Merinding dalam Gerak yang Terjeda – Misteri Mbah Kunto Bagian 13

Cerita Bersambung Oleh: Al Ghifari*

ilustrasi
ilustrasi

SEMUA Gerak seolah terjeda. Aku mencoba memejamkan mata, berharap ketika terbuka, Mentari pagi sudah terbit. Namun lagi-lagi kegelisahan seolah menekan jantungku hingga tersa sesak. Aku tak lagi tahu cara menghibur diri agar tetap bisa tenang dengan suasana mencekam tengah malam di tempat yang sarat misteri ini.

Sejurus kemudian, suasana memang kembali terasa normal. Tak ada suara, gerakan atau tanda tanda aneh seperti sebelumnya. Hanya ada terdengar suara binatang malam. Lagi-lagi aku melirik Nelson yang benar benar sudah tenggelam dalam matrasnya tanpa gerak.

Hatiku kembali berdesir. Nelson benar benar tidur lauaknya orang mati. Matras yang ia gunakan juga seperti kantong mayat. Aku tak hendak membangunkannya. Biarlah, setidaknya ketika besok dia bangun, kondisinya sudah fit.

Sepanjang perjalanan mendaki gunung ini, kami mengalami hal-hal di luar nalar yang melipatgandakan kelelahan. Sampai kami benar benar menemukan Joglo Mbah Kuntopun, kami bekum berhasil menemui sosoknya. Tentu saja ini tidak membuat kami putus asa. Rasa penasaran benar-benar mampu mengalahkan takut dan lelah kami.

“Sreek” tiba tiba terdengar gesekan matras Nelson. Ia menggeliat dan beringsut, namun tak bangun. Aku kembali melirik ke arah Nelson sembari menyalakan senter kecil yang menyala remang.

Entah mengapa melihat wajah Nelson yang nampak pucat, bulu kudukku merinding. Namun buru-buru aku menepis pikiran burukku. Nelson baik baik saja. Ia hanya kelelahan.

Aku tak tahu bagaimana bertanggung jawab dengan keluarganya kalau terjadi sesuatu pada Nelson. Meski dia yang mengajakku ke tempat ini, namun kami hanya berdua.

Malam benar benar terasa panjang. Lama lama lelah menjalar ke seluruh tubuhku dan akupun mulai kehilangan kesadaran.

“Jay bangun sudah hampir malam”. Perlahan aku mrmbuka kelopak mataku ketika merasakan guncangan.

“Son, kamu sudah bangun?” Tanyaku dengan suara agak parau dan mata kuyu.

Nelson tak segera menjawab. Ia justru nampak keheranan. Sorot matanya memperlihatkan isyarat penuh tanya.

“Bagaimana aku bisa tidur?” Sejak tengah malam kamu tidur pulas dan aku yang berjaga. Aku sangat khawatir. Aku berkali kali membangunkanmu, tapi kamu tak bangun dan cuma mengigau, tak mau dibangunkan,” ungkapnya.

“Aku dah nggak tahan dari tengah malam sampai sore ini njagain kamu dan aku sendiri enggak bisa tidur” sambungnya.

Sontak aku terkejut mendengar jawaban Nelson. Bagaimana mungkin? Bukankah justru aku yang menjaganya semalam? Kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?

Rentetan tanya menyembul dari benakku, mungkin juga dalam hati nelson juga. Namun pada akhirnya kami hanya diam saling tatap. Keanehan keanehan yang sebelumnya kami lalui membuat kejadian ini hanya terasa sebagau sebuah pengulangan kejadian denngan versi yang berbeda.

“Sudahlah, lalu bagaimana selanjutnya Jay?” Tanya Nelson.

Akupun masih belum bisa memutuskan. Kalau benar ini sudah berganti hari, berati sepanjang siang aku tertidur atau bahkan tak sadarkan diri. Aku kembali bertemu langit tanpa sinar matahari di gunung yang menyimpan selaksa misteri ini.

“Kalau menurutmu gimana Son? Kita naik atau menunggu semalam lagi dan baru besok naik ke rumah mbah Kunto? Atau kita turun saja?” Aku balik bertanya.

Nelson nampak menekan pelipisnya. Ia nampak berpikir sebelum kemudian menjawab.

“Kalau kita turun, bukankah sia-sia kita mendaki dan melalui banyak hal yang misterius ini?” Jawabnya mantap.

Dalam hati aku menyetujui. (bersambung).

57 / 100

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com