Hadapi MEA 2015, Ormas Bertanggung Jawab Pertahankan Jati Diri Bangsa

YOGYAKARTA –Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan berlaku mulai 2015 mendatang akan memberikan tantangan yang tidak ringan bagi para pemimpin bangsa ini, termasuk generasi mudanya. Untuk menghadapi persaingan dengan negara-negara tetangga tersebut, maka diperlukan jiwa kepemimpinan generasi muda.

Hal itu dikatakan Pemuda Pelopor 2005, Hartanto SH.M.Hum saat menjadi pembicara dalam Pelatihan Kepemimpinan bagi organisasi masyarakat se Yogyakarta di Ruang Uatama balaikota Timoho, Sabtu (13/09/2014).

“Salah satu pedoman yang digunakan adalah, Generasi muda tidak hanya mementingkan menjadi seorang pimpinan namun lebih dari itu memeliki kapabiltas dan integritas menjadi seorang pemimpin” kata hartanto dalam keterangan pers yang diterima jogjakartanews.com, Minggu (14/09/2014)

Menurut Hartanto yang memaparkan sub tema ‘Membentuk Generasi Muda yang Berkarakter, Berbudi Luhur, dan Taat Hukum’ ada korelasi antara era keterbukaan hubungan internasional seperti MEA dengan organisasi massa (Ormas) dan undang-ungdang atau hukum yang mengaturnya.

Dikatakan akademisi Universitas Widya Mataram Yogyakarta sekaligus praktisi hukum ini, hukum terkait Ormas adalah Undang-undang Nomor 17 tahun 2013 tentang Ormas, dengan beberapa poin pentingnya yaitu definisi tentang Ormas itu sendiri.

Hartanto menjelaskan, Ormas adalah organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Kemudian, kata dia, bentuk hukum yang paling sederhana yang mengatur secara internal tiap ormas adalah Anggaran Dasar. Menurut undang-undang ini, asas Ormas yang ada di Indonesia tidak boleh bertentangan dengan Pancasila dan UUD’45.

“Ormas yang senafas dengan Pancasila dan UUD 45 tentunya akan menjadi filter sekaligus dorongan yang kuat untuk menghadapi tantangan global. Jika tidak berpegang teguh dengan Pancasila dan UUD 45, maka Indonesia sudah kehilangan jati diri, kalau demikian sudah barang tentu akan kalah bersaing dengan bangsa lain. Tak mungkin bangsa yang kehilangan jati diri akan menang bersaing,” ungkapnya.

Hartanto mengapresiasi para pemuda yang hadir dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh Kantor Kesbang Kota Yogyakarta tersebut. Dia berpesan agar para pemuda yang hadir dari berbagai ormas dan organisasi kepemudaan yang ada di Yogyakarta, memiliki kesadaran dan tanggung jawab untuk menularkan semangat generasi muda yang memiliki hati tulus, berintegritas, peduli dan sadar berbangsa dan bernegara. (pr/ian)

Redaktur: Rudi F

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.