Edutek  

PPDB 2019 dan Kesiapan Orang Tua Siswa

Oleh: Teguh Wiyono, M.Pd.I

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) merupakan sesuatu yang harus disiapkan dengan tepat bagi orang tua siswa maupun pihak sekolah, mengingat pembelajaran di semester dua akan segera selesai. Selain itu, PPDB merupakan pintu awal pendidikan dari seorang anak untuk menuju masa depan yang lebih baik, agar mampu hidup layak dengan bekal ilmu pengetahuanya yang diperoleh dari bangku sekolah. Penerimaan peserta didik baru atau sering dikenal dengan PPDB ditahun sebelumnya dengan sistem zonasi terdapat dampak positif dan negatif, diantaranya; pertama dampak positif. Sekolah-sekolah swasta dan sekolah negeri yang tidak favorit menjadi memiliki banyak murid, orang tua bisa menghemat biaya dimana uang saku untuk naik kendaraan tidak terlalu banyak karena sekolah dekat dengan rumah, selain itu orang tua lebih bisa memantau anaknya, anak yang kurang mampu dan memiliki SKTM bisa bersekolah di sekolah yang favorit meski nilai pas-pasan, hilangnya dikotomi sekolah favorit atau sekolah mahal karena sekolah seakan-akan sama,

Kemudian yang kedua dampak negatif, diantaranya; bagi siswa berprestasi yang tidak masuk dalam zonasi tidak dapat bersekolah yang favorit atau sekolah pilihan hal ini menjadikan siswa merasa sia-sia dari hasil usahanya ketika juara lomba dan mengikuti tambahan pelajaran/LES, tidak adanya sekolah unggulan/favorit yang biasanya menjadi rujukan atau study banding bagi sekolah yang sedang berkembang, munculnya sikap adem ayem/malas-malasan para siswa untuk belajar karena mereka merasa sangat mudah untuk bisa bersekolah di sekolah favorit, selain itu muculnya bullying di sekolah yang tadinya favorit kepada siswa yang diuntungkan dari zonasi dengan nilai pas-pasan bahkan rendah, para guru yang biasa mengajar di sekolah favorit harus mengatur strategi baru dan berfikir ekstra untuk mengatasi anak yang heterogen.

Lantas model sistem seperti apa yang dicanangkan oleh pemerintah dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun 2019 ini, apakah masih sama dengan tahun lalu?.

Kementrian pendidikan dan kebudayaan menginformasikan bahwa terdapat beberapa perbedaan antara pelaksanaan penerimaan peserta didik baru tahun pelajaran 2018/2019 dan tahun 2019/2020. Dalam Permendibud No. 51 Tahun 2018 tentang penerimaan peserta didik baru (PPDB) terdapat perbedaan diantaranya; Pertama, penghapusan SKTM. Kedua, lama domisili dalam PPDB 2018  berdasarkan alamat Kartu Keluarga (KK) yang diterbitkan minimal 6 bulan sebelumnya, sedang dalam Permendikbud baru tahun 2019 didasarkan pada alamat KK yang diterbitkan minimal 1 tahun. Ketiga, pengumuman daya tampung, untuk meningkatkan transparasi dan menghindari praktik jual beli kursi, Permendikbud baru ini mewajibkan setiap sekolah peserta PPDB 2019 untuk mengumumkan jumlah daya tampung pada  kelas 1 SD, kelas 7 SMP, dan kelas 10 SMA/SMK sesuai dengan data rombongan belajar dalam data pokok pendidikan (Dapodik). Permendikbud sebelumnya belum mengatur secara detail perihal daya tampung ini hanya menyampaikan daya tampung berdasarkan ketentuan peraturan perundangan (standar proses).

Kemudian Keempat, prioritas satu zonasi sekolah asal. Dalam peraturan PPDB tahun 2019 juga diatur mengenai kewajiban sekolah untuk memprioritaskan peserta didik yang memiliki KK atau surat keterangan domisili sesuai dengan satu wilayah asal (zonasi) yang sama dengan sekolah asal. Hal ini untuk mengantisipasi surat domisili palsu atau “bodong” yang dibuat jelang pelaksanaan PPDB. Terkait pemalusan surat mutasi domisili maupun surat mutasi kerja, serta praktik jual beli kursi, Kemendikbud akan menindak lanjuti dengan tegas hal ini karena sudah masuk dalam ranah pungli, pemalsuan, maupun penipuan akan bibawa di ranah Hukum.

