Gofan Giomara dari Aktivis Sosial Terjun ke Politik Bermodal 3 K: Karakter, Kompetensi dan Kapasitas

Gofan Giomara (Kaus Putih) meniti karier dari aktivis sosial hingga politik. Tokoh muda Condongcatur ini mengusung prinsip 3K dalam pengabdian. Foto: Istimewa

SLEMAN – Di tengah munculnya generasi muda yang mulai mengambil peran dalam dunia politik, nama Gofan Giomara menjadi salah satu sosok yang menarik perhatian di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pria kelahiran 1994 asal Condongcatur ini membuktikan bahwa politik bukan semata-mata tentang perebutan kekuasaan, melainkan sarana untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui pengabdian yang nyata.

Perjalanan Gofan menuju dunia politik tidak berlangsung instan. Sebelum aktif di partai, ia lebih dahulu dikenal sebagai aktivis sosial yang terlibat langsung dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan di lingkungannya.

Jejak pengabdiannya dimulai saat dipercaya menjadi Ketua Pemuda Padukuhan Joho pada periode 2012 hingga 2014. Setelah itu, ia melanjutkan kiprahnya sebagai anggota Karang Taruna Condongcatur pada 2014-2019. Pengalaman tersebut menjadi bekal penting untuk memahami berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat di tingkat akar rumput.

Dedikasinya semakin terlihat ketika menjadi Pendamping Sosial Desa pada periode 2021-2024. Dalam peran tersebut, Gofan aktif melakukan pembaruan data kemiskinan, membantu akses beasiswa bagi anak putus sekolah, memfasilitasi jaminan kesehatan bagi keluarga kurang mampu, mendampingi lansia terlantar, hingga memastikan bantuan sosial tersalurkan secara merata di wilayah Condongcatur.

Baginya, kehadiran negara harus benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan. Karena itu, aktivitas sosial bukan sekadar kegiatan sukarela, melainkan bentuk nyata keberpihakan kepada kelompok rentan.

Pengalaman panjang di lapangan itulah yang kemudian membawanya masuk ke dunia politik.

Di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan), Gofan mengawali karier sebagai Sekretaris Ranting PDI Perjuangan Kalurahan Condongcatur hingga tahun 2025. Kiprahnya yang dinilai aktif dan memiliki kemampuan organisasi membuatnya mendapat kepercayaan lebih besar.

Beberapa tahun kemudian, ia ditarik ke Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Sleman sebagai anggota Badan Pemenangan Pemilu. Pada tahun 2026, ia kembali memperoleh amanah sebagai Wakil Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Pengurus Anak Cabang (PAC) PDI Perjuangan Kecamatan Depok.

Selain itu, Gofan juga tercatat dua periode terlibat dalam tim media sosial pemenangan Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Sleman. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman mengenai pentingnya komunikasi politik yang efektif di era digital.

Meski aktif berpolitik, Gofan menegaskan bahwa partai politik harus tetap menjadi jembatan antara rakyat dan pemerintah.

Menurutnya, perjalanan politik yang dijalaninya merupakan bagian dari tugas kader yang harus siap ditempatkan di berbagai posisi strategis demi kepentingan organisasi dan masyarakat.

“Partai menjadi kendaraan untuk mendengar aspirasi rakyat. Meskipun orientasinya adalah kekuasaan, parpol harus mendengar wong cilik. Memperkuat tenaga kaum marhaen. Butuhnya apa? Itu yang kita perjuangkan,” tegasnya.

Dalam pandangannya, keberhasilan seseorang dalam dunia politik tidak hanya ditentukan oleh popularitas atau kekuatan finansial. Ada tiga modal utama yang harus dimiliki setiap politisi muda.

Ia menyebutnya sebagai konsep 3K: Karakter, Kompetensi, dan Kapasitas.

Karakter menjadi fondasi pertama. Seorang politisi harus memiliki reputasi baik, integritas, serta nilai tambah yang membedakannya dari orang lain.

Selanjutnya adalah kompetensi, yakni kemampuan yang dapat diandalkan sehingga mampu bertahan dan bersaing dalam dinamika politik yang semakin kompetitif.

Sementara kapasitas berkaitan dengan pengalaman, jam terbang, dan kemampuan yang terus diasah melalui proses belajar tanpa henti.

“Paradigma itulah yang harus dikampanyekan. Kalau tiga hal itu oke, pasti menjadi orang penting,” ujarnya.

Meski memiliki perjalanan politik yang terus menanjak, Gofan mengaku tidak ingin terjebak dalam ambisi pribadi yang berlebihan.

Baginya, setiap kader harus memahami mekanisme organisasi dan menghormati proses yang berlaku di partai. Ambisi politik, menurutnya, tidak boleh melampaui aturan dan etika organisasi.

Ia memilih fokus menjalankan tugas yang diberikan serta mengalir mengikuti proses kaderisasi yang telah ditetapkan partai.

“Kalau cita-cita politik tertinggi, semua harus tunduk terhadap aturan partai. Jangan ambisi pribadi melebihi aturan organisasi. Kalau seperti itu kan offside. Tidak menghargai peran partai yang sudah membesarkan nama kita,” katanya.

Menariknya, pandangan tersebut sejalan dengan semangat Bulan Bung Karno yang setiap tahun diperingati sepanjang bulan Juni oleh PDI Perjuangan.

Bulan Bung Karno bukan sekadar momentum mengenang sosok Proklamator Republik Indonesia, tetapi juga menjadi pengingat terhadap nilai-nilai perjuangan yang diwariskannya. Mulai dari nasionalisme, Pancasila, gotong royong, hingga cita-cita membangun Indonesia yang berdaulat, berdikari, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Bagi Gofan, politik harus menjadi instrumen perjuangan untuk memperkuat rakyat kecil sebagaimana semangat yang selalu diperjuangkan Bung Karno.

Karena itu, pengabdian kepada masyarakat tetap menjadi prioritas utama dalam setiap langkah politiknya.

Di usia yang masih relatif muda, Gofan Giomara menunjukkan bahwa politik dapat tumbuh dari kepedulian sosial yang tulus. Dari aktivitas kemasyarakatan di tingkat padukuhan hingga mengemban amanah di struktur partai, ia berusaha membangun jalan pengabdian yang berpijak pada karakter, kompetensi, dan kapasitas.

Sebuah prinsip yang diyakininya akan tetap relevan bagi generasi muda yang ingin terjun ke dunia politik tanpa kehilangan idealisme dan keberpihakan kepada rakyat. (pr/kt1)

58 / 100 Skor SEO

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by rasalogi.com