Sabar Ala Ibrahim

Oleh: Saiful Fawait*

Data Buku
Judul: Ibrahim Nabi Kekasih Allah
Penulis: Rizem Aizid
Penerbit: Saufa (Diva Group)
Cetakan I: Februari 2015
ISBN: 978-602-255-734-0
Tebal: 292 halaman

MANUSIA hidup di dunia tak akan lepas dari kesusahan dan kegelisahan, baik secara lahiriyah ataupun secara batiniyah. Hal tersebut sudah menjadi fitrah manusia dalam menjalani hidup. Adakalanya kesusahan tersebut timbul akibat masalah yang datangnya dari hubungan manusia dengan Tuhannya (internal), adakalanya juga masalah datang dari hubungan manusia dengan sesama manusia (eksternal).

Kegelisahan yang timbul antara manusia dengan Tuhannya sebenarnya bukanlah sebuah masalah, hal tersebut merupakan bentuk kecintaan Tuhan kepada hamba-Nya yang diaplikasikan dengan cara menguji hamba-Nya dengan berbagai macam cobaan yang membuat hati manusia gundah gulana. Sedangkan masalah yang terjadi antara sesama manusia merupakan yang hal lumrah yang sulit kita hindari sebagai manusia yang tak bisa hidup dengan kesendirian. Selagi manusia hidup bertetangga dengan orang lain mereka pasti pernah merasakan gesekan-gesekan yang dapat meregangkan satu dengan yang lain.

Untuk mengatasi semua itu, manusia perlu menanamkan kesabaran dalam jiwa mereka sekuat mungkin agar tidak terjadi kesenjangan dengan sesama manusia apalagi dengan Tuhannya. Sabar bagaikan lem perekat yang dapat merekatkan antar sesama manusia. Sabar juga bagaikan dua sayap yang dapat mengangkat dan meninggikan derajat manusia di sisi Tuhannya ketika mereka mampu mengatasi ujian dan cobaan Tuhannya dengan hati lapang dan penuh keikhlasan.

Hal ini dapat kita lihat dari perjalanan hidup nabi-nabi Allah yang telah sukses melewati sagala macam cobaan Tuhannya dengan hati yang lapang. Salah satunya yaitu nabi yang bergelar Kholilullah (Kekasih Allah) yaitu nabi Ibrahim AS. Berbagai macam ujian silih berganti menemani perjalanan hidup beliau, mulai dari hal-hal yang kecil sampai ujian terberat yang tak pernah dirasakan oleh manusia lain.

Untuk mengetahui perihal kesabaran nabi Ibrahim kita harus menengok kembali kepada buku-buku atau kitab-kitab yang menceritakan kisah hidup beliau. Salah satu buku yang mengisahkan kehidupan nabi Ibrahim adalah buku yang ditulis oleh Rizem Aizid dengan judul Ibrahim Nabi Kekasih Allah. Dalam buku ini penulis mengulas luas tentang beberapa sifat nabi Ibrahim yang patut diteladani oleh manusia abad modern ini. Sifat yang diurai pertama kali oleh penulis adalah sifat sabar. Namun, pertanyaannya sekarang adalah sabar seperti apa yang diwariskan oleh nabi Ibrahim? Secara garis besar ada tiga macam sabar yang harus ditiru oleh manusia yang ingin mencapai kebahagiaan dan ketenangan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.

Pertama, mampu bersabar dalam menjalani perintah Allah Swt. Kedua, sabar dalam menahan diri dari perbuatan maksiat. Ketiga, sabar dalam menghadapi segala macam penderitaan yang menimpa di dunia, (hal. 217). Dari ketiga macam sabar tersebut dapat kita artikan secara luas, sabar ketika ingin mengerjakan shalat, puasa, mengeluarkan zakat dan lain sebagainya. Dalam hal ini banyak manusia yang belum bisa mengerjakannya dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan, oleh karenanya, ketika kita mampu mengerjakannya dengan rasa sabar dan ikhlas maka Allah akan membalasnya dengan pahala yang tiada batasnya. Sebagaimana firman Allah, “Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan, bumi Allah itu luas. Sesungguhnya, hanya orang-orang sabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar [39]: 10).

Akan tetapi menurut penulis, ada pahala yang lebih besar dibandingkan bersabar dalam menjalani perintah Allah Swt. yaitu bersabar dalam meninggalkan dan menjauhi kemaksiatan. Hal demikian berangkat dari gejolak yang dimiliki oleh setiap insan yang berpotensi untuk selalu berbuat kemaksiatan. Di samping karena memang fitrah manusia, hal ini juga sangat didukung oleh makhluk yang bernama setan, rayuan dan janji manis setan sulit dihindari oleh manusia. Sehingga apabila kita mampu sabar dalam menjauhi kemaksiatan, maka berarti kita telah mampu menolak ajakan setan. Itu artinya keimanan kita akan semakin tebal. Sehingga dalam hitungan matematis, pahala yang paling tinggi nilainya adalah pahala meninggalkan kemaksiatan. Hal ini berdasarkan surat yang ditulis oleh Abdullah bin Umar kepada Musa al-Asy’ari, (hal. 218).

Seperti apapun pahala yang diberikan itu adalah rahasia yang Maha Pengasih, yang jelas sabar adalah modal yang paling utama untuk meraih kedamaian dan ketenangan dalam mengarungi perjalanan hidup ini. Oleh karena itu, mari kita belajar dari kesabaran nabi yang termasuk dalam ‘komunitas’  Ulul Azmi ini sehingga kita akan mendapatkan pahala dan termasuk hamba yang dicintai Tuhan kita.

Kisah kesabaran nabi Ibrahim ini adalah satu dari beberapa kisah yang patut kita teladani yang dijelaskan secara detail dalam buku ini. Selain membahas tentang beberapa sifat sang Kholilullah, Rizem Aizid juga menceritakan tentang perjalanan hidup beliau mulai sejak beliau mencari Tuhan sejati hingga membangun Ka’bah di Mekkah. Semoga dengan membaca perjalanan hidup manusia spektakuler dapat mengubah kisah perjalanan hidup kita. Semoga!

*Siswa Kelas Akhir MA Tahfidh Annuqayah Guluk-guluk Sumenep, Pem-Red Majalah Infitah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.