gagasan kita tidak dianggap asing oleh masyarakat. Mungkin, dulu dakwah nabi Muhammad ?alla Allah ‘Alay wa Sallam, para sahabat dan wali sanga khususnya, sebagai penyebar islam di Indonesia menggunakan metode konvensional, seperti: di dalam masjid, musala, dengan bertatap muka dalam satu majlis. Bisa jadi metode tersebut sangat efektif pada saat itu, tapi bukan berarti sekarang masih tetap relevan, sehingga kita bersikap apatis. Akan tetapi, sebagai penerus estafet perjuangan para pendahulu, sudah seharusnya kita berinovasi, mencari langkah solutif agar dakwah yang selama ini terkesan kaku (sepaneng) karena harus duduk semajlis, menjadi hal yang digandrungi oleh para kaum milenial.

Seperti apa yang dikatakan oleh KH. Ahmad Musthofa Bisri (GusMus) dalam penelitian saya, beliau mengatakan bahwa metode dakwah secara konvensional itu hanya bisa mengumpulkan beberapa orang saja, kalau pun banyak pasti sangat repot karena harus menyediakan ruang yang luas, akan tetapi jika dakwah ini disampaikan lewat medsos, sangat dimungkinkan jangkauannya akan lebih banyak. Bukan hanya orang dalam negeri saja, bahkan sampai penjuru dunia.

Para kiai, da’i, santri mempunyai peran penting dalam merespon sikap konsumtif masyarakat terhadap medsos. Mereka harus mencari langkah solutif agar bagaimana caranya medsos bisa dimanfaatkan dengan bijak. Salah satu upayanya yaitu dengan mentransfer ilmu keislaman di medsos, agar medsos diwarnai dengan kajian-kajian ilmu keislaman. Sehingga nantinya diharapkan medsos menjadi wahana baru dakwah di era milenial dengan penuh kesejukan serta sesuai dengan esensi dari dakwah itu sendiri. Banyak formulasi untuk berdakwah di medsos, bisa berupa video live streaming, audio, visual, dan tulisan. Tentu semua itu sesuai dengan bidang profesinya.

Namun menurut pengamatan saya, dakwah yang singkat dan tidak membosankan adalah lewat quotes, perpaduan antara visual dan kata-kata yang mudah diingat. Kalam- kalam hikmah tersebut, akan mampu menumbuhkan energi internal dalam diri seseorang untuk menjadi lebih baik, mereka akan selalu memegang erat dan memanivestasikannya dalam kehidupan sehari-hari sesuai apa yang dikatakan oleh kiai, da’i, santri (pendakwah) di dalam medsos.

Dengan adanya quotes-quotes atau kalam hikmah yang bertebaran di medsos, hasil dari mengutip salah seorang tokoh agama yang menjadi figur umat islam di Indonesia, maka motivasi seseorang untuk berbuat kebaikan akan semakin meningkat. Massanya pun akan jauh lebih banyak, daripada hanya sebatas penyampain dari mulut ke mulut. Selain itu tanpa disadari juga, akan menjadi stimulus terhadap semangat literasi masyarakat, khususnya umat islam. Pun juga sebagai ladang pahala bagi para penulis dan pembaca yang mengamalkan quotes- quotes dari para kiai. (*)

* Penulis adalah Mahasiswa Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah semester 8 STAI Al-Anwar Sarang.

 

Berita Terkait

 





Baca Juga