Awas! Material Bekas Letusan Merapi 2010 Masih Banyak

YOGYAKARTA – Gunung Merapi ternyata masih menyimpan banyak material bekas letusan tahun 2010 silam pada kubah sisi selatan dan tenggara. Hal tersebut diketahui dari hasil pemotretan udara pada kubah Merapi menggunakan pesawat tanpa awak (UAV) sepanjang 18 Km dari puncak Merapi, Jum’at (17/10).

Pemotretan tersebut merupakan kerjasama antara tiga lembaga, Pusat Studi Bencana Aalam (PSBA) UGM, Pusat Teknologi Penerbangan ( Pustekbang) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan Group Riset Satelit Kedirgantaraan UGM.

Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) UGM, Dr. Djati Mardianto mengatakan saat musim hujan tiba daerah selatan dan tenggara masih berpotensi mendapatkan kiriman banjir lahar hujan.

Menurutnya, data hasil pemotretan udara pada tahun 2010 menunjukan terdapat sekitar 140 juta meter kubik deposit material letusan yang menumpuk di kubah Merapi.

“Diperkirakan baru separuh deposit material yang turun menjadi lahar hujan,” ungkapnya dalam keterangan persnya di PSBA.

Djati menjelaskan, musim penghujan mendatang, diperkirakan sekitar 70 juta meter kubik material yang masih tersisa di kubah akan menjadi lahar hujan yang akan membanjiri bantaran Sungai Gendol dan Kali Woro.

“Kami menghimbau untuk warga yang tinggal tidak jauh dari kedua bantara sungai tersebut untuk tetap waspada akan ancaman lahar hujan.  Demikian halnya dengan para penambang pasir untuk berhati-hati menambang saat memasuki musim penghujan,” imbaunya.

Dari data pemotretan, kata dia, sisi barat Merapi diperkirakan aman dari banjir lahar hujan, karena material di kubah sebelah barat Merapi hanya tinggal material halus seperti pasir dan abu.

Lebih lanjut Djati menjelaskan, hasil pemotretan Merapi yang baru saja dilakukan tersebut nantinya akan dianalisis sehingga bisa diperoleh estimasi volume deposit material Merapi yang masih tertinggal saat ini dengan melihat dinamika kubah.

Sementara Kepala Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN, Gunawan Setyo Prabowo dalam kesempatan yang sama menyampaikan penggunaan teknologi UAV untuk kebencanaan adalah suatu kebutuhan yang mendesak untuk mitigasi bencana. Sebab, kata dia, dengan melihat data yang dihasilkan bisa disusun langkah mitigasi bencana sehingga bisa mengurangi risiko bencana

“Dengan UAV bisa dihasilkan data base tentang bentuk kubah secara berkala untuk keperluan mitigasi bencana kegunungapian,” pungkasnya. (ian/kontributor)

Redaktur: Rudi F

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.