Jika kita amati penerimaan peserta didik baru tahun ini memberikan angin segar bagi para siswa berprestasi dan terhambat dengan zonasi untuk bersekolah di sekolah yang diidam-idamkan.

Tanamkan Kedisiplinan

Kesiapan yang tepat bagi orang tua atau wali murid agar anaknya lulus dengan berprestasi diantaranya; Pertama, tanamkan disiplin pada anak. Disiplin sangat penting untuk menjaga konsitensi anak dalam mengulangi pelajarannya di rumah. Lakukan komunikasi serta kesepakatan kepada anak terkait dengan penetapan waktu belajar di rumah, dengan adanya komitmen tersebut peran penting orang tua adalah menindak lanjuti kesepakatan yang telah dibuat. Usahakan tidak ada toleransi ataupun mengulur waktu belajar anak. Sangat penting bagi orang tua dalam memberikan disiplin ini, tanpa adanya disiplin dan kosistensi terhadap kesepakatan waktu belajar maka anak banyak mengabaikan waktu belajarnya. Seperti diketahui banyak sekali faktor penghalang anak dalam belajar, contohnya asyik dengan gajetnya atau menonton tv padahal waktu tersebut adalah waktu yang ditentukan untuk belajar. Jika orang tua membiyarkan atau meberikan toleransi waktu belajarnya, maka diwaktu masa yang akan datang waktu belajar yang telah disepakati akan terabaikan dengan sendirinya.

Kedua, dampingi anak saat belajar di rumah. Memberikan motivasi agar mau belajar dengan tujuan anak dapat menguasai pelajarnya. Agar mendapatkan nilai atau prestasi yang memuaskan, salah satunya adalah keikutsertaan orang tua dalam mendampingi anak belajar. Tetapi dalam pendampingan tidak serta merta duduk mendampingi anak belajar, mengingat orang tua sekarang banyak yang menyuruh anaknya belajar sementara orang tua asik dengan gajetnya atau sinetron, hal tersebut bukan dikatakan pendampingan. Ketiga, ajak anak ke tempat sesuai pelajarnya. Belajar dengan menggunakan waktu bersama anak dalam mendalami pelajaran juga dapat dilakukan dengan mengajak anak kelokasi yang terkait dengan pelajarnya.

Keempat, berikan makanan 4 sehat 5 sempurna. Asupan gizi juga sangat penting dilakukan selain dari pendalaman materi. Anak yang sehat menentukan prestasi anak dalam sekolahnya. Ketika anak memiliki kesehatan yang fit, anak tidak akan mengalami ketinggalan pelajaran karena tidak masuk kelas dan anak akan mudah fokus terhadap pelajarnya karena memiliki stamina serta gizi yang mendukung. Kelima, siapkan alat pendukung dalam pendalaman pelajaran anak. Faktor lain yang sangat penting dalam membuat anak berprestasi di sekolah adalah alat pendukung agar anak lebih bersemangat dalam belajar. Misalnya; buku refrensi lain, tontonan terkait materi, ruang guru dan lain sebagainya. Kelima, arahkan masa depan anak setelah lulus untuk memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan si anak. Orang tua di sini tidak boleh memaksakan kehendaknya yaitu sekolah harus di tempat favorit.

Anak lulus berprestasi dan mendapatkan sekolah yang sesuai dengan harapan anak merupakan dambaan setiap orang tua. Maka dari itu, mari kita bersama-sama menyiapkan anak kita untuk mau belajar dengan sungguh-sungguh, agar menjadi generasi yang berkualitas. Mengingat bahwa untuk menciptakan anak berprestasi dan budi pekerti luhur tidak dilihat dari sekolahannya tetapi kesiapan pendampingan orang tua dan kecerdasan dari gurunya. (*)

*Penulis adalah dosen di Universitas Harapan Bangsa dan Universitas Terbuka Purwokerto Pada Fakultas Pendidikan

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.