Selektif Memilih Jodoh

Oleh: Ainur Rifqi*

 

Data Buku

Judul Buku: Jodoh Dunia Akhirat

Penulis: Ikhsanul Kamil & Foezi Citra Cuaca

Penerbit: PT Mizan Pustaka

Cetakan: 2014

Tebal: 288 Halaman

ISBN: 978-602-9255-62-1

 

“Menantimu dengan kerinduan, menjemputmu dengan kekhhusukan, menikahimu dengan keimanan. Itulah caraku memuliakanmu, duhai pendamping impian”

Jodoh. Ketika mendengar kata itu, yang terlintas dalam benak kita adalah seseorang yang akan mendampingi hidup kita. Makanya tidak muhal kemudian jika manusia berlomba-lomba untuk mencari jodoh. Padahal pada hakikatnya jodoh itu telah ditentukan oleh Allah SWT.

Benar. Jodoh ditentukan oleh Allah. Tapi kalau saya bandingkan, datangnya jodoh sama halnya dengan datangnya rezeki. Rezeki datang berlandaskan usaha dan do’a. Maka sama saja jodoh juga harus berlandaskan usaha yang keras.

Tapi kemudian yang harus digaris bawahi adalah cara yang harus kita terapkan dalam tahap pencarian tersebut. Banyak orang yang salah dalam proses pencarian jodoh. Mereka hanya mencari, pacaran—tidak jelas hubungan mereka ingin dikemanakan. Bahkan yang banyak mereka hanya dijadikan permainan, Pemberi Harapan Palsu (PHP). Dalam benak mereka yang terlintas hanya hubungan sementara.

Mungkin, banyak di luaran sana yang bilang bahwa pacaran adalah masa-masa persiapan dan perkenalan untuk pernikahan yang lebih baik dan lebih langgeng. Tapi sayang, kenyataan tidak berkata demikian. Lamanya masa pacaran sama sekali tidak memiliki korelasi positif dengan kebahagiaan pernikahan seseorang. Bahkan, sebaliknya, banyak sekali pasangan yang kita temui akhirnya merasa hambar setelah menikah, karena telah ‘tereksploitasi’ sebelum menikah (hal. 68)

Berarti dapat saya katakan bahwa cari jodoh dengan cara pacaran sangat tidak menjamin akan mengantarkan kita kepada kebahagiaan nikah. Kalau boleh saya beri contoh konsep dalam pacaran; pacaran justru membiasakan diri meninggikan dan memanjakan ego, sedangkan dalam pernikahan ego harus selalu rendah; pacaran membiasakan mental konsumtif, sedangkan dalam pernikahan haruslah bermental produktif; pacaran sangat rentan akan janji palsu dan ketidaktegasan, sedangkan dalam menjalani pernikahan membutuhkan komitmen dan ketegasan.

Jadi, konsep pacaran sangat tidak cocok untuk dijadikan jalan menuju pernikahan yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Justru hal tersebut hanya melatih mindset-mindset yang kontraproduktif dengan kehidupan pernikahan itu sendiri. Setujukah pembaca jika saya katakan bahwa pacaran merupakan “cara sesat” dalam penjemputan jodoh?

Saya kira ungkapan ini perlu diapresiasi. Serta perlu kiranya kita berikan solusi terbaik untuk menemukan bagaimana metode-metode yang baik sehingga kemudian jua akan mendapatkan jodoh yang baik pula.

Sebelumnya, perlu kita renungi bahwa pada puncaknya dalam pencarian jodoh itu adalah mencari seseorang yang akan diajak nikah. Kemudian pernikahan adalah ibadah. Berarti ada hubungannya dengan Allah. Maka kita harus terlebih dahulu membujuk Tuhan agar Ia memudahkan kita untuk pencarian jodoh. Proses merayu Allah ini tidak sembarangan. Karena pernikahan adalah sunnatullah, ikhtiar yang dilakukan juga bukan ikhtiar yang biasa, namun ikhtiar yang sangat luar biasa.

