Sabtu, 23/11/2013 13:55 WIB | Dibaca: 929 kali

IMM Yogya Kecam Kekerasan Aparat Kepolisian di Bima


Aksi IMM menuntut polres Bima bertanggung jawab

YOGYAKARTA - Tidak terima dengan tindakan pemukulan serta pengeroyokan oleh aparat kepolisian Polres Bima dan dan Sat Pol PP terhadap anggota Ikatan Mahasiswa Muhammadyah (IMM) 18 November 2013 di Nusa Tenggara Barat (NTB), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) IMM Yogyakarta menggalar akis solidaritas di Titik Nol Yogyakarta, Sabtu (23/11).
Tindak kekerasan terjadi saat anggota IMM NTB melakukan aksi mendesak Pemda Kabupaten Bima, menghentikan kontes goyang sensual dan erotis (Sesar), di Hotel Kalaki Beach Kabupaten Bima.
Koordinator Umum, Wildatul Jauharoh menyatakan, anggota IMM NTB melakukan aksi tersebut, karena kontes goyang sesar dianggap oleh masyarakat Bima melanggar nilai budaya, adat istiadat, dan agama.
"Tujuan dari kontes tersebut, menurut kami sudah tidak baik. Terlebih lagi menurut informasi yang saya dapat, terdapat minuman keras dan ada aparat kepolisian setempat yang ikut berpartisipasi," ujarnya usai menggelar aksi.
Melihat hal tersebut, kata Jauharoh, sebagai warga negara yang baik, pihaknya mempunyai hak untuk menolaknya. "Namun apa yang terjadi, niat baik teman kami, hanya mendapatkan pukulan dari aparat," tambahnya.
Atas tindakan represif tersebut tiga kader IMM NTB terkena peluru karet dan saat ini masih terbaring lemah di rumah sakit Kabupaten Bima. Selain itu, dua orang anggota IMM perempuan juga ikut terkena pukulan.
Jauharoh meyayangkan, sampai saat ini pihak kepolisiaan ataupun Pemerintah Kabupaten Bima belum mengeluarkan pernyataan apapun. Bahkan Jauharoh yakin, kepolisian sama sekali tidak merespons apa yang sudah dilakukan satuannya tersebut. (ynr)
Redaktur: Azwar Anas

 


 





Baca Juga