Mengurai Persoalan Leadership, Sistem, dan Nilai di HMI

Oleh: Devi Pratiwi*

NAMA Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia tidak diragukan lagi. Organisasi yang sudah berusia 68 tahun ini telah banyak menorehkan tinta emas dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Banyak tokoh nasional yang dicetak dari organisasi yang lahir berselang 2 tahun kemerdekaan, tepatnya pada 5 Februari 1947 di Yogyakarta ini. Namun apakah HMI era sekarang juga masih menunjukkan tradisi sebelumnya yang memunculkan tokoh-tokoh besar yang berkontribusi untuk bangsa dan negara? Tentu harus diakui, masih meski tak lagi banyak. Setidaknya, Ketua Umum (Ketum) Pengurus Besar HMI (PB HMI), saat ini (periode 2013-2015), drg. Arief Rosyid Hassan  masuk dalam 70 tokoh berpengaruh di Indonesia versi majalah Men’s Obsession.

Terlepas dari masa lalu dan masa sekarang, tentu sangat menarik untuk berandai-andai bagaimana HMI ke depan, mengingat sebentar lagi Kongres HMI ke XXIX akan segera digelar, rencananya di Pekan Baru, Riau dalam waktu dekat. Publik, terutama di HMI akan menunggu, siapa kira-kira Ketum PB HMI? Apa lagi Platform setelah ‘HMI Untuk Rakyat’ yang diusung Arief?

Jelang Kongres  banyak muncul nama-nama kandidat. Di Wilayah Badko Jateng DIY sendiri, penulis mendengar ada sedikitnya empat nama yang muncul, yaitu: Aristianto Zamzami (Cabang Purwokerto), Endah Cahya Imawati (Cabang Yogyakarta), Dzikri Maulana (Cabang Bulaksumur), dan Fathur Rahman (Cabang Tegal). Belum lagi di wilayah lain. Apakah para kandidat benar-benar memahami persoalan HMI sehingga menawarkan solusi terbaiknya? Kita tunggu saja.

Persoalan Indonesia, Persoalan HMI

Menurut hemat  penulis sebagai kader, persoalan di HMI tidak jauh berbeda dengan persoalan bangsa Indonesia. Yaitu, soal leadership, sistem, dan nilai. Mudah-mudahan para kandidat juga banyak yang sependapat. Asumsi penulis itu tak lepas dari sedikit kritik terhadap PB HMI Sekarang. Meski masuk dalam 70 tokoh berpengaruh di Indonesia, namun platform yang diusung Arief, yaitu HMI untuk rakyat belum benar-benar terasakan oleh rakyat. Bahkan tidak dimunculkan keberhasilan-keberhasilan Arief dalam melaksanakan 7 platform kepemimpinannya dalam majalah Men’s Obsession, sebagai salah satu indikator mengapa ia layak masuk 70 tokoh berpengaruh di Indonesia. Misalnya, seperti apa gaung HMI saat daya beli rakyat turun, harga-harga kebutuhan pokok melambung? Apa prestasi nyata PB HMI dalam memberi solusi konkret atas persoalan yang dihadapi rakyat? Tidak bisa dinafikkan tentu ada. Beberapa kader HMI di daerah-daerah masih kritis, misalnya saat kenaikan harga BBM turun aksi. PB HMI juga menggelar aksi. Namun organisasi lain juga melakukan hal yang sama bahkan banyak yang berskala nasional, serempak dilaksanakan dari pusat hingga daerah dalam waktu bersamaan. Pun kegiatan-kegiatan sosial lainnya, HMI kader HMI di berbagai daerah saat ada bencana alam, melakukan bhakti sosial. Pertanyaanya, dimana istimewanya gagasan HMI Untuk Rakyat? Bukankah sebelum-sebelumnya juga sama begitu kegiatan-kegiatan HMI? Harus diakui secara konsep ‘HMI untuk rakyat’ bagus, tapi dalam pelaksanaannya banyak yang harus dievaluasi. Artinya persoalan nilai yang tidak termanifestasikan dalam aksi yang konkret menunjukkan adanya persoalan leadership dan management.