Ikhsanul Kamil dan Foezi Citra Cuaca—penulis buku ini—dengan sempurna memaparkan bagaimana mencari jodoh yang benar dan selektif. Dari hasil pemantauan terhadap fenomena saat ini ia menghasilkan beberapa cara yang bagus dan baik untuk diterapkan daam proses searching jodoh. Pertama, Cleansing. Cleansing ini merupakan pensucian diri. Artinya, kita jangan berharap jodoh yang baik, suci, setia dan sebagainya. Sementara kita masih berlumuran dosa (hal.15).

Maka menjadi sebuah keharusan bagi kita untuk bersuci dari semua dosa-dosa yang telah kita lakukan di masa-masa lalu. Karena secara tidak sadar hal-hal demikian juga termasuk faktor yang menghambat pertemuan dengan jodoh kita. Jangan berharap sesuatu jika kita masih belum pantas untuk menerimanya. Ingat itu.

Kedua, Upgrading, Upgrading ini pemenuhan pembekalan diri untuk menjalankan pernikahan nanti. Tidak dapat dipungkiri, dalam menjalankan pernikahan kita harus memiliki bekal. Baik dari ilmu pegetahuan, nafaqah (bagi laki-laki), memiliki skill untuk mengarungi pernikahan yang mumpuni. Karena menjalani pernikahan ibaratkan berlayar mengarungi bahtera, sertifikasi peran seperti apa yang telah diikhtiarkan? Sudahkah layak menjadi seorang nahkoda (bagi laki-laki) ataukah menjadi seorang navigator (bagi wanita)? Karena tentunya tak mungkin hanya menjadi penumpang kapal yang bersantai tak melakukan apa-apa.

Jika pembekalan diri sudah matang, justru kita tidak usah TP (tebar pesona) kita cukup PT (pesona tebar) yang nantinya akan bersifat otomatis. Dengan sendirinya kita akan menjadi orang yang diidam-idamkan. Maka tidak perlu pusing-pusing lagi memikirkan jodoh, ia akan datang dengan sendirinya.

Ketiga, Selecting, Selecting ini tahap bagaimana sebenarnya kita memilih dan menentukan siapa yang akan menjadi pasangan sejati untuk kita. Bukan sekadar “asal-pilih”, “asal-ada”, ataupun “asal-cinta”. Karena tentunya pasangan yang kita pilih untuk menikah dengan kita adalah ia yang akan menjalani kehidupan pernikahan seumur hidp dengan kita.

Kadang-kala kita terlalu terpengaruh oleh perasaan, perasaan mengatakan “aku sayang dia, aku gak bisa ninggalin dia. Jadi dia adalah jodohku, bukan yang lain”. Kita jangan terlalu percaya terhadap perasaan. Perasaan mendekati kepada sesuatu yang tidak baik. Ikutilah hati nurani kita, jadikan hati sebagai penunjuk jalan ke mana arah kita berjalan. Di mana jodoh kita, tanyakan kepada hai nurani. Dengan pertolngan-Nya kita akan ditunjukkan kepada pilihan yang benar. In Sya’a Allah!.

Dengan ilmu serta pengalaman Ikhsanul Kamil dan Foezi Citra Cuaca dapat menjawab persoalan-persoalan yang sangat fenomenal dengan melewati karya bukunya yang berjudul Jodoh Dunia Akhirat; Merayu Allah, Menjemput dalam Taat ini. Dengan tatanan bahasa yang lebut dan mempesona membuat pembaca semakin paham makna dari apa yang disampaikan—bahwa betapa sulit dalam menemukan jodoh impian kita.

Tapi dengan trik-trik yang dipaparkan oleh canun & Fu (panggilan akrab penulis) persolan-persoalan yang mengganjal dalam hati dan pikiran dapat terjawabkan dengan detail dan sempurna. Selamat membaca!

 

* Ketua Perpustakaan PP. Annuqayah Lubangsa Selatan sekaligus siswa kelas akhir MA Tahfidh Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.