Tokoh Santri Bela Fahri Hamzah Terkait Kicauan ‘Sinting 1 Muharam’

JAKARTA – Kontroversi dan polemik dalam dinamika politik di Pilpres 2014 kembali terjadi di dunia maya. Kicauan tokoh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah dalam akun twitternya @fahrihamzah yang berbunyi “Jokowi janji 1 Muharram hari santri. Demi dia terpilih 360 hari akan dijanjikan ke semua orang. Sinting!” menuai ragam reaksi publik.

Kalimat yang di tweeternya pada Kamis, 27 Juni 2014 lalu itu, menuai trolling dari banyak pihak.
Bahkan, Fachri Hamzah sempat dipanggil Bawaslu, Kamis (03/07/2014) siang.

Namun twitter kontroversial Fahri Hamzah, tersebut justru mendapat pembelaan dari pengasuh komunitas budaya Lawang Ngajeng, Gus Wahyu NH Aly. Menurut tokoh santri asal Kebumen Jawa Tengah tersebut, tulisan Fahri di akun twitter pribadinya tersebut hanyalah ekspresi gemas semata.

“Bukan kebencian, baik pada Jokowi, santri, ataupun tanggal 1 Muharram sendiri. Bagaimana Fahri bisa menghina santri, sedangkan Fahri itu juga santri. Bagaimana Fahri bisa menghina tahun baru Islam, awal bulan hijriah, yang mana Fahri orang muslim. Saya khawatir kalau twitnya Fahri dipolitisir sedemikian rupa sehingga bisa menjadi fitnah bagi pihak-pihak yang melakukan trolling,” papar Magister Politik Universitas Indonesia Jakarta ini.

Budayawan muda ‘Nyentrik’ ini juga menjelaskan, saat ini sepertinya ada upaya dari kalangan tertentu yang menggiring masyarakat untuk membudayakan latah. Menilai segala sesuatu tanpa ada perenungan, sehingga yang timbul budaya fitnah-menfitnah.

Perihal 1 Muharram dijadikan hari santri, menurut Gus Wahyu sama halnya mengurangi kandungan nilainya. Ia mengatakan, 1 Muharram memiliki kandungan sejarah yang luar biasa dan nilai yang universal, mengandung nilai persatuan semua umat dunia.

“Kalau 1 Muharam dijadikan hari santri, itu justru mengurangi nilainya. Pun kalau 1 Muharam agar jadi tanggal merah, Indonesia sendiri sudah menjadikannya hari libur nasional. Saya kira banyak santri yang tak sepakat apabila kandungan nilai dan sisi historis yang agung dari 1 Muharam dieliminir sebagai hari santri. Sebaiknya dalam konteks Pilpres ini menghindari hal-hal seperti janji yang bisa mengeliminir rasa keumatan,” tukas alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini.

Sementara dalam klarifikasinya di Bawaslu, Facri menegaskan jika kata ‘sinting’ yang ditulis di akun Twitternya itu tidak ada sama sekali niat untuk merendahkan capres nomor urut 2 Joko Widodo.

“Apalagi, kata sinting itu belakangan ditafsirkan sebagian publik untuk melecehkan kaum santri. Tidak sama sekali,” tegasnya kepada wartawan.

Sekadar mengingatkan, Fahri Hamzah diadukan tim advokasi komite pemenangan Jokowi-JK ke Bawaslu karena berkicau di akun Twitter dengan kata sinting terkait janji Jokowi atas kunjungannya ke Pondok Pesantren Babussalam, Banjarejo, Jawa Timur pada Kamis, 27 Juni 2014. Pada saat itu Jokowi menjanjikan 1 Muharam akan dijadikan sebagai Hari Santri Nasional. (ded)


Redaktur: Tarnowo

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.