HMI untuk ummat dan bangsa sebenarnya memang bukan konsep dan cita-cita baru. Bahkan, pada dies natalis pertama HMI di Yogyakarta, Panglima Besar Jenderal Soedirman berpesan bahwa hendaknya HMI bukan hanya Himpunan Mahasiswa Islam, melainkan Harapan Masyarakat Indonesia. Seiring perkembangan zaman, harapan masyarakat Indonesia juga bertambah. Setelah merdeka 70 tahun, tentu masyarakat berharap Bangsa indonesia semakin maju dalam berbagai bidang. Menjadi bangsa yang lebih mandiri, menjadi bangsa yang lebih makmur tertunya. Dengan demikian, tantangan HMI juga semakin lebih besar untuk mengakselerasi terwujudnya harapan masyarakat Indonesia dan cita-cita mulia HMI sebagaimana tertera dalam AD HMI Pasal 4: “Terbinanya Insan Akademis, Pencipta, Pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yg diridhoi Allah SWT”.  

Kembali ke Track: Sejalan dengan Harapan Masyarakat Indonesia

Harapan untuk HMI ke depan tentunya harus sejalan dengan harapan masyarakat Indonesia. Bukan sekadar konsep layaknya janji-janji kampanye yang menggiurkan, namun tak ditepati. Terlebih HMI bukan organisasi politik, apalagi Partai Politik. Gerakan HMI adalah gerakan moral untuk kemaslahatan ummat dan bangsa, bukan hanya untuk kemaslahatan kader, apalagi alumninya saja. Program-program PB HMI ke depan diharapkan lebih membumi, dengan gerakan konkret yang membawa angin perubahan sekaligus solusi atas pelbagai persoalan bangsa yang kian akut. Potensi kader-kader HMI yang secara kuantitas dan kualitas sangat besar haruslah dioptimalkan guna lebih terjun ke masyarakat, bersama-sama berkarya nyata serta memberikan pencerdasan dengan intelektualitasnya.

Untuk kembali ke track tersebut tentu sangat penting bagi HMI untuk mengevaluasi kembali sistem perkaderan. Metode perkaderan yang out of date dan terkesan seremonial, hanya sebagai syarat keanggotaan, atau jenjang karier di kepengurusan, harus dirombak, dan di up grade agar lebih konteks dengan kebutuhan kader dan masyarakat kekinian. Hal itu tentu bukan semata memenuhi kebutuhan pragmatis, namun yang terpenting metode-metode perkaderan harus diperkaya agar lebih memiliki ghirah untuk menanamkan nilai-nilai HMI.  
Pengkaderan yang dilakukan oleh Badan pengelola Latihan (BPL) selama ini, dengan kurikulum yang sudah tidak memungkinkan bisa dilaksanakan di semua kampus yang kulturnya beragam.

Terlebih, saat ini di internal kampus sendiri terbentur problem policy terkait lamanya kelulusan. Ini diterapkan di banyak perguruan tinggi dengan alasan demi menghadapi kompetisi dunia kerja baik nasional maupun internasional, terlebih memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Mahasiswa ‘ditekan’  harus fokus untuk menyelesaikan masa studinya tepat waktu, sehingga kesempatan berorganisasi di luar kampus terbatasi. Belum lagi, organisasi dan komunitas yang berbasis Hobi yang lebih menyenangkan, kian bervariatif. Tantangan pragmatisme dan hedonisme yang tak terelakan menjadi keniscayaan bagi HMI untuk lebih kreatif dan inovatif dalam rekruitment kader, agar melahirkan kader-kader militan dan memiliki sense of be longing pada himpunan.

Kultur akademis di HMI melahirkan pemikir dan konseptor yang handal. Setiap Ketum PB HMI telah menunjukkan kapasitas keilmuannya. Rata-rata Ketum PB, bahkan kandidat ketum PB melahirkan konsep gagasan yang sangat bagus dan menarik. Tak hanya itu, kadar keilmuan di atas rata-rata Ketum atau bahkan kandidat ketum ditunjukkan dengan kebanyakan pernah menulis Buku. Namun tentu saja itu tidak cukup, jika setiap program kerja yang sesungguhnya sangat bagus itu hanya sebatas retorika, tanpa realisasi. Banyak faktor penghambat yang dijadikan alasan, lagi-lagi biasanya soal kepemimpinan dan managemen. Oleh karenananya Siapapun ketum PB HMI ke depan tentu haruslah figur yang memiliki leadership yang kuat sehingga mampu mensinergikan setiap perangkat organisasi untuk melaksanakan dengan baik program-program kerjanya, hingga dirasakan manfaatnya oleh kader-kader HMI hingga tingkat komisariat, dan masyarakat.

*Artikel ini adalah pemenang Lomba Sayembara Menulis Karya Bagi Negeri dengan tema “Harapan Kader untuk Pengurus Besar (PB) HMI ke Depan Menuju Indonesia yang Lebih Baik”. Pemenang, adalah kader HMI Cabang Bangkalan, yang saat ini berdomisili sementara di Yogyakarta untuk kegiatan penelitian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.